Review
Kamis, 02 Desember 2021 | 14:57 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 Desember 2021 | 12:38 WIB
TAJUK PAJAK
Selasa, 30 November 2021 | 08:13 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA
Minggu, 28 November 2021 | 10:07 WIB
Kepala KPP Pratama Gianyar Moch. Luqman Hakim
Fokus
Data & Alat
Rabu, 01 Desember 2021 | 08:17 WIB
KURS PAJAK 1 DESEMBER - 7 DESEMBER 2021
Rabu, 24 November 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 24 NOVEMBER - 30 NOVEMBER 2021
Rabu, 17 November 2021 | 08:51 WIB
KURS PAJAK 17 NOVEMBER - 23 NOVEMBER 2021
Rabu, 10 November 2021 | 07:33 WIB
KURS PAJAK 10-16 NOVEMBER 2021
Komunitas
Selasa, 30 November 2021 | 11:40 WIB
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Minggu, 28 November 2021 | 19:45 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Jum'at, 26 November 2021 | 16:17 WIB
AGENDA PAJAK - DDTC ACADEMY
Jum'at, 26 November 2021 | 16:13 WIB
UNIVERSITAS PARAHYANGAN
Reportase
Perpajakan.id

Soal Reformasi Pajak Capital Gains, Demokrat Belum Satu Suara

A+
A-
0
A+
A-
0
Soal Reformasi Pajak Capital Gains, Demokrat Belum Satu Suara

Presiden AS Joe Biden. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/FOC/djo

WASHINGTON D.C., DDTCNews - Reformasi pajak atas capital gains yang diusulkan Presiden AS Joe Biden telah membelah suara Partai Demokrat di parlemen.

Usulan Biden yang menjadi perdebatan adalah rencana menghapuskan klausul stepped-up basis yang selama ini berlaku pada ketentuan pajak atas capital gains di AS. Penghapusan stepped-up basis perlu dilakukan untuk mengurangi celah penghindaran pajak oleh orang kaya.

Sebagian anggota Partai Demokrat menyetujui usulan Biden tersebut. Namun, sebagian anggota Partai Demokrat lainnya memandang klausul tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap usaha kecil dan menengah.

Baca Juga: Sudah Ada Kantor Pajak yang Catatkan Penerimaan Lebih dari 100%

"Penghapusan stepped-up basis atas capital gains akan merugikan keluarga petani yang selama beberapa dekade telah menjalankan usaha tersebut. Kami mendesak agar sektor ini dikecualikan," kata Cindy Axne, Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Jumat (3/9/2021).

Menurut Axne dan 12 anggota Partai Demokrat lainnya, usulan penghapusan stepped-up basis akan memaksa keluarga petani dan peternak untuk menjual asetnya demi melunasi pajak atas capital gains yang dibebankan kepada mereka.

Stepped-up basis adalah ketentuan yang berlaku bila seorang wajib pajak mewariskan asetnya kepada ahli waris. Dengan stepped-up basis, apresiasi nilai aset selama wajib pajak masih hidup tak dihitung dalam menentukan pajak atas capital gains yang terutang.

Baca Juga: Kencangkan Pengawasan, Petugas Pajak Aktif Kunjungan Sampaikan SP2DK

"Karena ahli waris mewarisi aset dengan nilai sebesar harga wajar ketika pewaris meninggal maka apresiasi nilai aset ketika pewaris masih hidup menjadi tidak dipajaki," tulis Pemerintah AS pada General Explanations of the Administration’s Fiscal Year 2022 Revenue Proposals.

Pemerintah memandang klausul tersebut tidak adil dan memberikan insentif bagi wajib pajak untuk terus mempertahankan asetnya hingga meninggal guna menghindari beban pajak atas capital gains yang berlebih.

Selain menghapuskan ketentuan stepped-up basis, Biden juga mengusulkan peningkatan tarif pajak atas capital gains dari yang saat ini hanya sebesar 20% menjadi 39,6% khusus atas orang kaya dengan penghasilan di atas US$1 juta per tahun.

Baca Juga: Cara Lapor Pemanfaatan Penurunan Tarif PPh untuk Perusahaan Terbuka

Langkah ini dipandang perlu untuk meminimalisasi disparitas antara tarif PPh yang berlaku secara umum dan pajak capital gains. Perbedaan tarif yang besar antara kedua jenis pajak ini dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk melakukan penghindaran pajak. (rig)

Topik : amerika serikat, presiden as joe biden, reformasi pajak, pajak capital gains, pajak, pajak internasional

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 02 Desember 2021 | 19:00 WIB
PAPUA NUGINI

Kebijakan 2022 Ditetapkan, Tarif Cukai Rokok dan Minol Dipangkas

Kamis, 02 Desember 2021 | 18:36 WIB
PENGAWASAN PAJAK

Apakah Dapat SP2DK Pasti Harus Bayar Pajak Lagi? Ini Penjelasan DJP

Kamis, 02 Desember 2021 | 18:30 WIB
FILIPINA

Karena Pajak, KPU Didesak Coret Anak Ferdinand Marcos sebagai Capres

Kamis, 02 Desember 2021 | 18:00 WIB
BANGLADESH

Masuk Radar Pajak, Netflix Kini Wajib Setor PPN

berita pilihan

Jum'at, 03 Desember 2021 | 16:39 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Sudah Ada Kantor Pajak yang Catatkan Penerimaan Lebih dari 100%

Jum'at, 03 Desember 2021 | 16:30 WIB
KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

Kencangkan Pengawasan, Petugas Pajak Aktif Kunjungan Sampaikan SP2DK

Jum'at, 03 Desember 2021 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK

Cara Lapor Pemanfaatan Penurunan Tarif PPh untuk Perusahaan Terbuka

Jum'at, 03 Desember 2021 | 15:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

PLN Usul Insentif Pajak Mobil Listrik Ditambah, Ini Respons Kemenkeu

Jum'at, 03 Desember 2021 | 15:30 WIB
KINERJA FISKAL

PDB Per Kapita Indonesia Terus Tumbuh, Tapi Tax Ratio Masih Stagnan

Jum'at, 03 Desember 2021 | 15:11 WIB
UU HPP

Pajak Atas Natura Tak Dikenakan ke Pegawai Level Menengah-Bawah

Jum'at, 03 Desember 2021 | 15:00 WIB
PENEGAKAN HUKUM

Rugikan Negara Rp20 Miliar, 8 Bus Milik Pengemplang Pajak Disita

Jum'at, 03 Desember 2021 | 14:34 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Kewajiban Perpajakan Pedagang Online Sama dengan UMKM? Ini Kata DJP

Jum'at, 03 Desember 2021 | 14:30 WIB
UU CIPTA KERJA

Pasca-Putusan MK, Penetapan Upah Minimum Tetap Mengacu UU Ciptaker

Jum'at, 03 Desember 2021 | 14:24 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL

Investasi Masuk ke Daerah, Jokowi Minta Polri Beri Pengawalan