Berita
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 15:01 WIB
IMPOR BARANG
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 13:01 WIB
RAPBN 2021
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 12:01 WIB
BANTUAN SOSIAL
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 11:15 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Review
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:00 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 12 Agustus 2020 | 14:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 11 Agustus 2020 | 09:20 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 09 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KEPALA KKP PRATAMA JAKARTA MAMPANG PRAPATAN IWAN SETYASMOKO:
Fokus
Literasi
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 18:09 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 17:26 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:17 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:19 WIB
AKTIVITAS PEREKONOMIAN
Data & alat
Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 12 AGUSTUS-18 AGUSTUS 2020
Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:30 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 05 Agustus 2020 | 08:57 WIB
KURS PAJAK 5 AGUSTUS-11 AGUSTUS 2020
Komunitas
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 14:01 WIB
MICHAEL BUERK:
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KOMIK PAJAK
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:08 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 12 Agustus 2020 | 10:42 WIB
KOMIK PAJAK
Reportase

'Tak Masalah Mau Kucing Kuning atau Hitam'

A+
A-
4
A+
A-
4
'Tak Masalah Mau Kucing Kuning atau Hitam'

Deng Xiaoping.

PEKING, awal musim panas, 1962. Deng Xiaoping berdiri di hadapan lebih dari 1.000 pemuda dari seluruh China. Itu saat Pleno ke-7 Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) dalam Konferensi Liga Pemuda PKC. Deng sudah 6 tahun mendampingi Ketua PKC Mao Zedong sebagai Sekretaris Jenderal PKC.

Ketua Mao sendiri belum lama mundur dari jabatan Presiden, setelah program ambisiusnya Lompatan Jauh ke Depan gagal dan memicu kelaparan yang menewaskan 43 juta orang. Presiden berikutnya, Liu Shaoqi, kemudian melakukan enam langkah pemulihan ekonomi.

Pertama, memberi insentif tanah untuk swasta. Kedua, mengefisiensikan BUMN. Ketiga, memberi kewenangan perusahaan dalam produksi. Keempat, mengizinkan pemerintah lokal menetapkan target dan kuota produksi. Kelima, mengedepankan akurasi data. Keenam, mereorganisasi partai.

Baca Juga: 'Uang Pajak Judi Ini untuk Pendidikan'

Pada 1962 itu, enam langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, meski belum membalikkan situasi sepenuhnya. Namun, kondisi ekonomi perdesaan China praktis sudah mulai membaik, terlihat dari berkembangnya industri skala kecil dan menengah seperti pabrik dan peralatan pertanian.

Deng sendiri, yang mulai terbuka pada gagasan liberal, percaya pemerintah lokal harus diberikan kewenangan memilih model terbaik atas produksinya. Pemerintah lokal harus bisa mengadopsi model produksi apa pun yang dapat memfasilitasi pemulihan dan pertumbuhan produksi pertanian.

“Petani juga harus diizinkan mengadopsi model produksi apa pun yang mereka inginkan. Ini ibarat dalam pertempuran, Kamerad Liu Bocheng sering mengutip pepatah Sichuan: Tidak masalah mau kucing kuning atau kucing hitam, asalkan bisa menangkap tikus,” kata Deng dalam pidatonya.

Baca Juga: Negara Ini Gelontorkan Insentif Pajak bagi Produsen Semikonduktor

Sayang, pada 1966, Ketua Mao kumat lagi. Ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan. Bukannya kapok dengan kegagalannya terdahulu, kali ini Mao ingin menghadirkan ideologi komunis yang ‘benar’ dengan menyapu unsur kapitalis dan tradisional. Akibatnya, pemulihan ekonomi itu pun gagal.

Sebab pada masa itulah banyak budayawan, ilmuwan, teknisi, dan manajer pabrik dipenjara karena dituduh kontrarevolusi. Jutaan orang dianiaya, pengusiran, perampasan properti, perusakan situs agama dan budaya, banyak terjadi. Akibatnya, suplai pekerja dan tenaga ahli pun kian menyusut.

