BEIJING, DDTCNews - Pemerintah China berencana memberlakukan kembali pajak konsumsi (consumption taxes) atas beberapa jenis baterai yang sebelumnya dibebaskan dari pungutan tersebut, termasuk baterai lithium-ion dan sel surya (solar cells).
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) China menyatakan pemerintah akan menerapkan kembali pajak konsumsi untuk beberapa kategori baterai secara bertahap mulai September 2026.
"Baterai lithium primer, lithium-ion, baterai primer bebas merkuri, nickel-metal hydride, dan baterai vanadium redox flow akan dikenakan pajak konsumsi sebesar 2% mulai 1 September. Tarif ini akan naik menjadi 4% mulai 1 September 2027," sebut Kemenkeu, Kamis (30/7/2026).
Kemenkeu juga mengumumkan sel surya atau sel fotovoltaik akan dikenakan pajak konsumsi sebesar 2% mulai 1 April 2027. Tarif pajak tersebut akan dinaikkan menjadi 4% pada tahun berikutnya, atau tepatnya mulai 1 April 2028.
Sementara itu, baterai yang menggunakan teknologi baru akan dibebaskan dari pajak konsumsi mulai dari 1 September hingga 31 Desember 2028.
Jenis baterai yang mendapat pembebasan tersebut meliputi baterai ion natrium, baterai solid-state, baterai perovskit, baterai tandem, sel bahan bakar (fuel cell), dan baterai galium arsenida yang digunakan pada sel fotovoltaik.
Sesuai dengan regulasi yang diterbitkan pada Februari 2015, China sebelumnya membebaskan baterai litium, fuel cell, dan sel surya dari pajak konsumsi sebesar 4% yang dikenakan atas produk baterai.
Saat pembebasan pajak untuk baterai lithium-ion diberlakukan, industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di China masih berada pada tahap awal perkembangan. Kini, negara tirai bambu itu menjadi produsen terbesar dunia untuk baterai EV dan komponen baterai.
Pemerintah China memberikan insentif pajak kepada pengusaha saat mulai mengembangkan industri baterai EV dan kendaraan elektrifikasi. Insentif diberikan bertujuan untuk menekan biaya produksi, menarik investasi, serta mempercepat adopsi EV.
Namun demikian, arah kebijakan fiskal China pelan-pelan berubah seiring dengan industri EV yang makin matang di negaranya.
Berdasarkan laporan Global EV Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA), baterai lithium iron phosphate (LFP) menyumbang lebih dari 55% dari seluruh baterai EV yang digunakan secara global pada 2025. Angka tersebut meningkat dari hampir 50% pada 2024, dan penggunaannya terkonsentrasi di China.
Seperdi dilansir dari Tax Notes International, sejumlah pelaku industri memandang kebijakan pajak konsumsi tersebut bertujuan untuk mendorong penghematan sumber daya, melindungi lingkungan, sekaligus mempercepat kemajuan teknologi. (rig)
