Fokus
Data & Alat
Selasa, 24 Mei 2022 | 20:00 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Reportase
Perpajakan ID

Harga Rokok Makin Tidak Terjangkau, Ini Penjelasan Ditjen Bea Cukai

A+
A-
1
A+
A-
1
Harga Rokok Makin Tidak Terjangkau, Ini Penjelasan Ditjen Bea Cukai

Kepala Subdirektorat Tarif Cukai dan Harga Dasar Direktorat Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC Akbar Harfianto. 

JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) mencatat kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) yang diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini telah membuat harga rokok makin tidak terjangkau.

Berdasarkan perhitungan affordability index yang dilakukan DJBC, indeks tingkat keterjangkauan rokok pada 2020 telah mencapai 12,6% atau lebih tinggi dibandingkan dengan 2018 dan 2019 sebesar 11,8% dan 11,3%.

"Harga-harga rokok tersebut sesuai dengan kebijakannya, yakni makin tidak terjangkau," kata Akbar Harfianto, Kepala Subdirektorat Tarif Cukai dan Harga Dasar Direktorat Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC, dikutip pada Senin (8/11/2021).

Baca Juga: Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Sebagai catatan, indeks keterjangkauan rokok ditentukan berdasarkan harga transaksi pasar dari rokok yang dibagi dengan PDB per kapita per hari. Adapun harga transaksi pasar (hasil survei) merupakan harga rata-rata 1 bungkus rokok isi 16 batang.

Akbar menjelaskan rokok yang makin tidak terjangkau tercermin pada beban pajak yang dikenakan atas rokok. Total beban pajak rokok di Indonesia sudah mencapai 62% yang disumbang dari cukai, PPN, dan pajak rokok yang dikenakan pemerintah daerah.

"Sekitar 62% masuk ke negara. Sisanya masuk ke industri, untuk profit, dan seterusnya," ujarnya.

Baca Juga: Restitusi Pajak Diprediksi Meningkat, DJP: Berkat Tingginya Impor

Akbar menambahkan beban pajak rokok di Indonesia tersebut sudah melampaui beban pajak rokok, baik di negara berpenghasilan menengah atas sekitar 52% maupun negara berpenghasilan menengah bawah sekitar 45%.

Menurutnya, beban pajak atas rokok di Indonesia bahkan sudah mendekati rata-rata beban pajak yang berlaku di negara berpenghasilan tinggi yaitu sebesar 69%. (rig)

Baca Juga: Lakukan Reformasi Fiskal Saat Pandemi, Wamenkeu: Kita Bangsa Pemenang
Topik : kebijakan cukai, cukai rokok, tarif cukai, ditjen bea cukai, DJBC, cukai, rokok, nasional

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 24 Mei 2022 | 13:49 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Termasuk Insentif Perpajakan, Serapan Dana PEN Baru Rp80,79 Triliun

Selasa, 24 Mei 2022 | 13:00 WIB
IHPS II/2021

Soal Program Kartu Prakerja Hingga Insentif Pajak, Begini Temuan BPK

Selasa, 24 Mei 2022 | 11:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Lebih dari 14.000 Peserta PPS Punya Harta Rp10 Miliar-Rp100 Miliar

berita pilihan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:54 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPN Perbedaan Waktu Pengakuan Transaksi Pembelian

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Omzet Rp500 Juta Tak Kena Pajak, DJP: Bukan untuk UMKM WP Badan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Surat Tanggapan dalam Proses Gugatan Pajak?

Jum'at, 27 Mei 2022 | 16:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Sudah Ikut PPS, Gubernur Ajak Warganya Juga Ungkapkan Hartanya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

DJP Leburkan Kegiatan Pemeriksaan & Pengawasan, Ternyata Ini Tujuannya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK

Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak di e-Faktur 3.2

Jum'at, 27 Mei 2022 | 14:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Restitusi Pajak Diprediksi Meningkat, DJP: Berkat Tingginya Impor