Review
Selasa, 04 Oktober 2022 | 10:44 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Fokus
Literasi
Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 17:11 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 03 Oktober 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 05 Oktober 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 5 OKTOBER - 11 OKTOBER 2022
Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:15 WIB
KMK 50/2022
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Reportase

DJBC Sebut Pita Cukai KLM Golongan I Sudah Dipesan Pabrikan Rokok

A+
A-
1
A+
A-
1
DJBC Sebut Pita Cukai KLM Golongan I Sudah Dipesan Pabrikan Rokok

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) mencatat mulai terdapat perusahaan yang memesan pita cukai untuk sigaret kelembak kemenyan (KLM) golongan I sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 109/2022.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Nirwala Dwi Heryanto mengatakan cukai pada KLM kini terbagi dalam 2 golongan. Sigaret KLM yang diproduksi perusahaan dengan kapasitas di atas 4 juta batang per tahun, masuk ke dalam golongan I dengan tarif cukai lebih tinggi.

"Sudah [ada yang melakukan pemesanan]. Tentu, jelas itu diberlakukan kapan, kan mesti ada batas lekatnya 1 bulan," katanya, dikutip pada Kamis (18/8/2022).

Baca Juga: Inflasi Capai 5,95 Persen, BKF: Lebih Rendah dari Proyeksi Pemerintah

Nirwala menuturkan PMK 109/2022 mengatur tarif cukai pada jenis produk hasil tembakau sigaret, cerutu, KLM, klobot, dan tembakau iris berdasarkan skala produksinya. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap pabrikan dapat bersaing secara adil.

Dia menjelaskan ketentuan tarif cukai KLM yang hanya 1 golongan bakal menimbulkan kerugian pada pabrikan kecil. Hal itu terjadi karena tarif cukai KLM pada pabrikan kecil akan sama dengan pabrikan besar.

Dengan membaginya dalam 2 golongan, lanjut Nirwala, KLM yang diproduksi pabrikan besar akan dikenakan tarif cukai lebih tinggi. Tarif cukai golongan I berlaku untuk pabrik dengan produksi lebih dari 4 juta batang, sedangkan golongan II tidak lebih dari 4 juta batang.

Baca Juga: Penyelenggara e-Commerce Jadi Pemungut Pajak? DJP: Masih Didiskusikan

Pada KLM yang diproduksi oleh pabrik golongan I, Nirwala menyebut dikenakan tarif cukai Rp440 dengan batasan harga jual eceran (HJE) per batang paling rendah Rp780. Untuk golongan II, tarif cukai pada KLM tidak berubah, yaitu Rp25 dan HJE paling rendah Rp200 per batang.

"Jangan salah, itu selisihnya Rp420 lho dan Bu Menteri memerintahkan threshold-nya di 4 juta batang. Apa yang ingin disampaikan Bu Menteri di situ? Kami sangat-sangat melindungi industri kecil," ujarnya.

Perubahan ketentuan mengenai cukai pada produk sigaret KLM telah berlaku sejak 4 Juli 2022. Namun, pengusaha masih memiliki kesempatan untuk melekatkan pita cukai yang terlanjur dipesan dengan tarif lama hingga 1 Agustus 2022.

Baca Juga: Insentif Pajak untuk Pulihkan Ekonomi, Begini Perbandingan Manfaatnya

Setelah tanggal tersebut, pengusaha yang masuk golongan I harus memesan dan melekatkan pita cukai baru dengan tarif lebih tinggi. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : pmk 109/2022, cukai rokok, sigaret KLM, kelembak kemenyan, DJBC, nasional

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 03 Oktober 2022 | 14:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Mendagri Tito Ingin Daerah Saling Berkompetisi Kendalikan Inflasi

Senin, 03 Oktober 2022 | 14:00 WIB
PER-14/PJ/2022

Exchanger Perlu Cantumkan NPWP Trader Kripto di Formulir 1107 PUT 3

Senin, 03 Oktober 2022 | 13:30 WIB
PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

Kemenkeu Rilis Buku Soal Pemulihan Ekonomi dari Covid, Ada Peran Pajak

Senin, 03 Oktober 2022 | 13:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Data Nomor NIK di DJP Berbeda, Wajib Pajak Perlu Lakukan Ini

berita pilihan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:40 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perseroan Perorangan Pakai PPh Final, DJP: Ada Kewajiban Pelaporan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Anjak Piutang dalam Perpajakan?

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Inflasi Capai 5,95 Persen, BKF: Lebih Rendah dari Proyeksi Pemerintah

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Masih Proses, Integrasi CRM Bikin Peta Kepatuhan WP Lebih Komprehensif

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:15 WIB
DDTC ACADEMY

Ketahui Aspek Transfer Pricing Pertambangan Batu Bara pada Kelas Ini

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA BINTAN

Adakan KPDL, Petugas Pajak Temukan Perusahaan Belum Punya NPWP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Banyak Temuan BPK Soal Insentif Pajak, Begini Update Tindak Lanjut DJP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:30 WIB
OPERASI JARING SRIWIJAYA 2022

DJBC Gagalkan Penyelundupan Barang Rp244 M di Perairan Indonesia Barat

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:10 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022

Mengantisipasi Risiko Hilangnya Potensi Pajak dari Sharing Economy