Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

'Tak Masalah Mau Kucing Kuning atau Hitam'

A+
A-
3
A+
A-
3
'Tak Masalah Mau Kucing Kuning atau Hitam'

Deng Xiaoping.

PEKING, awal musim panas, 1962. Deng Xiaoping berdiri di hadapan lebih dari 1.000 pemuda dari seluruh China. Itu saat Pleno ke-7 Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) dalam Konferensi Liga Pemuda PKC. Deng sudah 6 tahun mendampingi Ketua PKC Mao Zedong sebagai Sekretaris Jenderal PKC.

Ketua Mao sendiri belum lama mundur dari jabatan Presiden, setelah program ambisiusnya Lompatan Jauh ke Depan gagal dan memicu kelaparan yang menewaskan 43 juta orang. Presiden berikutnya, Liu Shaoqi, kemudian melakukan enam langkah pemulihan ekonomi.

Pertama, memberi insentif tanah untuk swasta. Kedua, mengefisiensikan BUMN. Ketiga, memberi kewenangan perusahaan dalam produksi. Keempat, mengizinkan pemerintah lokal menetapkan target dan kuota produksi. Kelima, mengedepankan akurasi data. Keenam, mereorganisasi partai.

Baca Juga: Sri Mulyani: Ekonomi China Melambat 1%, Indonesia Bisa Anjlok 0,6%

Pada 1962 itu, enam langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, meski belum membalikkan situasi sepenuhnya. Namun, kondisi ekonomi perdesaan China praktis sudah mulai membaik, terlihat dari berkembangnya industri skala kecil dan menengah seperti pabrik dan peralatan pertanian.

Deng sendiri, yang mulai terbuka pada gagasan liberal, percaya pemerintah lokal harus diberikan kewenangan memilih model terbaik atas produksinya. Pemerintah lokal harus bisa mengadopsi model produksi apa pun yang dapat memfasilitasi pemulihan dan pertumbuhan produksi pertanian.

“Petani juga harus diizinkan mengadopsi model produksi apa pun yang mereka inginkan. Ini ibarat dalam pertempuran, Kamerad Liu Bocheng sering mengutip pepatah Sichuan: Tidak masalah mau kucing kuning atau kucing hitam, asalkan bisa menangkap tikus,” kata Deng dalam pidatonya.

Baca Juga: Dampak Virus Corona, DJBC Longgarkan Penyerahan SKA Form E dari China

Sayang, pada 1966, Ketua Mao kumat lagi. Ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan. Bukannya kapok dengan kegagalannya terdahulu, kali ini Mao ingin menghadirkan ideologi komunis yang ‘benar’ dengan menyapu unsur kapitalis dan tradisional. Akibatnya, pemulihan ekonomi itu pun gagal.

Sebab pada masa itulah banyak budayawan, ilmuwan, teknisi, dan manajer pabrik dipenjara karena dituduh kontrarevolusi. Jutaan orang dianiaya, pengusiran, perampasan properti, perusakan situs agama dan budaya, banyak terjadi. Akibatnya, suplai pekerja dan tenaga ahli pun kian menyusut.

Upaya pengembangan teknologi untuk industrilisasi jangka panjang terhambat. Aktivitas politik lebih menyita energi ketimbang meningkatkan produktivitas. Alat transportasi untuk menunjang distribusi hasil produksi dipakai untuk mobilitas pengawal merah. Industri pun kekurangan bahan mentah.

Baca Juga: Imbas Virus Corona, Negara Ini Terancam Resesi?

Revolusi Kebudayaan itu sekaligus menandai kembalinya pengaruh Mao ke tampuk kekuasaan China. Kaum muda menanggapi agenda tersebut dengan membentuk kelompok-kelompok milisi. Gerakan itu lalu menyebar ke militer, buruh, PKC, hingga akhirnya ke seluruh ranah kehidupan.

Gerakan faksional ini lalu berujung pada pembersihan massal pejabat senior PKC, termasuk Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Pada saat yang sama kultus personalitas Mao kian tumbuh, dan Maoisme akhirnya menjadi ideologi baru China, sekaligus mengantarkan China jatuh ke titik terendah ekonominya.

