JAKARTA, DDTCNews - Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada Januari-April 2026 tercatat senilai Rp171,1 triliun atau tumbuh sebesar 20,0%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan PNBP menggambarkan aktivitas ekonomi tetap berjalan positif. Kinerja PNBP juga sudah mencapai 37,3% dari target pada APBN 2026 senilai Rp459,2 triliun.
"Saya pikir akan turun karena banyak orang bilang di bulan April kondisi melambat. Ternyata enggak nih. Ini menunjukkan semuanya ada tetap kinerja ekonomi yang kuat. Tidak ada indikasi perlambatan domestic demand sama sekali dari data ini," katanya dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip pada Rabu (20/5/2026).
Purbaya memerinci PNBP SDA terealisasi Rp82,1 triliun atau tumbuh 83,1%. Pertumbuhan PNBP SDA utamanya didorong oleh kenaikan harga mineral berupa nikel, tembaga, emas, perak, dan alumunium.
Kemudian, PNBP K/L terealisasi Rp58,2 triliun atau melonjak 49,2%. Hal itu terjadi seiring dengan besarnya kontribusi pendapatan jasa komunikasi dan informasi serta pendapatan denda di bidang kehutanan hasil kerja satgas PKH.
Sementara itu, realisasi PNBP BLU mencapai Rp29,9 triliun dengan pertumbuhan sebesar 26,6%, terutama karena kenaikan pendapatan jasa pelayanan kesehatan pada Kementerian Kesehatan dan tarif pungutan ekspor kelapa sawit dan turunannya.
Sebagai catatan, data PNBP tersebut tidak memperhitungkan penerimaan dividen BUMN, yang kini dikelola langsung oleh Danantara. Apabila dividen BUMN turut diperhitungkan, realisasi PNBP adalah Rp171,3 triliun atau tumbuh 11,6%.
Pada Januari tahun lalu, pemerintah masih menerima PNBP dalam bentuk dividen interim dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dengan berdirinya Danantara pada Februari 2025, dividen BUMN tidak lagi diterima oleh pemerintah dalam bentuk PNBP. (dik)
