BRASILIA, DDTCNews - Brasil menghapus pungutan bea masuk atas paket kiriman dari luar negeri dengan nilai hingga US$50 atau sekitar Rp881.000. Kebijakan tersebut memberikan jalur bebas bea bagi berbagai platform e-commerce asal Asia seperti Shein, Shopee, dan AliExpress.
Fasilitas de minimis tersebut disahkan Kongres Brasil pada 3 September 2026 melalui pemungutan suara simbolis di Senat, beberapa hari sebelum ketentuan sebelumnya berakhir. Kebijakan ini mengakhiri pengenaan bea masuk federal sebesar 20% atas pesanan dengan nilai hingga US$50.
"Kelas menengah ke atas bepergian ke luar negeri, menghabiskan US$2.000, dan tidak membayar pajak. Mengapa ketika seseorang dari kawasan perkampungan... membeli sesuatu seharga US$50, kita harus mengenakan pajak?" kata Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, dikutip pada Jumat (11/9/2026).
Pungutan bea masuk atas paket kecil di Brasil dikenal sebagai pajak blus kecil (taxa das blusinhas) karena banyak dikenakan atas pakaian murah, aksesori ponsel, dan barang kebutuhan rumah tangga yang dibeli konsumen berpenghasilan rendah.
Pemerintah Brasil sebelumnya menerapkan bea masuk 20% tersebut pada Agustus 2024 setelah pelaku industri ritel dalam negeri mengeluhkan persaingan dari barang impor yang masuk tanpa pungutan. Dalam satu tahun pertama penerapannya, pungutan tersebut menghasilkan penerimaan sekitar US$925 juta.
Lula kemudian menghapus pungutan tersebut melalui kebijakan sementara pada 12 Mei 2026. Kebijakan sementara itu berlaku sejak diterbitkan, tetapi harus mendapat persetujuan Kongres agar dapat diterapkan secara permanen.
Dia menyebut fasilitas de minimis tersebut merupakan persoalan keadilan sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Meski demikian, penghapusan bea masuk tersebut tidak berarti paket impor hingga US$50 sepenuhnya bebas pajak. PPN yang dipungut pemerintah negara bagian sebesar 17% hingga 20% tetap berlaku atas setiap barang kiriman dari luar negeri.
Sementara itu, pesanan dengan nilai US$50,01 hingga US$3.000 masih dikenai bea masuk sebesar 60%. Namun, terdapat potongan sebesar US$30 dari pajak yang terutang.
Dengan demikian, untuk pengiriman senilai US$100, konsumen dikenai bea masuk federal sebesar US$30. Nilai tersebut berasal dari tarif 60% atau US$60 yang kemudian dikurangi potongan US$30.
Penghapusan pungutan bea masuk terjadi ketika arus paket internasional ke Brasil meningkat tajam. Berdasarkan data otoritas pajak federal Brasil, sebanyak 28,36 juta paket internasional masuk ke negara tersebut pada Juni 2026.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dan meningkat 118% dibandingkan dengan Juni 2025.
Juni juga menjadi bulan pertama ketika pengiriman paket berlangsung selama 1 bulan penuh tanpa pungutan federal tersebut. Sebagai pembanding, rata-rata pengiriman hanya mencapai 15,4 juta paket per bulan selama Januari hingga April 2026.
Kementerian Keuangan Brasil memperkirakan penghapusan pungutan bea masuk akan menghilangkan potensi penerimaan negara sekitar US$360 juta pada 2026 dan hampir US$1,8 miliar pada 2028.
Penghapusan bea masuk federal diperkirakan memberikan keuntungan bagi platform e-commerce asing, khususnya perusahaan asal China yang banyak menjual barang bernilai rendah kepada konsumen Brasil.
Kebijakan tersebut berlawanan dengan langkah Amerika Serikat dan Uni Eropa yang justru memperketat atau berencana memperketat fasilitas de minimis untuk paket bernilai rendah.
Amerika Serikat telah mengakhiri fasilitas de minimis US$800 untuk barang dari China dan Hong Kong pada Mei 2025, sebelum menangguhkan fasilitas serupa untuk seluruh negara pada Agustus 2025. Uni Eropa juga bergerak untuk mempercepat penghapusan ambang batas bebas bea sebesar €150.
Kelompok industri Brasil sebelumnya telah memperingatkan barang yang tidak lagi dapat masuk melalui fasilitas de minimis di AS berpotensi dialihkan ke pasar lain yang masih memberikan akses lebih longgar.
Di sisi lain, pelaku industri menilai kebijakan tersebut menciptakan ketidakadilan karena produk asing memperoleh perlakuan pajak yang lebih ringan dibandingkan produk domestik.
"Penghapusan pungutan lebih menguntungkan produsen asing dan memberikan tekanan terutama kepada usaha kecil dalam negeri," bunyi pernyataan Konfederasi Industri Nasional Brasil dilansir scmp.com. (dik)
