Review
Rabu, 27 Januari 2021 | 16:05 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 26 Januari 2021 | 09:08 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 24 Januari 2021 | 08:01 WIB
KEPALA BAPENDA DKI JAKARTA M. TSANI ANNAFARI:
Rabu, 20 Januari 2021 | 14:18 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Rabu, 27 Januari 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 27 JANUARI - 2 FEBRUARI 2021
Senin, 25 Januari 2021 | 17:51 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 16:43 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 20 JANUARI - 26 JANUARI 2021
Reportase
Perpajakan.id

Menkeu Sebut Loyonya Penerimaan Pajak Jadi Indikasi Lesunya Ekonomi

A+
A-
1
A+
A-
1
Menkeu Sebut Loyonya Penerimaan Pajak Jadi Indikasi Lesunya Ekonomi

JAKARTA, DDTCNews – Pelemahan ekonomi global mulai berdampak pada perekonomian nasional. Indikasi ini, diklaim pemerintah, terlihat dari kinerja fiskal hingga akhir April 2019. Topik tersebut menjadi bahasan beberapa media nasional pada hari ini, Jumat (17/5/2019).

Saat merilis APBN Kita terkait data kinerja APBN 2019 hingga akhir April, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku mulai mewaspadai indikasi pelemahan ekonomi nasional yang tercermin dari lesunya realisasi pendapatan negara.

“Kami melihat tanda-tanda perekonomian mengalami penurunan yang terefleksi dalam penerimaan pajak yang tumbuh melemah. Ekonomi mengalami tekanan dan melemah, tapi tidak masuk zona negatif. Kami harus mulai waspada,” jelasnya.

Baca Juga: Target Penerimaan Meleset, Menkeu Usul DPR Bentuk Panja Perpajakan 

Realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2019 tercatat senilai Rp530,7 triliun atau 24,5% dari target Rp2.165,1 triliun. Realisasi ini hanya mencatatkan pertumbuhan sekitar 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, pendapatan negara per akhir April 2018 tercatat tumbuh 13,3%.

Adapun realisasi penerimaan pajak hingga akhir April 2019 tercatat hanya mampu tumbuh 1,02% secara tahunan. Performa ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,89%.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Tarif Pajak Dinaikkan, Realisasi Penerimaan PPN Melonjak 29%
  • Defisit Anggaran Sudah 0,63% PDB

Lesunya kinerja penerimaan pajak hingga April 2019 membuat realisasi defisit APBN sudah mencapai Rp101,04 triliun atau 0,63% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, defisit APBN baru mencapai Rp54,9 triliun atau 0,37% PDB.

Sri Mulyani mengatakan bahwa realisasi defisit tersebut dinilai stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar Rp102 triliun, lantaran peningkatan pos penerimaan dan belanja seimbang. Dia memastikan bahwa posisi defisit anggaran akan terus dijaga agar mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah yakni sebesar 1,84% dari PDB.

“Realisasi defisit APBN masih terkendali,” ujarnya.

Baca Juga: Kemenkeu Upayakan Tidak Terjadi Shortfall Penerimaan Perpajakan 2021
  • Terpapar Efek Restitusi dan Impor

Dirjen Pajak Robert Pakpahan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan penerimaan hingga April 2019.Pertama, adanya kebijakan restitusi dipercepat. Kedua, melemahnya kegiatan impor.

“Pertumbuhan penerimaan tidak sama seperti tahun lalu alasan utama adalah restitusi yang dipercepat. Selain itu, impor melambat secara drastis dari tahun lalu karena faktor policy pemerintah,” katanya.

  • BI Tahan Suku Bunga Acuan

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang mulai memanas telah berimbas pada nilai tukar rupiah dan kinerja perdagangan. Hal ini membuat Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 6%. Dosis kebijakan moneter ini diyakini masih cukup akomodatif untuk memacu perekonomian nasional.

Baca Juga: Peredaran Rokok Ilegal Melonjak, Sri Mulyani Singgung Tarif Cukai
  • Pemerintah Terbitkan Samurai Bonds

Prospek positif pasar Jepang memicu pemerintah untuk menerbitkan surat utang negara (SUN) berdenominasi yen atau yang sering disebut Samurai Bonds senilai 177 miliar yen. Kali ini, pemerintah mengemisi Samurai Bonds bertenor panjang yakni 15 tahun dan 2- tahun.

“Ini merupakan respons dari indikasi adanya permintaan dari para investor Jepang. Pasar Jepang relatif stabil,” kata Direktur SUN Loto S. Ginting.

Baca Juga: Rencana Tambah Barang Kena Cukai Baru, Sri Mulyani Minta Dukungan DPR
Topik : berita pajak hari ini, berita pajak, penerimaan pajak, defisit anggaran, Sri Mulyani
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Sabtu, 23 Januari 2021 | 08:01 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Jum'at, 22 Januari 2021 | 08:45 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Kamis, 21 Januari 2021 | 18:21 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Kamis, 21 Januari 2021 | 14:56 WIB
PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL
berita pilihan
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:50 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:36 WIB
RPP UU CIPTA KERJA
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:00 WIB
NIGERIA
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:00 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:37 WIB
PENGADILAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:35 WIB
KAMUS HUKUM PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:34 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:18 WIB
AMERIKA SERIKAT
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 16:54 WIB
LEMBAGA PENGELOLA INVESTASI