Upaya pengembangan teknologi untuk industrilisasi jangka panjang terhambat. Aktivitas politik lebih menyita energi ketimbang meningkatkan produktivitas. Alat transportasi untuk menunjang distribusi hasil produksi dipakai untuk mobilitas pengawal merah. Industri pun kekurangan bahan mentah.

Baca Juga: Lawan Penipuan Pajak PPN, Uni Eropa Ajak China Bikin Kesepakatan

Revolusi Kebudayaan itu sekaligus menandai kembalinya pengaruh Mao ke tampuk kekuasaan China. Kaum muda menanggapi agenda tersebut dengan membentuk kelompok-kelompok milisi. Gerakan itu lalu menyebar ke militer, buruh, PKC, hingga akhirnya ke seluruh ranah kehidupan.

Gerakan faksional ini lalu berujung pada pembersihan massal pejabat senior PKC, termasuk Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Pada saat yang sama kultus personalitas Mao kian tumbuh, dan Maoisme akhirnya menjadi ideologi baru China, sekaligus mengantarkan China jatuh ke titik terendah ekonominya.

Deng, yang disebut Ketua Mao sebagai ‘antek kapitalis terbesar kedua di partai’ setelah Liu, pada 1966 itu dicopot dari jabatannya, ditugaskan bekerja di kantin sekolah kader di Peking. Pada 1969, ia dipaksa bekerja di pabrik traktor di Xinjian, Jiangxi, hingga akhirnya kembali pada 1973.

Baca Juga: China Mulai Tagih Pajak Ekspatriat di Hong Kong dan Makau

Setelah Wakil Ketua PKC Lin Bao tewas dalam kecelakaan udara setelah gagal mengudeta Mao pada 1971, Perdana Menteri Zhou Enlai meyakinkan Mao untuk kembali membawa Deng ke politik. Mao yang tak punya pilihan lain akhirnya setuju. Pada 1974, Deng dipilih sebagai Wakil PM.

Pada 1975, Deng terpilih sebagai Wakil Ketua PKC. Sayang, setahun berikutnya Zhou meninggal. Mao lalu memilih Hua Guofeng sebagai PM. Pada tahun itu pula Mao meninggal. Kelompok reformasi yang dipimpin Deng akhirnya mulai melucuti kebijakan Mao yang berkaitan dengan Revolusi Kebudayaan.

Ia melanjutkan reformasi ekonomi yang sudah dimulai pada 1970-an, dengan privatisasi, menerapkan kawasan khusus dengan insentif pajak, menyudahi kontrol harga, dan menghapus proteksi. Hasilnya, selama 1978-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 9,5% per tahun.

Baca Juga: Tarif PPh Badan di Kawasan Bebas Hainan Dipangkas Jadi 15%

“Kita tidak akan memiliki harapan berhasil, kecuali kita melakukan segala upaya untuk membangkitkan inisiatif massa, termasuk petani dan penduduk kota. Kita bisa menemukan cara untuk merehabilitasi ekonomi nasional dalam waktu yang singkat,” kata Deng penuh percaya diri. (Bsi)

Topik : deng xiaoping, kutipan, china, ekonomi china
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 27 Maret 2020 | 10:54 WIB
KTT G20
Kamis, 26 Maret 2020 | 11:52 WIB
RICHARD MURPHY
Senin, 16 Maret 2020 | 14:26 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Jum'at, 13 Maret 2020 | 18:35 WIB
HOS TJOKROAMINOTO:
berita pilihan
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 15:01 WIB
IMPOR BARANG
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 14:01 WIB
MICHAEL BUERK:
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 13:01 WIB
RAPBN 2021
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 12:01 WIB
BANTUAN SOSIAL
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 11:15 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 10:01 WIB
PROVINSI BENGKULU
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KOMIK PAJAK
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 07:01 WIB
INSENTIF PAJAK
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 06:01 WIB
BANTUAN LANGSUNG TUNAI