JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah meningkatkan kerja sama transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing negara (local currency transaction/LCT), terutama dengan mitra dagang yang tidak ingin bergantung pada dolar AS.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan mengatakan penggunaan transaksi dengan mata uang lokal terus meningkat, baik dari nilai atau volume transaksi. Selain itu, transaksi LCT juga makin diterima luas oleh pasar.
"Pada Januari–Februari 2026, nilai transaksinya mencapai sekitar US$8,45 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$3,21 miliar," katanya, dikutip pada Minggu (12/4/2026).
Ferry menuturkan LCT Indonesia terus berkembang sejak diluncurkan pada 2018. Pemanfaatan LCT juga makin luas dan meliputi berbagai sektor utama seperti manufaktur, listrik dan gas, transportasi, perdagangan, dan jasa.
Dia menerangkan peningkatan jumlah transaksi didukung makin banyaknya pengguna LCT. Pada Februari 2026, jumlahnya mencapai 14.621 pengguna. Rata-rata pengguna per bulan mencapai 16.030 pengguna, jauh di atas rata-rata bulanan pada 2025 sebanyak 9.720 pengguna.
Ferry juga melaporkan partisipasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai sekitar 10%-19% dari total LCT. Adapun LCT memungkinkan transaksi lintas batas diselesaikan langsung dalam mata uang lokal tanpa bergantung pada mata uang utama seperti dolar AS.
Lebih lanjut, penerapan LCT juga didukung 3 komponen utama, yakni fleksibilitas Foreign Exchange Administration (FEA), Mekanisme Pengawasan dan Pemantauan, serta Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).
Pemerintah RI bahkan membentuk Gugus Tugas LCT Nasional yang terdiri dari 10 kementerian dan lembaga. Gugus Tugas berfungsi untuk memperkuat koordinasi, mengembangkan kebijakan, dan mempercepat adopsi transaksi LCT, khususnya dalam kegiatan ekspor-impor.
Melalui LCT, pemerintah juga berkomitmen menyediakan fasilitas, insentif, dan penyederhanaan proses bisnis. Harapannya efisiensi meningkat, biaya transaksi berkurang, dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional dapat meluas.
"BI dan Pemerintah Indonesia bersama-sama memajukan LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry. (rig)
