JAKARTA, DDTCNews – Wajib pajak orang pribadi pengusaha tertentu atau biasa disebut dengan wajib pajak OPPT dapat membayar angsuran PPh Pasal 25 dengan tarif 0,75% dari omzet setiap bulan sebagaimana diatur dalam PMK 81/2024.
Wajib pajak OPPT adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan atau jasa, tidak termasuk jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, pada 1 atau lebih tempat kegiatan usaha yang berbeda dengan tempat tinggal wajib pajak.
“Angsuran PPh Pasal 25 untuk wajib pajak OPPT ditetapkan sebesar 0,75% dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha termasuk tempat usaha yang berada di tempat tinggal wajib pajak,” bunyi pasal 234 ayat (1) PMK 81/2024, dikutip pada Selasa (20/1/2026).
Merujuk pada Pasal 234 ayat (2) PMK 81/2024, pembayaran angsuran PPh Pasal 25 dari masing-masing tempat usaha tersebut merupakan kredit pajak atas PPh yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Wajib pajak OPPT wajib melakukan penyetoran angsuran PPh Pasal 25 secara mandiri. Penyetoran dilakukan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir. Selanjutnya, wajib pajak OPPT wajib melaporkan pajaknya paling lambat 3 bulan setelah tahun pajak berakhir.
Berikut ilustrasi kasus penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk wajib pajak OPPT:
Tuan Rizki merupakan wajib pajak orang pribadi yang memiliki usaha sebagai pedagang pengecer alat-alat dapur. Usaha Tuan Rizki berada di kota Bogor, yang mana tempat usaha dengan tempat tinggal Tuan Rizki memiliki lokasi wilayah KPP yang sama.
Pada April 2023, omzet yang dihasilkan dari kegiatan usahanya sebesar Rp30.000.000. Tuan Rizki tidak memilih menggunakan PPh Final berdasarkan PP 55/2022. Lantas, bagaimana kewajiban dan perlakuan perpajakan atas penghasilan tersebut?
Jawab:
Tuan Rizki memiliki kewajiban untuk mendaftarkan usahanya ke KPP tempat kegiatan usahanya. Berhubung tempat tinggal dan tempat usahanya memiliki lokasi yang sama, KPP akan menerbitkan NPWP domisili bagi Tuan Rizki.
Diketahui bahwa Tuan Rizki tidak menggunakan PPh Final berdasarkan PP 55/2022, sehingga setiap bulan Tuan Rizki harus menghitung angsuran PPh Pasal 25 terutang. Berikut perhitungan angsuran PPh Pasal 25 atas penghasilan yang dihasilkan dari kegiatan usaha Tuan Rizki.
Angsuran PPh Pasal 25:
0,75% x Rp30.000.000 = Rp225.000
Berdasarkan perhitungan di atas, Tuan Rizki harus membayar angsuran PPh Pasal 25 bulan Masa April sebesar Rp225.000. Penyetoran angsuran PPh Pasal 25 tersebut paling lambat disetorkan pada 15 Mei 2023.
Angsuran PPh Pasal 25 ini bersifat non final, sehingga Tuan Rizki dapat mengkreditkan angsuran PPh Pasal 25 ini pada akhir tahun. (rig)
