Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Menkeu Sebut Loyonya Penerimaan Pajak Jadi Indikasi Lesunya Ekonomi

1
1

JAKARTA, DDTCNews – Pelemahan ekonomi global mulai berdampak pada perekonomian nasional. Indikasi ini, diklaim pemerintah, terlihat dari kinerja fiskal hingga akhir April 2019. Topik tersebut menjadi bahasan beberapa media nasional pada hari ini, Jumat (17/5/2019).

Saat merilis APBN Kita terkait data kinerja APBN 2019 hingga akhir April, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku mulai mewaspadai indikasi pelemahan ekonomi nasional yang tercermin dari lesunya realisasi pendapatan negara.

“Kami melihat tanda-tanda perekonomian mengalami penurunan yang terefleksi dalam penerimaan pajak yang tumbuh melemah. Ekonomi mengalami tekanan dan melemah, tapi tidak masuk zona negatif. Kami harus mulai waspada,” jelasnya.

Baca Juga: Kerek Tax Ratio, Rekomendasi 2 Lembaga Ini Jangan Dilupakan

Realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2019 tercatat senilai Rp530,7 triliun atau 24,5% dari target Rp2.165,1 triliun. Realisasi ini hanya mencatatkan pertumbuhan sekitar 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, pendapatan negara per akhir April 2018 tercatat tumbuh 13,3%.

Adapun realisasi penerimaan pajak hingga akhir April 2019 tercatat hanya mampu tumbuh 1,02% secara tahunan. Performa ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,89%.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Ini 5 Kelompok Biaya yang Bisa Dapat Super Tax Deduction
  • Defisit Anggaran Sudah 0,63% PDB

Lesunya kinerja penerimaan pajak hingga April 2019 membuat realisasi defisit APBN sudah mencapai Rp101,04 triliun atau 0,63% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, defisit APBN baru mencapai Rp54,9 triliun atau 0,37% PDB.

Sri Mulyani mengatakan bahwa realisasi defisit tersebut dinilai stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar Rp102 triliun, lantaran peningkatan pos penerimaan dan belanja seimbang. Dia memastikan bahwa posisi defisit anggaran akan terus dijaga agar mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah yakni sebesar 1,84% dari PDB.

“Realisasi defisit APBN masih terkendali,” ujarnya.

Baca Juga: Genjot Investasi, Sri Mulyani Sebut Indonesia Butuh 3 Aspek Ini
  • Terpapar Efek Restitusi dan Impor

Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan penerimaan hingga April 2019.Pertama, adanya kebijakan restitusi dipercepat. Kedua, melemahnya kegiatan impor.

“Pertumbuhan penerimaan tidak sama seperti tahun lalu alasan utama adalah restitusi yang dipercepat. Selain itu, impor melambat secara drastis dari tahun lalu karena faktor policy pemerintah,” katanya.

  • BI Tahan Suku Bunga Acuan

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang mulai memanas telah berimbas pada nilai tukar rupiah dan kinerja perdagangan. Hal ini membuat Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 6%. Dosis kebijakan moneter ini diyakini masih cukup akomodatif untuk memacu perekonomian nasional.

Baca Juga: Luncurkan BAS Online, Ini Harapan Sri Mulyani
  • Pemerintah Terbitkan Samurai Bonds

Prospek positif pasar Jepang memicu pemerintah untuk menerbitkan surat utang negara (SUN) berdenominasi yen atau yang sering disebut Samurai Bonds senilai 177 miliar yen. Kali ini, pemerintah mengemisi Samurai Bonds bertenor panjang yakni 15 tahun dan 2- tahun.

“Ini merupakan respons dari indikasi adanya permintaan dari para investor Jepang. Pasar Jepang relatif stabil,” kata Direktur SUN Loto S. Ginting.

Baca Juga: Soal Sistem Teritorial, DJP: Kita Matangkan Agar Tidak Kontraproduktif

“Kami melihat tanda-tanda perekonomian mengalami penurunan yang terefleksi dalam penerimaan pajak yang tumbuh melemah. Ekonomi mengalami tekanan dan melemah, tapi tidak masuk zona negatif. Kami harus mulai waspada,” jelasnya.

