Fokus
Literasi
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:00 WIB
PROFIL PAJAK PROVINSI SUMATRA BARAT
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 11:15 WIB
TIPS PAJAK
Data & alat
Kamis, 02 Juli 2020 | 14:26 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Rabu, 01 Juli 2020 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 1 JULI-7 JULI 2020
Selasa, 30 Juni 2020 | 14:14 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Minggu, 28 Juni 2020 | 15:12 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Reportase

12 Negara UE Tolak Proposal Kewajiban Perusahaan Ungkap Laba & Pajak

A+
A-
1
A+
A-
1
12 Negara UE Tolak Proposal Kewajiban Perusahaan Ungkap Laba & Pajak

Ilustrasi.

BRUSSEL, DDTCNews – Irlandia Bersama 11 negara anggota Uni Eropa (UE) lainnya menentang usulan proposal yang akan memaksa perusahaan multinasional untuk mengungkapkan jumlah laba serta besaran pajak yang mereka bayarkan di 28 negara anggota.

Elena Gaita, pegawai senior bidang kebijakan di anti-corruption charity Transparency International mengatakan penentangan itu dapat memicu kemarahan. Pasalnya, masih saja terdapat negara anggota UE yang menempatkan kepentingan perusahaan raksasa di atas kepentingan warga negara.

“Di seluruh penjuru UE, kita melihat masyarakat tidak senang dengan perusahaan multinasional, karena telah menyembunyikan pajak yang mereka bayar di negara tempat mereka beroperasi,” katanya.

Baca Juga: Waduh, AS Sisir Produk-Produk Eropa untuk Dikenai Bea Masuk Tambahan

Usulan proposal tersebut dirancang untuk menyoroti bagaimana raksasa digital global – seperti Google, Apple, Facebook, dan Amazon – dapat menghindari pembayaran pajak. Bahkan, penghindaran pajak yang dilakukan dapat mencapai US$500 miliar (setara Rp7,1 kuadriliun) per tahun.

Hal tersebut lantaran perusahaan tersebut mengalihkan keuntungannya dari negara bertarif pajak tinggi – seperti Inggris, Perancis dan Jerman – menuju yurisdiksi bebas pajak atau bertarif pajak rendah seperti Irlandia, Luksemburg, dan Malta.

Irlandia menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari peraturan pajak yang berlaku saat ini. Sebab, Pulau Zamrud ini telah menjadi tuan rumah bagi kantor yang menghimpun pendapatan dan keuntungan dari banyak perusahaan multinasional di seluruh UE.

Baca Juga: Sah! Uni Eropa Bentuk Sub-Komite Urusan Pajak

Adapun Irlandia dijadikan destinasi karena memungkinkan perusahaan digital global membayar pajak perusahaan dengan tarif sebesar 6,25%. Tarif tersebut pastinya sangat rendah dibandingkan dengan tarif 19% yang berlaku di Inggris.

Keputusan Irlandia untuk menentang proposal tersebut mencuat setelah pengawas pajak dan pengeluaran Irlandia memperingatkan ekonomi negara itu bisa runtuh jika ada penindasan global terhadap penghindaran pajak

Namun, Dewan Penasihat Fiskal Irlandia mewanti-wanti bahwa ekonomi Irlandia terlalu bergantung pada pajak yang dibayarkan oleh perusahaan multinasional. Bahkan, separuh dari seluruh pajak perusahaan yang diterima Pemerintah Irlandia berasal dari 10 perusahaan global.

Baca Juga: Uni Eropa Setujui Proposal Insentif Fiskal Senilai Rp79,6 Triliun

Selain Irlandia, ada pula negara lain yang telah mengambil sikap dengan menetapkan negaranya sebagai kawasan bertarif pajak rendah. Negara tersebut mengklaim dapat membantu melindungi keuntungan dari perusahaan raksasa global turut menentang.

Negara-negara itu diantaranya Luksemburg, Malta, Siprus, Latvia, Slovenia, Estonia, Austria, Republik Ceko, Hongaria, dan Kroasia. Selain itu, Swedia juga menentang aturan yang diusulkan, tetapi dengan alasan khawatir proposal itu justru menurunkan standar transparansi Swedia yang lebih tinggi.

Adapun Prancis, Spanyol, dan Belanda termasuk di antara mereka yang memberikan dukungan untuk proposal tersebut. Sementara itu, Jerman memilih abstain dan Inggris memutuskan untuk tidak memilih.

Baca Juga: Uni Eropa Sebut Penghindaran Pajak Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi?

Seperti dilansir The Guardian, proposal yang menjadi polemik ini diusulkan oleh Komisi UE. Secara garis besar, proposal tersebut mewajibkan disusunnya laporan country-by-country (CbCR) bagi perusahaan dengan omzet tahunan lebih dari 750 juta euro (setara Rp10,5 triliun). (kaw)

Topik : Uni Eropa, raksasa digital, GAFA
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 04 Februari 2020 | 11:32 WIB
SURGA PAJAK
Kamis, 30 Januari 2020 | 15:04 WIB
BRUSSEL
Senin, 27 Januari 2020 | 10:57 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Jum'at, 03 Juli 2020 | 19:03 WIB
SE-014/PP/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:33 WIB
HARI PAJAK 14 JULI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:32 WIB
KENORMALAN BARU
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:48 WIB
PER-12/PJ/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:47 WIB
INSENTIF PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:15 WIB
LAYANAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:00 WIB
PROFIL PAJAK PROVINSI SUMATRA BARAT
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:59 WIB
KABUPATEN TABALONG
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:40 WIB
KAMUS PAJAK