Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Tarif Terlalu Tinggi, Penerapan 'Sin Tax' Dikritik

A+
A-
0
A+
A-
0

RIYADH, DDTCNews – Rencana pemerintah untuk memberlakukan ‘sin tax’ atau pajak baru hingga 100% untuk tembakau, minuman soda dan komoditas lainnya yang sejenis mendapat perlawanan dari beberapa pihak yang tidak mendukung rencana tersebut.

Seorang Aktivis Essam al-Zamel mengatakan pajak baru yang akan diterapkan dalam waktu dekat tersebut banyak menuai kritik dari warga di Arab Saudi karena tarifnya yang terlalu tinggi. Warga juga menghubungkan rencana kebijakan tersebut dengan adanya kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Arab Saudi.

“Jika sin tax ini diterapkan, maka siapa pun yang merokok sebanyak dua bungkus rokok sehari akan membayar sekirtar SAR1.500 atau Rp5,3 juta per bulan. Jumlah tersebut setara dengan membayar cicilan kendaraan,” pungkasnya, Selasa (6/6).

Baca Juga: Pemerintah Desak Parlemen Sahkan RUU Pajak Dosa Tahun ini

Pajak baru tersebut muncul beberapa minggu setelah adanya kunjungan dan penandatanganan serangkaian kesepakatan bilateral senilai puluhan miliar dolar antara AS dan Arab Saudai. Warga juga mengomentari pajak baru tersebut dengan membandingkan Arab Saudi dengan negara-negara Teluk lainnya.

“Qatar mulai meningkatkan tunjangan staf, dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mengurangi harga BBM bulan depan. Sementara, Arab Saudi malah menerapkan pajak baru (sin tax) dan menaikkan harga bahan bakar yang jelas akan membebankan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, pemerintah memperkirakan akan mengumpulkan tambahan penerimaan antara SAR8 miliar – SAR10 miliar per tahun dari pajak baru tersebut. Pendapatan tersebut, seperti dilansir middleeasteye.net, akan digunakan untuk mengurangi defisit anggaran yang terjadi saat ini.

Baca Juga: Pengenaan Pajak 100% atas Shisha Tuai Kritik di Media Sosial

Tidak hanya itu, sebagai komitmen dalam menyetujui perjanjian penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan dilaksanakan di seluruh Gulf Cooperation Council (GCC), Arab Saudi akan mulai memberlakukan PPN dengan tarif 5% mulai 1 Januari 2018. (Amu)

“Jika sin tax ini diterapkan, maka siapa pun yang merokok sebanyak dua bungkus rokok sehari akan membayar sekirtar SAR1.500 atau Rp5,3 juta per bulan. Jumlah tersebut setara dengan membayar cicilan kendaraan,” pungkasnya, Selasa (6/6).

Baca Juga: Pemerintah Desak Parlemen Sahkan RUU Pajak Dosa Tahun ini

Pajak baru tersebut muncul beberapa minggu setelah adanya kunjungan dan penandatanganan serangkaian kesepakatan bilateral senilai puluhan miliar dolar antara AS dan Arab Saudai. Warga juga mengomentari pajak baru tersebut dengan membandingkan Arab Saudi dengan negara-negara Teluk lainnya.

“Qatar mulai meningkatkan tunjangan staf, dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mengurangi harga BBM bulan depan. Sementara, Arab Saudi malah menerapkan pajak baru (sin tax) dan menaikkan harga bahan bakar yang jelas akan membebankan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, pemerintah memperkirakan akan mengumpulkan tambahan penerimaan antara SAR8 miliar – SAR10 miliar per tahun dari pajak baru tersebut. Pendapatan tersebut, seperti dilansir middleeasteye.net, akan digunakan untuk mengurangi defisit anggaran yang terjadi saat ini.

Baca Juga: Pengenaan Pajak 100% atas Shisha Tuai Kritik di Media Sosial

Tidak hanya itu, sebagai komitmen dalam menyetujui perjanjian penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang akan dilaksanakan di seluruh Gulf Cooperation Council (GCC), Arab Saudi akan mulai memberlakukan PPN dengan tarif 5% mulai 1 Januari 2018. (Amu)

Topik : berita pajak internasional, sin tax, arab saudi
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Selasa, 19 November 2019 | 17:52 WIB
ITALIA
Selasa, 19 November 2019 | 11:08 WIB
CEKO
Minggu, 17 November 2019 | 15:25 WIB
PRANCIS
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 03 Oktober 2019 | 11:24 WIB
AMERIKA SERIKAT
Rabu, 22 Mei 2019 | 14:40 WIB
ITALIA
Kamis, 28 Maret 2019 | 16:54 WIB
SELANDIA BARU
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA