JAKARTA, DDTCNews — Pemerintah berpandangan pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 sebesar 5,29% merupakan capaian positif di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Capaian ini diraih di tengah perekonomian global yang diproyeksikan hanya akan bertumbuh sebesar 3% akibat konflik geopolitik.
"Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5%. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik kita solid dan kebijakan yang ditempuh pemerintah berjalan efektif," ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip pada Kamis (6/8/2026).
Pertumbuhan ekonomi disokong oleh sektor manufaktur yang bertumbuh sebesar 18,5% serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang bertumbuh sebesar 10,6%. Pertumbuhan kedua sektor ini diklaim didorong oleh program makan bergizi gratis (MBG) dan peningkatan okupansi hotel.
Sejalan dengan peningkatan okupansi hotel, pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara tercatat mencapai 6,1%. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi tetap disokong oleh wilayah Jawa dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 56,47% dan pertumbuhan sebesar 5,65%.
Adapun sektor konstruksi tercatat tumbuh 6,68% berkat pembiayaan perumahan, pengembangan kawasan industri, dan pembangunan koperasi desa/kelurahan merah putih di seluruh daerah.
"Ini sejalan dengan apa yang kemarin digelar di Batang terkait sektor perumahan. Pembiayaan sektor perumahan ditargetkan oleh Bapak Presiden [Prabowo Subianto] mencapai 3 juta rumah," ujar Airlangga.
Berkat tingginya pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2026 tercatat mampu melebihi rata-rata global dengan capaian 5,45%.
"Dengan pertumbuhan 5,45% sepanjang satu semester ini juga di antara negara lain termasuk di Asean itu salah satu yang top. Kita kemarin lihat Vietnam yang sedikit di atas kita di 8%," ujar Airlangga. (dik)
