Fokus
Data & Alat
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Selasa, 10 Mei 2022 | 14:30 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Reportase
Perpajakan ID

Gara-Gara Kebijakan Pajak Biden, Pasar Saham Diprediksi Anjlok

A+
A-
1
A+
A-
1
Gara-Gara Kebijakan Pajak Biden, Pasar Saham Diprediksi Anjlok

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden. ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Segar/wsj/cfo

WASHINGTON, DDTCNews – Bursa saham AS S&P 500 diproyeksikan ambles 10% jika Partai Demokrat berhasil menguasai 2 kursi Senat dari daerah pemilihan Georgia yang masih diperebutkan oleh Partai Demokrat dan Partai Republik.

Chief Investment Strategist dari Oppenheimer Asset Management, John Stoltzfus mengatakan kemenangan Partai Demokrat di Georgia akan memuluskan rencana presiden terpilih AS Joe Biden untuk meningkatkan tarif pajak korporasi.

"Ketidakpastian pajak akan membebani bursa efek setidaknya hingga Biden dapat memastikan detail kebijakan pajak yang akan dia dorong," katanya, dikutip Selasa (5/1/2020).

Baca Juga: Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

Menurut Stoltzfus, proposal reformasi pajak yang diusung Biden masih belum jelas sehingga belum dapat diperhitungkan seberapa besar dampak kenaikan tarif yang diusung Biden terhadap dunia usaha. Meski begitu, kondisi ini bisa menimbulkan ketidakpastian dalam bursa efek.

Saat ini, Partai Republik masih menguasai 50 dari 100 kursi di Senat AS, sedangkan Partai Demokrat tercatat telah menguasai 46 kursi.

Terdapat 2 senator independen yang masih menduduki kursi Senat, yakni Bernie Sanders dan Angus King. Meski begitu, kedua anggota senat itu terafiliasi dengan Partai Demokrat dan tergabung dalam Democratic Caucus of the United States Senate.

Baca Juga: Cryptocurrency Makin Populer, Negara Eropa Ini Ingin Kenakan Pajak

Alhasil, bila Partai Demokrat mampu memenangkan 2 kursi Senat di Georgia, Partai Demokrat bakal sepenuhnya menjadi mayoritas pada Kongres AS dan Senat AS. Kondisi ini dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang menginginkan Partai Republik tetap dominan di Senat.

“Pasar lebih menginginkan Partai Republik menjadi partai yang dominan di Senat guna mengimbangi Partai Demokrat yang telah menguasai Kongres AS dan jabatan eksekutif,” tutur Stoltzfus seperti dilansir businessinsider.com.

Seperti diketahui, Biden akan meningkatkan tarif PPh badan dari 21% menjadi 28%. Biden berupaya membalikkan kebijakan Donald Trump yang menurunkan PPh badan dari 35% menjadi 21% melalui Tax Cuts and Jobs Act (TCJA).

Baca Juga: Pangkas Tarif Cukai BBM, Setoran ke Negara Ini Hilang Rp188 Triliun

Tax Policy Center memperkirakan tambahan penerimaan negara akibat kenaikan tarif yang diusung oleh Biden bisa mencapai US$1,3 triliun. Namun, jika Partai Republik tetap menjadi partai mayoritas di Senat AS, rencana besar Biden dapat dipastikan bakal terganjal. (rig)

Topik : amerika serikat, joe biden, kebijakan pajak, pasar saham, pajak internasional

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

berita pilihan

Senin, 23 Mei 2022 | 18:25 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Catat! DJP Makin Gencar Kirim Email Imbauan PPS Berbasis Data Rekening

Senin, 23 Mei 2022 | 18:09 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Perhatian! DJP Evaluasi e-Bupot, Ada Klasifikasi Jumlah Bukti Potong

Senin, 23 Mei 2022 | 18:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu PPFTZ 01, PPFTZ 02, dan PPFTZ 03?

Senin, 23 Mei 2022 | 17:39 WIB
KINERJA FISKAL

APBN Surplus Rp103,1 Triliun Per April 2022, Begini Kata Sri Mulyani

Senin, 23 Mei 2022 | 17:25 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Batas Akhir SPT Tahunan, Penerimaan PPh Badan April 2022 Tumbuh 105,3%

Senin, 23 Mei 2022 | 17:11 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Penerimaan Pajak Tumbuh 51,49% di April 2022, Sri Mulyani: Sangat Kuat

Senin, 23 Mei 2022 | 17:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

Senin, 23 Mei 2022 | 16:45 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Sri Mulyani Sebut Inflasi April 2022 Tertinggi dalam 2 Tahun Terakhir