Baca Juga: Kerek Tax Ratio, Rekomendasi 2 Lembaga Ini Jangan Dilupakan

Realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2019 tercatat senilai Rp530,7 triliun atau 24,5% dari target Rp2.165,1 triliun. Realisasi ini hanya mencatatkan pertumbuhan sekitar 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, pendapatan negara per akhir April 2018 tercatat tumbuh 13,3%.

Adapun realisasi penerimaan pajak hingga akhir April 2019 tercatat hanya mampu tumbuh 1,02% secara tahunan. Performa ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,89%.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Ini 5 Kelompok Biaya yang Bisa Dapat Super Tax Deduction
  • Defisit Anggaran Sudah 0,63% PDB

Lesunya kinerja penerimaan pajak hingga April 2019 membuat realisasi defisit APBN sudah mencapai Rp101,04 triliun atau 0,63% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, defisit APBN baru mencapai Rp54,9 triliun atau 0,37% PDB.

Sri Mulyani mengatakan bahwa realisasi defisit tersebut dinilai stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar Rp102 triliun, lantaran peningkatan pos penerimaan dan belanja seimbang. Dia memastikan bahwa posisi defisit anggaran akan terus dijaga agar mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah yakni sebesar 1,84% dari PDB.

“Realisasi defisit APBN masih terkendali,” ujarnya.

Baca Juga: Genjot Investasi, Sri Mulyani Sebut Indonesia Butuh 3 Aspek Ini
  • Terpapar Efek Restitusi dan Impor

Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan penerimaan hingga April 2019.Pertama, adanya kebijakan restitusi dipercepat. Kedua, melemahnya kegiatan impor.

“Pertumbuhan penerimaan tidak sama seperti tahun lalu alasan utama adalah restitusi yang dipercepat. Selain itu, impor melambat secara drastis dari tahun lalu karena faktor policy pemerintah,” katanya.

  • BI Tahan Suku Bunga Acuan

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang mulai memanas telah berimbas pada nilai tukar rupiah dan kinerja perdagangan. Hal ini membuat Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 6%. Dosis kebijakan moneter ini diyakini masih cukup akomodatif untuk memacu perekonomian nasional.

Baca Juga: Luncurkan BAS Online, Ini Harapan Sri Mulyani
  • Pemerintah Terbitkan Samurai Bonds

Prospek positif pasar Jepang memicu pemerintah untuk menerbitkan surat utang negara (SUN) berdenominasi yen atau yang sering disebut Samurai Bonds senilai 177 miliar yen. Kali ini, pemerintah mengemisi Samurai Bonds bertenor panjang yakni 15 tahun dan 2- tahun.

“Ini merupakan respons dari indikasi adanya permintaan dari para investor Jepang. Pasar Jepang relatif stabil,” kata Direktur SUN Loto S. Ginting.

Baca Juga: Soal Sistem Teritorial, DJP: Kita Matangkan Agar Tidak Kontraproduktif
Topik : berita pajak hari ini, berita pajak, penerimaan pajak, defisit anggaran, Sri Mulyani
Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Minggu, 15 September 2019 | 16:20 WIB
PMK 128/2019
Minggu, 15 September 2019 | 16:15 WIB
PERTEMUAN MENKEU EROPA
Minggu, 15 September 2019 | 16:01 WIB
TARIF CUKAI ROKOK
Sabtu, 14 September 2019 | 15:12 WIB
PMK 128/2019
berita pilihan
Sabtu, 03 November 2018 | 13:40 WIB
WORLDWIDE TAX SYSTEM
Kamis, 22 November 2018 | 16:19 WIB
WORLD TRANSFER PRICING
Jum'at, 25 Agustus 2017 | 12:05 WIB
WORKSHOP PAJAK INTERNASIONAL
Selasa, 10 Oktober 2017 | 16:01 WIB
WORKSHOP PAJAK INTERNASIONAL
Selasa, 02 Agustus 2016 | 20:02 WIB
WIEF KE-12
Selasa, 11 April 2017 | 14:01 WIB
WAMENKEU:
Kamis, 12 September 2019 | 19:08 WIB
WAFATNYA BJ HABIBIE
Senin, 05 Juni 2017 | 13:52 WIB
VIETNAM
Rabu, 15 Agustus 2018 | 10:40 WIB
VAT REFUND
Kamis, 16 Agustus 2018 | 17:11 WIB
VAT REFUND