JAKARTA, DDTCNews - Konsumsi rumah tangga tercatat menyumbang 53,32% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dengan demikian, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026.
Namun, konsumsi rumah tangga tersebut mengalami perlambatan karena hanya tumbuh 5,06% pada kuartal II/2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga kuartal I/2026 yang tumbuh 5,52%.
"Seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif. Komponen yang memberikan kontribusi terbesar ialah konsumsi rumah tangga sebesar 53,32% dan tumbuh sebesar 5,06%," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud, Rabu (5/8/2026).
Meski melambat, lanjut Edy, konsumsi rumah tangga cenderung menguat dibandingkan dengan kuartal II/2025 yang tumbuh 4,97%. Konsumsi ini meningkat seiring dengan adanya momentum libur dan hari besar keagamaan nasional pada kuartal II/2026.
Konsumsi rumah tangga yang tumbuh tinggi antara lain terjadi pada kelompok restoran dan hotel karena didorong peningkatan konsumsi makanan pada jasa penyediaan makanan dan minuman.
Lalu, konsumsi sektor transportasi dan komunikasi juga tumbuh didorong oleh penggunaan transportasi pribadi dan pembelian kendaraan bermotor serta perbaikannya.
Perlu diketahui, berdasarkan komponen pengeluaran, PDB Indonesia terdiri atas 6 komponen, yaitu konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), ekspor, konsumsi pemerintah, konsumsi LNPRT, dan impor.
Secara terperinci, BPS mencatat PMTB berkontribusi sebesar 29,36% terhadap perekonomian dan mampu tumbuh sebesar 6,87%. Kemudian, komponen ekspor berkontribusi sebesar 23,13% terhadap perekonomian, dan tumbuh sebesar 4,13%.
Berikutnya, komponen konsumsi pemerintah berkontribusi sebesar 7,57% terhadap perekonomian, dan tumbuh tinggi mencapai 15,97%. Edy menyampaikan lonjakan konsumsi pemerintah ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai karena ada pembayaran gaji ke-13 untuk ASN, TNI dan Polri, serta ada peningkatan belanja barang dan jasa, terutama untuk program makan bergizi gratis (MBG).
Kemudian, komponen konsumsi LNPRT hanya berkontribusi sebesar 1,35% terhadap perekonomian domestik, dan tercatat tumbuh 6,93%. Terakhir, komponen impor tercatat berkontribusi sebesar -24,06% dan tumbuh 8,82%.
Berdasarkan sumber pertumbuhannya, komponen konsumsi rumah tangga pada kuartal II/2026 masih menjadi kontributor terbesar, yakni mencapai 2,67% dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29%.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 juga ditopang oleh PMBT dengan kontribusi sebesar 2,06% dan konsumsi pemerintah sebesar 1,07%.
"Sementara itu, net ekspor memberikan sumber pertumbuhan sebesar -0,78%," tutur Edy. (rig)
