JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah mengeklaim kondisi perekonomian Indonesia cenderung stabil dan kuat, dan tetap layak menjadi lokasi penanaman modal bagi investor asing maupun domestik.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono menyoroti kepercayaan investor belakangan ini sedang menurun. Dia pun mengajak jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan sama-sama membangun optimisme mengenai kondisi ekonomi nasional.
"Fundamental ekonomi kita sebenarnya sangat kuat. Kalau sekarang ada permasalahan terkait trust atau kepercayaan investor, maka kita perlu bersama-sama menjelaskan kondisi yang sebenarnya dan membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan," ujarnya, dikutip pada Jumat (26/6/2026).
Susiwijono menyampaikan ada sejumlah capaian yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia dalam keadaan stabil dan baik. Contoh, pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai 5,61% pada kuartal I/2026, meski situasi global sedang diliputi ketidakpastian dan ketegangan politik.
Menurutnya, Indonesia terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui sederet langkah strategis seperti penguatan fundamental ekonomi, peningkatan investasi, perluasan akses pasar ekspor, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
"Di tengah situasi global yang penuh tantangan, indikator makro ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang kuat," kata Susiwijono.
Selain pertumbuhan ekonomi, dia mencatat inflasi Mei 2025 sebesar 3,08% masih berada dalam sasaran, PMI manufaktur juga kembali ekspansi pada level 50.
Lalu, cadangan devisa mencapai US$144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor, dan realisasi investasi pada kuartal I/2026 mendekati Rp500 triliun.
Tidak hanya itu, Susiwijono mengatakan pemerintah juga terus memperluas akses pasar internasional dengan mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan dan kerja sama ekonomi.
Perjanjian dimaksud seperti European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), serta perjanjian lainnya dengan negara dan kawasan strategis.
Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan deregulasi dan menjalankan program debottlenecking dalam menyelesaikan hambatan yang dialami pelaku usaha, termasuk masalah perizinan berusaha.
Upaya tersebut ditempuh untuk memperbaiki iklim investasi di Tanah Air, sekaligus mendorong masuknya aliran investasi, memperluas lapangan kerja, dan mendorong aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
Ditambah pula, pemerintah berupaya mendongkrak kualitas SDM dalam negeri melalui program vokasi dan magang di sektor industri. Harapannya, program ini dapat memperkuat produktivitas tenaga kerja dan daya saing industri nasional.
"Berbagai tantangan yang kita hadapi dapat diatasi karena fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik," imbuh Susiwijono. (rig)
