Berita
Minggu, 18 April 2021 | 15:01 WIB
ARGENTINA
Minggu, 18 April 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Minggu, 18 April 2021 | 13:01 WIB
AMERIKA SERIKAT
Minggu, 18 April 2021 | 12:01 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Review
Minggu, 18 April 2021 | 08:01 WIB
KEPALA KANWIL DJP PAPUA DAN MALUKU ARRIDEL MINDRA:
Rabu, 14 April 2021 | 15:26 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 13 April 2021 | 10:38 WIB
OPINI PAJAK
Jum'at, 09 April 2021 | 11:41 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 16 April 2021 | 17:15 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 16 April 2021 | 17:11 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 16 April 2021 | 16:53 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 16 April 2021 | 13:15 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Kamis, 15 April 2021 | 15:25 WIB
STATISTIK KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 14 April 2021 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 14 APRIL - 20 APRIL 2021
Rabu, 07 April 2021 | 09:20 WIB
KURS PAJAK 7 APRIL - 13 APRIL 2021
Jum'at, 02 April 2021 | 10:00 WIB
KMK 20/2021
Reportase
Perpajakan.id

Ini Alasan OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit hingga 2022

A+
A-
4
A+
A-
4
Ini Alasan OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit hingga 2022

Ilustrasl. (DDTCNews)

JAKARTA, DDTCNews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit hingga 2022 untuk membantu debitur yang terdampak pandemi virus Corona atau Covid-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan kebijakan tersebut telah tertuang dalam Peraturan OJK No. 11/POJK.03/2020. Semula, OJK berencana memberikan restrukturisasi kredit hanya sampai dengan 2021.

"Perbankan dari segi likuiditas cukup, bahkan melimpah. Debiturnya bisa refinancing, bahkan kami perpanjang sampai dengan 2022," katanya, Selasa (24/11/2020).

Baca Juga: Pengawasan dan Pemindahan Tempat Wajib Pajak Terdaftar Terpopuler

Wimboh menyatakan perpanjangan restrukturisasi kredit itu sudah mempertimbangkan kemampuan para debitur dalam memulihkan usahanya di tengah pandemi. Dia optimistis pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk pulih.

Selain itu, sisi permodalan perbankan juga cukup untuk memberikan restrukturisasi kredit hingga 2022, yakni sekitar 23%. Menurutnya, perbankan juga memahami pentingnya conservation buffer untuk memastikan memiliki basis modal yang cukup dan dapat membantu pengusaha.

"Sehingga ini [perbankan] mempunyai basis yang cukup untuk pertumbuhan, dan bahkan men-absorb kalau-kalau nanti ada pengusaha yang harus di-backup dengan provisi," ujarnya.

Baca Juga: Fasilitas VAT Refund di Negara Teluk Ini Mulai Tersedia

Hingga 26 Oktober 2020, OJK mencatat realisasi restrukturisasi kredit sektor perbankan sudah mencapai Rp914,65 triliun untuk 7,53 juta debitur. Debitur itu terdiri atas 5,88 juta debitur UMKM senilai Rp361,98 triliun, dan 1,65 juta debitur non-UMKM senilai Rp552,69 triliun. (rig)

Topik : otoritas jasa keuangan OJK, restrukturisasi kredit, stimulus ekonomi, nasional
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Rabu, 14 April 2021 | 16:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Rabu, 14 April 2021 | 14:30 WIB
KANADA
berita pilihan
Minggu, 18 April 2021 | 15:01 WIB
ARGENTINA
Minggu, 18 April 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
Minggu, 18 April 2021 | 13:01 WIB
AMERIKA SERIKAT
Minggu, 18 April 2021 | 12:01 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Minggu, 18 April 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 18 April 2021 | 10:01 WIB
JERMAN
Minggu, 18 April 2021 | 09:01 WIB
PRANCIS
Minggu, 18 April 2021 | 08:01 WIB
KEPALA KANWIL DJP PAPUA DAN MALUKU ARRIDEL MINDRA:
Minggu, 18 April 2021 | 07:01 WIB
INSENTIF PAJAK
Minggu, 18 April 2021 | 06:01 WIB
KINERJA DJP