Fokus
Literasi
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:00 WIB
PROFIL PAJAK PROVINSI SUMATRA BARAT
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 11:15 WIB
TIPS PAJAK
Data & alat
Kamis, 02 Juli 2020 | 14:26 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Rabu, 01 Juli 2020 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 1 JULI-7 JULI 2020
Selasa, 30 Juni 2020 | 14:14 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Minggu, 28 Juni 2020 | 15:12 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Reportase

Wah, Hunian Mewah Bakal Diguyur Insentif Pajak

A+
A-
2
A+
A-
2
Wah, Hunian Mewah Bakal Diguyur Insentif Pajak

Ilustrasi. (foto: Bearing Point Properties)

JAKARTA, DDTCNews – Pemerintah berencana kembali mengguyur insentif pajak untuk sektor properti, terutama untuk hunian mewah. Rencana ini menjadi suguhan beberapa media nasional pada hari ini, Kamis (22/11/2018).

Sektor yang terus menyumbang lebih dari 2,5% dari produk domestik bruto (PDB) ini akan kembali mendapat pelonggaran baik dari sisi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) maupun pajak penghasilan (PPh) pasal 22.

“Kami ingin meningkatkan usaha properti,” tegas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sesuai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Rabu (21/11/2018).

Baca Juga: Kerek Setoran Pajak, Bupati Rilis Dua Surat Edaran Sekaligus

Selain itu, beberapa media nasional juga membahas keinginan Presiden Joko Widodo agar guyuran insentif benar-benar menyasar sektor yang penting untuk penguatan industri dan perekonomian nasional.

Kabar juga datang dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang meminta agar pemerintah menunda penerapan relaksasi daftar negatif investasi (DNI). Kadin meminta agar pemerintah menunggu usulan dari para pengusaha. Hari ini, Kadin berencana mengumpulkan 124 asosiasi pengusaha.

Berikut ulasan berita selengkapnya

Baca Juga: Hingga Pukul 24.00 WIB, Semua Layanan Elektronik DJP Tak Bisa Diakses
  • Batasan Properti Mewah Bakal Dinaikkan

Pemerintah berencana menaikkan ambang batas harga properti mewah yang terkena PPnBM dari Rp20 miliar menjadi Rp30 miliar. Ini akan diatur dalam revisi Peraturan Menteri Keuangan No. 35/2017.

  • PPh Pasal 22 Properti Dipangkas

Pemerintah juga berencana memangkas tarif PPh pasal 22 untuk penjualan hunian mewah. Tarif yang berlaku saat ini sebesar 5% dari harga jual (tidak termasuk PPN dan PPnBM). Otoritas bakal memotong tarif menjadi 1%.

  • Presiden Jokowi Minta Evaluasi Berkala Insentif Perpajakan

Presiden Jokowi meminta agar ada evaluasi berkala terhadap berbagai kebijakan investasi dan insentif perpajakan. Dia ingin agar Indonesia lebih menarik dibandingkan dengan negara-negara lain sebagai tujuan investasi.

Baca Juga: Isu Perpanjangan Insentif Pajak dan Pemungutan PPN PMSE Terpopuler

“Saya minta agar kebijakan terkait investasi dan insentif perpajakan dievaluasi berkala sehingga lebih menarik dibandingkan negara-negara lain serta betul-betul bisa berjalan efektif di dalam pelaksanaannya,” katanya.

  • Prabowo Janjikan Tax Ratio 16%

Calon presiden Prabowo Subianto ingin meningkatkan penerimaan pajak menjadi 16% dari PDB selama lima tahun, jika terpilih. Dia mengaku akan menggunakan teknologi informasi untuk mengurangi hambatan dan mengefisienkan pemungutan pajak.

  • Bakal Kumpulkan 124 Asosiasi, Kadin Desak Pemerintah Tunda Revisi DNI

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani memahami tujuan pemerintah untuk merespons dinamika perekonomian. Namun, kebijakan investasi, terutama menyangkut DNI, akan mempengaruhi dunia usaha.

Baca Juga: Biaya Berlangganan Konsumen Naik Akibat PPN PMSE? Ini Kata DJP

“Detil masukannya akan kami sampaikan nanti setelah dibahas bersama asoiasi pengusaha besok [hari ini]. Karena itu, kami berharap pemerintah bisa menunda penerapan DNI,” kata Rosan.

  • Ditjen Pajak Manfaatkan Pertukaran Informasi Spontan

Sesuai amanat Perdirjen Pajak No. 24/2018, otoritas bisa mempertukarkan informasi dengan negara lain secara spontan. Aktivitas pertukaran informasi dapat dilakukan jika ada temuan beberapa aspek, salah satunya indikasi hilangnya potensi pajak yang signifikan di negara mitra.

  • Piutang PNBP Mineral dan Batubara Rp5,5 Triliun

Direktur Penerimaan Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jonson Pakpahan memaparkan piutang PNBP selama 2006-2018 mencapai Rp5,5 triliun. Nilai tersebut berasal dari 4.000 izin usaha pertambangan (IUP). Mayoritas berasal dari IUP skala kecil dan sudah tidak beroperasi lagi.

Baca Juga: 6 Juli 2020, Persidangan di Pengadilan Pajak Dibuka Kembali
  • DPR Dukung Insentif Mobil Listrik

Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan tanpa insentif, harga kendaraan listrik cenderung mahal sehingga tidak terjangkau masyarakat. Oleh karena itu, dia mendukung pemberian insentif, termasuk perpajakan, untuk industri mobil listrik. (kaw)

Topik : berita pajak hari ini, berita pajak, properti, pajak, Sri Mulyani
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 03 Juli 2020 | 11:15 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 09:26 WIB
PMK 75/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 07:57 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
berita pilihan
Sabtu, 04 Juli 2020 | 10:01 WIB
KABUPATEN KUBU RAYA
Sabtu, 04 Juli 2020 | 09:12 WIB
PELAYANAN PAJAK
Sabtu, 04 Juli 2020 | 09:01 WIB
PERPRES 72/2020
Sabtu, 04 Juli 2020 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Sabtu, 04 Juli 2020 | 07:01 WIB
PROVINSI PAPUA BARAT
Sabtu, 04 Juli 2020 | 06:01 WIB
PPN LAYANAN DIGITAL
Jum'at, 03 Juli 2020 | 19:03 WIB
SE-014/PP/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:33 WIB
HARI PAJAK 14 JULI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:32 WIB
KENORMALAN BARU
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK