Fokus
Literasi
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:00 WIB
PROFIL PAJAK PROVINSI SUMATRA BARAT
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 11:15 WIB
TIPS PAJAK
Data & alat
Kamis, 02 Juli 2020 | 14:26 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Rabu, 01 Juli 2020 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 1 JULI-7 JULI 2020
Selasa, 30 Juni 2020 | 14:14 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Minggu, 28 Juni 2020 | 15:12 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Reportase

Tarif Terlalu Tinggi, Penerapan 'Sin Tax' Dikritik

A+
A-
0
A+
A-
0
Tarif Terlalu Tinggi, Penerapan 'Sin Tax' Dikritik

RIYADH, DDTCNews – Rencana pemerintah untuk memberlakukan ‘sin tax’ atau pajak baru hingga 100% untuk tembakau, minuman soda dan komoditas lainnya yang sejenis mendapat perlawanan dari beberapa pihak yang tidak mendukung rencana tersebut.

Seorang Aktivis Essam al-Zamel mengatakan pajak baru yang akan diterapkan dalam waktu dekat tersebut banyak menuai kritik dari warga di Arab Saudi karena tarifnya yang terlalu tinggi. Warga juga menghubungkan rencana kebijakan tersebut dengan adanya kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Arab Saudi.

“Jika sin tax ini diterapkan, maka siapa pun yang merokok sebanyak dua bungkus rokok sehari akan membayar sekirtar SAR1.500 atau Rp5,3 juta per bulan. Jumlah tersebut setara dengan membayar cicilan kendaraan,” pungkasnya, Selasa (6/6).

Baca Juga: Tarif PPN Naik Jadi 15% Mulai Hari Ini, Masyarakat Respons Negatif

Pajak baru tersebut muncul beberapa minggu setelah adanya kunjungan dan penandatanganan serangkaian kesepakatan bilateral senilai puluhan miliar dolar antara AS dan Arab Saudai. Warga juga mengomentari pajak baru tersebut dengan membandingkan Arab Saudi dengan negara-negara Teluk lainnya.

“Qatar mulai meningkatkan tunjangan staf, dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mengurangi harga BBM bulan depan. Sementara, Arab Saudi malah menerapkan pajak baru (sin tax) dan menaikkan harga bahan bakar yang jelas akan membebankan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, pemerintah memperkirakan akan mengumpulkan tambahan penerimaan antara SAR8 miliar – SAR10 miliar per tahun dari pajak baru tersebut. Pendapatan tersebut, seperti dilansir middleeasteye.net, akan digunakan untuk mengurangi defisit anggaran yang terjadi saat ini.

Baca Juga: Kenaikan Tarif PPN Berlaku 1 Juli 2020, Warga Serbu Mal

Tidak hanya itu, sebagai komitmen dalam menyetujui perjanjian penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan dilaksanakan di seluruh Gulf Cooperation Council (GCC), Arab Saudi akan mulai memberlakukan PPN dengan tarif 5% mulai 1 Januari 2018. (Amu)

Topik : berita pajak internasional, sin tax, arab saudi
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 19 Februari 2019 | 11:21 WIB
PRANCIS
Selasa, 19 Februari 2019 | 11:06 WIB
CHINA
Jum'at, 08 Februari 2019 | 11:13 WIB
PRANCIS
Rabu, 06 Februari 2019 | 15:49 WIB
BELGIA
berita pilihan
Jum'at, 03 Juli 2020 | 19:03 WIB
SE-014/PP/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:33 WIB
HARI PAJAK 14 JULI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:32 WIB
KENORMALAN BARU
Jum'at, 03 Juli 2020 | 17:05 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:48 WIB
PER-12/PJ/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:47 WIB
INSENTIF PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:15 WIB
LAYANAN PAJAK
Jum'at, 03 Juli 2020 | 16:00 WIB
PROFIL PAJAK PROVINSI SUMATRA BARAT
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:59 WIB
KABUPATEN TABALONG
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:40 WIB
KAMUS PAJAK