Deng, yang disebut Ketua Mao sebagai ‘antek kapitalis terbesar kedua di partai’ setelah Liu, pada 1966 itu dicopot dari jabatannya, ditugaskan bekerja di kantin sekolah kader di Peking. Pada 1969, ia dipaksa bekerja di pabrik traktor di Xinjian, Jiangxi, hingga akhirnya kembali pada 1973.

Baca Juga: Gara-gara Virus Corona, Setoran Pajak Cuma Tumbuh 1%

Setelah Wakil Ketua PKC Lin Bao tewas dalam kecelakaan udara setelah gagal mengudeta Mao pada 1971, Perdana Menteri Zhou Enlai meyakinkan Mao untuk kembali membawa Deng ke politik. Mao yang tak punya pilihan lain akhirnya setuju. Pada 1974, Deng dipilih sebagai Wakil PM.

Pada 1975, Deng terpilih sebagai Wakil Ketua PKC. Sayang, setahun berikutnya Zhou meninggal. Mao lalu memilih Hua Guofeng sebagai PM. Pada tahun itu pula Mao meninggal. Kelompok reformasi yang dipimpin Deng akhirnya mulai melucuti kebijakan Mao yang berkaitan dengan Revolusi Kebudayaan.

Ia melanjutkan reformasi ekonomi yang sudah dimulai pada 1970-an, dengan privatisasi, menerapkan kawasan khusus dengan insentif pajak, menyudahi kontrol harga, dan menghapus proteksi. Hasilnya, selama 1978-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 9,5% per tahun.

Baca Juga: Tebar Insentif Pajak Demi Memerangi Wabah Virus Corona, Kok Bisa?

“Kita tidak akan memiliki harapan berhasil, kecuali kita melakukan segala upaya untuk membangkitkan inisiatif massa, termasuk petani dan penduduk kota. Kita bisa menemukan cara untuk merehabilitasi ekonomi nasional dalam waktu yang singkat,” kata Deng penuh percaya diri. (Bsi)

Pertama, memberi insentif tanah untuk swasta. Kedua, mengefisiensikan BUMN. Ketiga, memberi kewenangan perusahaan dalam produksi. Keempat, mengizinkan pemerintah lokal menetapkan target dan kuota produksi. Kelima, mengedepankan akurasi data. Keenam, mereorganisasi partai.

Baca Juga: Sri Mulyani: Ekonomi China Melambat 1%, Indonesia Bisa Anjlok 0,6%

Pada 1962 itu, enam langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, meski belum membalikkan situasi sepenuhnya. Namun, kondisi ekonomi perdesaan China praktis sudah mulai membaik, terlihat dari berkembangnya industri skala kecil dan menengah seperti pabrik dan peralatan pertanian.

Deng sendiri, yang mulai terbuka pada gagasan liberal, percaya pemerintah lokal harus diberikan kewenangan memilih model terbaik atas produksinya. Pemerintah lokal harus bisa mengadopsi model produksi apa pun yang dapat memfasilitasi pemulihan dan pertumbuhan produksi pertanian.

“Petani juga harus diizinkan mengadopsi model produksi apa pun yang mereka inginkan. Ini ibarat dalam pertempuran, Kamerad Liu Bocheng sering mengutip pepatah Sichuan: Tidak masalah mau kucing kuning atau kucing hitam, asalkan bisa menangkap tikus,” kata Deng dalam pidatonya.

Baca Juga: Dampak Virus Corona, DJBC Longgarkan Penyerahan SKA Form E dari China

Sayang, pada 1966, Ketua Mao kumat lagi. Ia meluncurkan Revolusi Kebudayaan. Bukannya kapok dengan kegagalannya terdahulu, kali ini Mao ingin menghadirkan ideologi komunis yang ‘benar’ dengan menyapu unsur kapitalis dan tradisional. Akibatnya, pemulihan ekonomi itu pun gagal.

Sebab pada masa itulah banyak budayawan, ilmuwan, teknisi, dan manajer pabrik dipenjara karena dituduh kontrarevolusi. Jutaan orang dianiaya, pengusiran, perampasan properti, perusakan situs agama dan budaya, banyak terjadi. Akibatnya, suplai pekerja dan tenaga ahli pun kian menyusut.

