JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,9% pada 2027 sejalan dengan terjaganya stabilitas ekonomi domestik serta capaian pembangunan nasional pada 2026.
Pemerintah juga akan memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peran BPI Danantara akan dioptimalkan untuk mendorong investasi strategis, disertai peningkatan efektivitas program prioritas dan perbaikan iklim investasi.
"Perekonomian Indonesia pada tahun 2027 diproyeksikan tumbuh pada rentang 5,8%-6,5% dengan proyeksi titik akan tumbuh sebesar 5,9%," tulis pemerintah dalam Buku Nota Keuangan dan RAPBN 2027, dikutip pada Rabu (19/8/2026).
Pemerintah optimistis kinerja perekonomian nasional pada 2027 akan menguat seiring dengan terjaganya stabilitas makroekonomi.
Optimisme tersebut juga didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2027 yang diperkirakan membaik dibandingkan dengan 2026. Ekonomi global diprediksi memasuki fase pemulihan yang relatif lebih stabil meski masih menghadapi sejumlah tekanan.
Pemerintah mengidentifikasi setidaknya 2 faktor yang dapat menekan perekonomian global. Pertama, ketidakpastian perdagangan yang masih tinggi akibat tensi geopolitik di berbagai kawasan, terutama Timur Tengah. Kedua, proyeksi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat oleh Federal Reserve (The Fed).
Dengan mempertimbangkan prospek perbaikan ekonomi global tersebut, pemerintah akan mengarahkan kebijakan ekonomi 2027 untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut pemerintah, akselerasi pertumbuhan ekonomi akan ditempuh melalui pelaksanaan program kerja pemerintah nasional (PKPN) secara berkelanjutan.
Selain itu, APBN akan diarahkan untuk mengalokasikan belanja negara pada program-program prioritas yang memiliki daya ungkit besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. APBN juga akan dimanfaatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan peran sektor swasta sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga akan memperkuat pengendalian inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, dan meningkatkan ketahanan sistem keuangan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkokoh fondasi perekonomian sekaligus menciptakan kepastian usaha bagi pelaku bisnis dan investor.
Secara bersamaan, Danantara diproyeksikan memainkan peran strategis dalam memperkuat efektivitas pelaksanaan kebijakan melalui pendekatan investasi yang lebih terarah pada sektor-sektor strategis dan berorientasi pada hasil (result-oriented).
Danantara diharapkan semakin memfokuskan investasi produktif pada sejumlah sektor prioritas, seperti ketahanan pangan, energi, hilirisasi, dan industrialisasi.
Pemerintah menilai investasi pada sektor-sektor tersebut penting untuk memperkuat struktur perekonomian nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah domestik.
"Berpijak pada proyeksi perekonomian global tahun 2027, terjaganya stabilitas ekonomi domestik, dan capaian pembangunan nasional pada tahun 2026, serta strategi kebijakan ekonomi dan fiskal yang ditempuh pemerintah maka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 ditargetkan sebesar 5,9%," ulas pemerintah.
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah menetapkan sejumlah asumsi makroekonomi dalam RAPBN 2027.
Inflasi pada 2027 diproyeksikan berada pada kisaran 1,5%-3,5%. Sasaran tersebut akan didukung oleh penguatan pengendalian harga pangan, koordinasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, serta sinergi dengan Bank Indonesia.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada level Rp17.500 per dolar AS. Adapun rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan mencapai 6,9%.
Stabilitas pasar keuangan diharapkan tetap terjaga melalui penguatan pasar keuangan domestik, peningkatan pasokan devisa, serta terjaganya arus modal masuk di tengah ketidakpastian global.
Untuk sektor energi, pemerintah menetapkan asumsi Indonesia crude price (ICP) sebesar US$75 per barel. Sementara itu, target lifting minyak ditetapkan sebesar 610.000 barel per hari (bph) dan lifting gas bumi sebesar 954.000 barel setara minyak per hari (boepd).
Pencapaian target lifting tersebut akan didukung melalui percepatan pengembangan lapangan minyak dan gas bumi, optimalisasi produksi, serta pemanfaatan teknologi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. (dik)
