Berita
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:52 WIB
KANWIL DJP JAWA BARAT II
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:33 WIB
SPANYOL
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:30 WIB
AUDIT KEUANGAN NEGARA
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:22 WIB
ADMINISTRASI PAJAK
Review
Rabu, 20 Januari 2021 | 14:18 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 19 Januari 2021 | 09:24 WIB
OPINI PAJAK
Rabu, 13 Januari 2021 | 15:23 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 12 Januari 2021 | 12:27 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:58 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 22 Januari 2021 | 16:45 WIB
PROFIL PAJAK KOTA BOGOR
Jum'at, 22 Januari 2021 | 15:47 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 20 Januari 2021 | 16:43 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 20 JANUARI - 26 JANUARI 2021
Senin, 18 Januari 2021 | 09:10 WIB
STATISTIK PAJAK KONSUMSI
Rabu, 13 Januari 2021 | 17:05 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

Ini Alasan OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit hingga 2022

A+
A-
4
A+
A-
4
Ini Alasan OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit hingga 2022

Ilustrasl. (DDTCNews)

JAKARTA, DDTCNews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit hingga 2022 untuk membantu debitur yang terdampak pandemi virus Corona atau Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan kebijakan tersebut telah tertuang dalam Peraturan OJK No. 11/POJK.03/2020. Semula, OJK berencana memberikan restrukturisasi kredit hanya sampai dengan 2021.

"Perbankan dari segi likuiditas cukup, bahkan melimpah. Debiturnya bisa refinancing, bahkan kami perpanjang sampai dengan 2022," katanya, Selasa (24/11/2020).

Baca Juga: Isu Lingkungan Sita Perhatian Auditor di Banyak Negara, Ada Apa?

Wimboh menyatakan perpanjangan restrukturisasi kredit itu sudah mempertimbangkan kemampuan para debitur dalam memulihkan usahanya di tengah pandemi. Dia optimistis pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk pulih.

Selain itu, sisi permodalan perbankan juga cukup untuk memberikan restrukturisasi kredit hingga 2022, yakni sekitar 23%. Menurutnya, perbankan juga memahami pentingnya conservation buffer untuk memastikan memiliki basis modal yang cukup dan dapat membantu pengusaha.

"Sehingga ini [perbankan] mempunyai basis yang cukup untuk pertumbuhan, dan bahkan men-absorb kalau-kalau nanti ada pengusaha yang harus di-backup dengan provisi," ujarnya.

Baca Juga: Syarat WP OP Dikecualikan dari Kewajiban Pembukuan Bakal Diatur

Hingga 26 Oktober 2020, OJK mencatat realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan sudah mencapai Rp914,65 triliun untuk 7,53 juta debitur. Debitur itu terdiri atas 5,88 juta debitur UMKM senilai Rp361,98 triliun, dan 1,65 juta debitur non-UMKM senilai Rp552,69 triliun. (rig)

Topik : otoritas jasa keuangan OJK, restrukturisasi kredit, stimulus ekonomi, nasional
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Kamis, 21 Januari 2021 | 13:00 WIB
UU CIPTA KERJA
Kamis, 21 Januari 2021 | 11:30 WIB
UU CIPTA KERJA
Kamis, 21 Januari 2021 | 10:49 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Kamis, 21 Januari 2021 | 09:30 WIB
DANA TABUNGAN PERUMAHAN
berita pilihan
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:52 WIB
KANWIL DJP JAWA BARAT II
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:33 WIB
SPANYOL
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:30 WIB
AUDIT KEUANGAN NEGARA
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:22 WIB
ADMINISTRASI PAJAK
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:58 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:46 WIB
AMERIKA SERIKAT
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:45 WIB
UU CIPTA KERJA
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:32 WIB
BARANG MILIK NEGARA
Jum'at, 22 Januari 2021 | 17:23 WIB
KEUANGAN NEGARA