Hari Pajak 2026
Perpajakan Challange June 2026 - Ver 2
[News] Lomba Artikel Pajak 2026
[Perpajakan] SDSN 2026
[News] Banner Whatsapp Channel
APBN 2026

Purbaya Klaim Utang 40,54% PDB Masih Aman, Dikelola Pakai 4 Strategi

Aurora K. M. Simanjuntak
Selasa, 14 Juli 2026 | 16.30 WIB
Purbaya Klaim Utang 40,54% PDB Masih Aman, Dikelola Pakai 4 Strategi
<table style="width:100%"> <tbody> <tr> <td> <p>Ilustrasi.&nbsp;</p> </td> </tr> </tbody> </table>

JAKARTA, DDTCNews - Rasio utang pemerintah mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir, yakni mencapai 39,21% PDB pada 2023, lalu naik menjadi 39,81% PDB pada 2024, dan tercatat sebesar 40,54% PDB pada 2025.

Walaupun mengalami kenaikan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim posisi utang pemerintah tersebut tetap terkendali dan berada dalam batas aman.

"Meski rasio utang meningkat dari 39,81% PDB di 2024 menjadi 40,54% PDB di 2025, posisi ini masih jauh dari batas maksimal 60% PDB sesuai undang-undang, sehingga APBN kita tetap aman dan terkendali," ujarnya dalam rapat paripurna DPR, Selasa (14/7/2026).

Sementara itu, posisi utang pemerintah pada 31 Maret 2026 tercatat senilai Rp9.920,42 triliun atau mencapai 40,75% PDB. Jumlah itu terdiri atas utang berbentuk pinjaman senilai Rp1.267,52 triliun dan surat berharga negara (SBN) senilai Rp8.652,89 triliun.

Dalam mengelola utang di masa mendatang, Purbaya telah menyusun 4 butir strategi. Pertama, melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan fiskal guna menjaga keseimbangan primer dalam posisi surplus.

Sebagai informasi, keseimbangan primer adalah selisih antara pendapatan negara dan belanja primer. Adapun yang dimaksud dengan belanja primer adalah belanja negara dikurangi belanja pembayaran bunga utang.

Keseimbangan primer merupakan indikator yang menggambarkan kemampuan pemerintah dalam membayar pokok dan bunga utang dengan pendapatan negara. Jika pemerintah mampu membukukan surplus keseimbangan primer, artinya pemerintah dapat menggunakan pendapatan negara untuk membayar seluruh atau sebagian pokok dan bunga utang.

Sebaliknya, jika keseimbangan primer berada pada zona negatif, pemerintah harus menerbitkan utang baru untuk membayar pokok dan bunga utang periode sebelumnya.

Kedua, pemerintah akan mengelola utang dengan mengoptimalkan penerimaan negara. Ketiga, meningkatkan kualitas belanja negara.

Keempat, pemerintah akan mengelola portofolio utang aktif dengan cara menukar surat utang lama yang akan segera jatuh tempo dengan seri surat utang baru (debt switching), buyback utang, dan konversi pinjaman.

"Dengan strategi ini, pemerintah optimistis rasio utang dapat dikendalikan bertahap, sambil menjaga keberlanjutan fiskal dan agenda pembangunan kita," kata Purbaya. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.