KEBIJAKAN PEMERINTAH

Tekan PNBP, Kemenkeu Harap Penurunan Produksi Batu Bara Hati-Hati

Muhamad Wildan
Jumat, 13 Maret 2026 | 12.00 WIB
Tekan PNBP, Kemenkeu Harap Penurunan Produksi Batu Bara Hati-Hati
<p>Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.</p>

JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berharap penurunan kuota produksi batu bara dan nikel ditetapkan secara hati-hati.

Kehati-hatian diperlukan mengingat kedua komoditas tersebut berkontribusi besar terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mineral dan batu bara (minerba).

"Mengingat kontribusi kedua sektor tersebut cukup signifikan, kita harapkan rencana penurunan kuota produksi akan kita perhatikan dengan sangat baik, untuk batu bara dan juga nikel," ujar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, dikutip pada Jumat (13/3/2026).

Untuk saat ini, realisasi PNBP minerba pada Januari-Februari 2026 masih mampu mencapai Rp22,2 triliun dengan pertumbuhan sebesar 18,8%.

Pertumbuhan PNBP dimaksud didorong oleh kenaikan tarif PNBP mineral dan harga mineral acuan. Meski demikian, volume produksi batu bara tercatat sudah terkontraksi sebesar 10,5%.

Penurunan volume produksi batu bara dilatarbelakangi oleh upaya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui pemangkasan kuota produksi pada rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026.

Menurut Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, penyesuaian volume produksi bertujuan menyelaraskan suplai dan permintaan serta menjaga stabilitas harga batu bara.

"Upaya penyelarasan antara suplai dan permintaan ini juga dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga komoditas batubara, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan cadangan energi bagi generasi mendatang," ujar Bahlil.

Bahlil pun berpandangan produksi batu bara secara masif seyogianya ditunda bila komoditas dimaksud belum bisa dijual dengan harga yang wajar.

"Kalau memang belum laku dengan harga baik, jangan dulu kita produksi secara masif, kasihan anak cucu kita ini. Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin barang sudah habis karena kelakuan kita, sudah gitu jual murah lagi," ujar Bahlil. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.