Upaya pengembangan teknologi untuk industrilisasi jangka panjang terhambat. Aktivitas politik lebih menyita energi ketimbang meningkatkan produktivitas. Alat transportasi untuk menunjang distribusi hasil produksi dipakai untuk mobilitas pengawal merah. Industri pun kekurangan bahan mentah.

Baca Juga: Imbas Virus Corona, Negara Ini Terancam Resesi?

Revolusi Kebudayaan itu sekaligus menandai kembalinya pengaruh Mao ke tampuk kekuasaan China. Kaum muda menanggapi agenda tersebut dengan membentuk kelompok-kelompok milisi. Gerakan itu lalu menyebar ke militer, buruh, PKC, hingga akhirnya ke seluruh ranah kehidupan.

Gerakan faksional ini lalu berujung pada pembersihan massal pejabat senior PKC, termasuk Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping. Pada saat yang sama kultus personalitas Mao kian tumbuh, dan Maoisme akhirnya menjadi ideologi baru China, sekaligus mengantarkan China jatuh ke titik terendah ekonominya.

Deng, yang disebut Ketua Mao sebagai ‘antek kapitalis terbesar kedua di partai’ setelah Liu, pada 1966 itu dicopot dari jabatannya, ditugaskan bekerja di kantin sekolah kader di Peking. Pada 1969, ia dipaksa bekerja di pabrik traktor di Xinjian, Jiangxi, hingga akhirnya kembali pada 1973.

Baca Juga: Gara-gara Virus Corona, Setoran Pajak Cuma Tumbuh 1%

Setelah Wakil Ketua PKC Lin Bao tewas dalam kecelakaan udara setelah gagal mengudeta Mao pada 1971, Perdana Menteri Zhou Enlai meyakinkan Mao untuk kembali membawa Deng ke politik. Mao yang tak punya pilihan lain akhirnya setuju. Pada 1974, Deng dipilih sebagai Wakil PM.

Pada 1975, Deng terpilih sebagai Wakil Ketua PKC. Sayang, setahun berikutnya Zhou meninggal. Mao lalu memilih Hua Guofeng sebagai PM. Pada tahun itu pula Mao meninggal. Kelompok reformasi yang dipimpin Deng akhirnya mulai melucuti kebijakan Mao yang berkaitan dengan Revolusi Kebudayaan.

Ia melanjutkan reformasi ekonomi yang sudah dimulai pada 1970-an, dengan privatisasi, menerapkan kawasan khusus dengan insentif pajak, menyudahi kontrol harga, dan menghapus proteksi. Hasilnya, selama 1978-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 9,5% per tahun.

Baca Juga: Tebar Insentif Pajak Demi Memerangi Wabah Virus Corona, Kok Bisa?

“Kita tidak akan memiliki harapan berhasil, kecuali kita melakukan segala upaya untuk membangkitkan inisiatif massa, termasuk petani dan penduduk kota. Kita bisa menemukan cara untuk merehabilitasi ekonomi nasional dalam waktu yang singkat,” kata Deng penuh percaya diri. (Bsi)

Topik : deng xiaoping, kutipan, china, ekonomi china
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Jum'at, 24 Maret 2017 | 17:45 WIB
CHINA
Selasa, 14 Mei 2019 | 17:46 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Jum'at, 22 Maret 2019 | 16:53 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 17:18 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
berita pilihan
Jum'at, 21 Februari 2020 | 07:01 WIB
ADMINISTRASI PAJAK
Kamis, 20 Februari 2020 | 19:36 WIB
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Kamis, 20 Februari 2020 | 19:11 WIB
KOTA BOGOR
Kamis, 20 Februari 2020 | 18:03 WIB
ALOKASI DANA TRANSFER
Kamis, 20 Februari 2020 | 17:50 WIB
PROFIL PAJAK KOTA SURABAYA
Kamis, 20 Februari 2020 | 17:15 WIB
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Kamis, 20 Februari 2020 | 16:45 WIB
INSENTIF PAJAK
Kamis, 20 Februari 2020 | 16:26 WIB
SELEKSI CALON PROFESIONAL DDTC
Kamis, 20 Februari 2020 | 16:18 WIB
LOMBA MENULIS ARTIKEL PAJAK
Kamis, 20 Februari 2020 | 16:07 WIB
INDEKS KERAHASIAAN FINANSIAL GLOBAL