JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Januari 2026 mencapai 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada Januari 2025 sebesar 0,76%.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan lonjakan inflasi dipengaruhi oleh low base effect atau basis perhitungan yang rendah pada tahun lalu. Hal ini terjadi lantaran pemerintah memberikan diskon tarif listrik pada Januari dan Februari 2025, sedangkan suntikan insentif tersebut disetop pada tahun ini.
"Karena ada kebijakan diskon listrik kala itu, Indeks Harga Konsumen (IHK)-nya turun. Ketika penghitungan inflasi year on year tahun berikutnya dilakukan dengan basis pembandingnya relatif rendah maka tingkat inflasi lebih tinggi," katanya, Senin (2/2/2026).
Ateng menerangkan pemberian diskon tarif listrik mampu menekan IHK. Penurunan IHK tersebut membuat level harga barang dan jasa ikut turun, bahkan di bawah tren harga normal sehingga laju inflasi pun terkendali atau bahkan terjadi deflasi.
Secara terperinci, BPS mencatat berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi utamanya didorong perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan tingkat inflasi 11,93%. Kelompok ini memberikan andil cukup tinggi terhadap keseluruhan inflasi, yakni 1,73%.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok perumahan air, listrik, dan bahan bakar rumah, yaitu tarif listrik. Komoditas lain di luar kelompok itu, yang juga memberi andil dominan adalah emas perhiasan," ujar Ateng.
Selanjutnya, BPS juga mencatat tingkat inflasi berdasarkan komponennya. Inflasi pada komponen inti mencapai 2,45%, lalu inflasi pada komponen harga diatur pemerintah mencapai 9,71%, dan inflasi pada komponen harga pangan bergejolak sebesar 1,14%.
Ateng menyebut komponen barang diatur pemerintah berkontribusi sebesar 1,77% terhadap inflasi, dengan komoditas penyumbang inflasi antara lain tarif listrik, air minum PAM di 12 wilayah, dan rokok seperti sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT).
Kemudian, komponen harga bergejolak memberikan andil inflasi sebesar 0,19%, dengan komoditas penyumbangnya ialah beras, daging ayam ras, dan bawang merah.
Kemudian, inflasi inti memberikan andil sebesar 1,59% dengan komoditas penyumbangnya ialah emas perhiasan, biaya akademi atau perguruan tinggi, sewa rumah, dan mobil.
Meski laju inflasi meningkat dan berada di atas sasaran, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai stabilitas harga tetap terjaga pada awal tahun 2026.
Sementara itu, Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengeklaim tekanan inflasi pada awal tahun ini bersifat sementara. Dia memprediksi inflasi bakal mengalami penurunan pada Maret 2026.
"Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3-5% di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi," tuturnya. (rig)
