Review
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:14 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 17:13 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 07 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Rabu, 21 Oktober 2020 | 18:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:14 WIB
KAMUS PAJAK DAERAH
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:15 WIB
TIPS PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 15:44 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & alat
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 09:24 WIB
KURS PAJAK 21 OKTOBER - 27 OKTOBER 2020
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 15:24 WIB
MATRIKS AREA KEBIJAKAN
Rabu, 14 Oktober 2020 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 14 OKTOBER - 20 OKTOBER 2020
Komunitas
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:39 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:35 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Rabu, 21 Oktober 2020 | 09:31 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:11 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kolaborasi
Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:10 WIB
KONSULTASI
Selasa, 20 Oktober 2020 | 09:45 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 14:13 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 11:54 WIB
KONSULTASI
Reportase

Inilah Salah Satu Jenis Pajak Daerah yang Sulit Dipungut

A+
A-
3
A+
A-
3
Inilah Salah Satu Jenis Pajak Daerah yang Sulit Dipungut

BURUNG walet banyak ditemukan di pantai dan daerah pemukiman. Binatang ini biasa menghuni gua-gua atau suatu ruang. Seperti yang diketahui, burung walet menghasilkan sarang dari air liurnya.

Sarang burung walet inilah yang banyak diminati oleh masyarakat karena memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Saat ini, sarang burung walet juga menjadi komoditas ekspor, memiliki nilai jual yang tinggi, dan pastinya cukup menguntungkan.

Beberapa daerah di Indonesia terkenal sebagai penghasil sarang burung walet. Salah satu daerah tersebut adalah Samuda, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Selain itu, di Kota Kendari sudah terdapat 120 pelaku usaha sarang burung walet.

Baca Juga: Sinkronisasi Data Pajak Bahan Bakar Kendaraan, Pertamina Digandeng

Dengan banyaknya peminat serta potensi nilai jual yang tinggi, pajak sarang burung walet menjadi salah satu potensi penerimaan pajak daerah yang patut untuk digali. Namun, beberapa daerah mengaku jenis pajak ini sulit untuk dipungut.

Dari sisi pengaturan, bagaimana sebetulnya pemungutan pajak sarang burung walet ini? Merujuk Pasal 2 ayat (2) huruf i Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD), pemungutan pajak sarang burung walet menjadi kewenangan pemerintah pajak kabupaten/kota.

Pajak sarang burung walet didefinisikan sebagai pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta, dan collocalia linchi.

Baca Juga: Kurangi Ketergantungan atas Pajak Kendaraan, Pemanfaatan Aset Dibidik

Berdasarkan Pasal 72 ayat (1) UU PDRD, objek pajak sarang burung walet adalah pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. Namun, tidak semua pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet menjadi objek pajak.

Sesuai Pasal 72 ayat (2) UU PDRD, terdapat dua kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan yang dikecualikan dari objek pajak sarang burung walet. Pertama, pengambilan sarang burung walet yang telah dikenakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Kedua, kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet lainnya yang ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda).

Terkait dengan pengecualian ini, ada pula pemerintah kabupaten/kota pada umumnya mengurangi jenis pengecualian objek pajak sarang burung walet. Misalnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Blora hanya mengecualikan pengambilan sarang burung walet yang telah dikenakan PNBP sebagai objek pajak sarang burung walet.

Baca Juga: Apa Itu BBNKB?

Selanjutnya, orang pribadi atau badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan sarang burung walet ditetapkan menjadi subjek pajak. Sementara wajib pajaknya ialah orang pribadi atau badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan sarang burung walet.

Dalam pemungutannya, pajak sarang burung walet dikenakan berdasarkan nilai jual sarang burung walet. Nilai jual sarang burung walet tersebut dihitung dengan mengalikan antara harga pasaran umum sarang burung walet yang berlaku di daerah yang bersangkutan dengan volume sarang burung walet.

Kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet dikenakan pajak dengan tarif paling tinggi sebesar 10%. Namun, besar kecilnya tarif tersebut dapat ditentukan lebih lanjut oleh masing-masing Pemda sepanjang tidak melebihi besaran tarif yang ditetapkan dalam UU PDRD.

Baca Juga: Daerah yang Penerimaan Pajak Hotelnya Anjlok Bakal Diberi Hibah

Berikut perbandingan tarif pajak sarang burung walet di lima kabupaten/kota.


Berdasarkan tabel di atas, setiap daerah menetapkan besaran pajak yang berbeda. Khusus untuk Kabupaten Berau, besaran tarif ditetapkan berdasarkan alami atau tidaknya sarang burung walet tersebut. Untuk sarang burung alami tarif pajaknya sebesar 10%. Untuk sarang burung walet buatan, tarif pajaknya 7%.

Baca Juga: Pemerintah Usulkan Penurunan Tarif Pajak Hiburan Karaoke & Panti Pijat

Besaran pokok pajak sarang burung walet yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak. Pajak sarang burung walet yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. Ketentuan tata cara pemungutan, penagihan, pelaporan, dan penyetoran diatur lebih lanjut oleh masing-masing Perda.

Dalam praktiknya, tidak semua daerah memiliki potensi besar terkait pemungutan pajak sarang burung walet. Terdapat kesulitan tersendiri dalam memungut jenis pajak ini, mulai dari kepatuhan yang minim hingga usaha sarang barang walet yang sering kali merugi. Ada pula daerah yang dalam setahun penerimaan pajaknya dari sektor ini nihil. Simak ‘Cerita Daerah-daerah yang Kesulitan Pungut Objek Pajak ini, Kok bisa?

Oleh sebab itu, tidak semua kabupaten/kota memungut pajak sarang burung walet. Contohnya, kebijakan pemungutan pajak sarang burung walet tidak diterapkan oleh di Kabupaten Blitar sejak 2017. Pemda Kabupaten Blitar memutuskan untuk menghapus pajak sarang burung walet sebab tidak memberikan kontribusi yang banyak dalam pendapatan daerah.*

Baca Juga: Realisasi Penerimaan Minim, Masih Ada Pemutihan Pajak Kendaraan

Topik : kelas pajak, pajak daerah, pajak sarang burung walet
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Kamis, 15 Oktober 2020 | 15:10 WIB
PENAGIHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA (3)
Kamis, 15 Oktober 2020 | 08:30 WIB
PROVINSI SUMATERA BARAT
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:50 WIB
INSENTIF PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 08:30 WIB
KOTA BALIKPAPAN
berita pilihan
Rabu, 21 Oktober 2020 | 18:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:47 WIB
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:32 WIB
PROVINSI BALI
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:14 WIB
KAMUS PAJAK DAERAH
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:42 WIB
PER-18/PJ/2020
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:39 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:15 WIB
TIPS PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 16:01 WIB
PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL