Berita
Kamis, 04 Juni 2020 | 19:03 WIB
KABUPATEN SERANG
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:48 WIB
LAPORAN FTA-OECD
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:08 WIB
PROVINSI JAWA TIMUR
Kamis, 04 Juni 2020 | 17:28 WIB
PEMBIAYAAN APBN
Review
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:39 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI
Rabu, 03 Juni 2020 | 15:00 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 03 Juni 2020 | 06:57 WIB
ANALISIS PAJAK
Selasa, 02 Juni 2020 | 11:10 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Data & alat
Rabu, 03 Juni 2020 | 09:30 WIB
KURS PAJAK 3 JUNI-9 JUNI 2020
Selasa, 02 Juni 2020 | 18:04 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 27 Mei 2020 | 15:03 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Minggu, 24 Mei 2020 | 12:00 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Reportase

Apa Itu Barang Kena Cukai yang Mau Ditambah Jokowi?

A+
A-
2
A+
A-
2
Apa Itu Barang Kena Cukai yang Mau Ditambah Jokowi?

Ilustrasi pita cukai. (transform-mpi.com)

Pemerintah berencana mempermudah proses penambahan barang kena cukai (BKC) melalui RUU omnibus law perpajakan. Tak hanya itu, pemerintah juga ingin menambah tiga objek BKC baru jika RUU tersebut disahkan.

Tiga objek cukai baru itu di antaranya kantong plastik, minuman berpemanis, dan emisi karbon. Adapun saat ini, objek yang menjadi BKC baru sebanyak tiga produk, yakni etil alkohol atau etanol, minuman beralkohol, dan hasil tembakau.

Arti Cukai
Berdasarkan UU No. 39/2007, cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam UU. Secara umum, cukai dikenal dengan istilah excise, baik berupa excise tax maupun excise duty.

Baca Juga: Mitigasi Dampak Covid-19 dalam Perspektif Hukum dan Perpajakan

Merujuk ‘Dictionary of Legal Term’ karya Steven H.Gifis, excise adalah pajak atas barang manufaktur atau barang dagang juga atas lisensi untuk mengejar perdagangan tertentu atau untuk berurusan dengan komoditas tertentu.

Excise dikenakan secara langsung tanpa melalui penilaian dan diukur berdasarkan ukuran bisnis atau pendapatan yang diterima.

Sementara OECD mendefinisikan excise duties sebagai pajak khusus yang dikenakan pada jenis barang tertentu, biasanya minuman beralkohol, tembakau dan bahan bakar.

Baca Juga: Pernah Dengar Saint Kitts dan Nevis? Ini Profil Perpajakannya

Excise duties dapat dikenakan pada setiap tahap produksi atau distribusi dan umumnya dinilai dengan mengacu pada berat atau persentase atau jumlah produk.

Kemudian merujuk ‘International Tax Glossary’ terbitan IBFD, excise adalah suatu konsep longgar yang mengacu pada pajak atas suatu tindakan atau transaksi mencakup produksi, penjualan, impor atau konsumsi.

Excise umumnya dibebankan pada kegiatan tertentu seperti perjudian atau transportasi udara. Pungutan ini juga dikenakan pada produk tertentu seperti alkohol, rokok, dan bahan bakar kendaraan bermotor.

Baca Juga: Beda Penghasilan Pegawai Tetap Bersifat Teratur dan Tidak Teratur

Lebih lanjut menurut Sijbren Cnossen, cukai dikenakan diantaranya untuk meningkatkan pendapatan negara, untuk mencerminkan biaya eksternal, serta untuk mengendalikan konsumsi.

Dengan kata lain, selain meningkatkan meningkatkan pendapatan, cukai dapat dirancang untuk memenuhi tujuan kesehatan, lingkungan, ekonomi, konsumsi atau kebijakan sosial lainnya.

Cukai juga merupakan pungutan tersendiri, atau berbeda dengan PPN atau Pajak Penjualan. cukai hanya dikenakan pada produk tertentu dan bukan bagian dari klasifikasi pajak umum, bea masuk, ataupun bea keluar.

Baca Juga: Duh, Penerimaan Perpajakan 2020 Diproyeksi Turun 9,1% dari Tahun Lalu

Sedangkan untuk PPN atau Pajak Penjualan (PPn) dikenakan terhadap segala jenis konsumsi barang secara umum.

Karakteristik Barang Kena Cukai
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UU No. 39/2007, cukai dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik sebagai berikut:
1. barang-barang yang konsumsinya harus dibatasi,
2. barang-barang yang distribusinya harus diawasi,
3. barang-barang yang konsumsinya berdampak pada rusaknya lingkungan hidup,
4. sebagai sarana untuk memenuhi rasa kebersamaan keadilan di masyarakat.

Pasal 2 ayat (1) tersebut juga bisa menjadi landasan dan kepastian hukum untuk memperluas BKC atau biasa disebut ekstensifikasi BKC. Ekstensifikasi objek cukai untuk Indonesia pernah dikaji oleh DDTC dalam Working Paper DDTC No. 1919.

Baca Juga: Tinggal 2 Hari Lagi! Beri Masukan kepada DDTCNews dan Rebut Hadiahnya

Saat ini terdapat tiga barang yang termasuk dalam BKC di Indonesia, yaitu etil alkohol atau etanol; minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun termasuk konsentrat yang mengandung etil alcohol; dan hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya. (rig)

Topik : kamus, perpajakan, barang kena cukai, ruu omnibus law
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Rabu, 20 Mei 2020 | 17:00 WIB
KINERJA FISKAL
Rabu, 20 Mei 2020 | 14:58 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 18 Mei 2020 | 16:03 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 18 Mei 2020 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
berita pilihan
Kamis, 04 Juni 2020 | 19:03 WIB
KABUPATEN SERANG
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:50 WIB
KONSULTASI
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:48 WIB
LAPORAN FTA-OECD
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:39 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI
Kamis, 04 Juni 2020 | 18:08 WIB
PROVINSI JAWA TIMUR
Kamis, 04 Juni 2020 | 17:30 WIB
PAJAK DAERAH (1)
Kamis, 04 Juni 2020 | 17:28 WIB
PEMBIAYAAN APBN
Kamis, 04 Juni 2020 | 17:04 WIB
KEPABEANAN
Kamis, 04 Juni 2020 | 16:23 WIB
KOTA CIMAHI