HUT KE-15 DDTC

Lokal Mengglobal, DDTC Berkontribusi di Level Dunia Lewat Karya

Sapto Andika Candra
Rabu, 10 Agustus 2022 | 13.01 WIB
Lokal Mengglobal, DDTC Berkontribusi di Level Dunia Lewat Karya

LIMA belas tahun lalu, siapa menyangka sebuah kantor konsultan pajak yang hanya menempati ruko sederhana di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara bisa mencatatkan namanya di berbagai publikasi level dunia. 

Lebih dari 1 dekade ke belakang, barangkali belum terbersit di benak Darussalam dan Danny Septriadi, dua orang penghuni paling awal ruko sederhana tadi, kalau nama perusahaannya kini sanggup bertengger di jajaran konsultan pajak kelas global.

Bukan semata-mata karena nasib mujur. Keduanya memegang teguh prinsip kerja keras yang dibarengi dengan konsistensi dalam berkarya. Perjalanan panjang ditempuh di tengah jalur terjal berkerikil. Tidak mudah, tetapi sekaligus bukan hal yang muskil. 

Darussalam selaku Managing Partner DDTC bersama Danny Septriadi sebagai Senior Partner menutup celah ketidakmungkinan dan terus mengejar lorong peluang yang ada. Berselang 15 tahun, DDTC memantapkan diri melaju di jalur cepat sebagai 'institusi pajak paket lengkap'.

Apa resepnya?

Ibarat masakan yang baru saja diolah matang-matang di atas tungku perapian, ada satu bumbu utama yang membuat DDTC menjadi seperti sekarang: membaca dan menulis. Literasi menjadi modal dasar metamorfosis perusahaan. 

"Awali dengan membaca dan menulis dan yakinlah bahwa pembaca [dan penulis] itu suatu saat akan menjadi leader," ujar Darussalam dalam sebuah kesempatan pada medio 2021 lalu

Darussalam punya keyakinan besar, seseorang dikenal melalui karya. Baginya, nama besar tanpa karya sama saja dengan bualan tanpa isi. Prinsip inilah yang secara perlahan dipupuk bersama Danny Septriadi saat membangun DDTC dari kantor konsultan pajak yang hanya dihuni 3 orang, menjadi naungan bagi 200 lebih karyawan seperti saat ini. 

Seorang konsultan pajak, menurut Darussalam, perlu punya kesenangan membaca dan menulis. Mereka tak boleh cuma akrab dengan deret angka saja, tetapi juga huruf yang bertemali menjadi buah pikiran. 

"Dengan adanya publikasi tulisan, calon klien bisa mengetahui kualitas konsultan pajak," ujar Darussalam

Tak cuma itu, publikasi juga menjadi jembatan bagi DDTC untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma bagi masyarakat. Darussalam menekankan pentingnya pengembangan pengetahuan perpajakan bagi publik. Dia secara tegas menyampaikan bahwa ilmu yang diperoleh oleh profesional DDTC, di manapun berada, harus dibagikan tanpa perlu khawatir akan tersaingi pihak lain. 

Secara sederhana, ilmu yang dibagikan harus terus diimbangi dengan ilmu baru yang diserap. Progres inilah yang membuat insan DDTC terus-menerus terlibat dalam proses belajar tiada henti. Pembelajaran yang berkelanjutan juga menjadi cara DDTC mengimbangi ekosistem perpajakan nasional dan internasional yang dinamis. 

Konsep ini jugalah yang mendorong DDTC tanpa ragu mengantar profesional-profesionalnya untuk tampil di kancah internasional. Tak terhitung publikasi berupa artikel, jurnal, dan buku yang ikut dibidani oleh profesional DDTC.  

Menyuarakan Indonesia
BERBEKAL konsistensi yang dicontohkan sendiri oleh pimpinan perusahaan, para profesional DDTC tak jemu terlibat aktif dalam penyusunan berbagai publikasi perpajakan internasional. Secara ajek, profesional DDTC melahirkan karya tulis dengan lingkup pembahasan yang beragam. 

Dalam menuangkan buah pikirannya, profesional DDTC berdiri di dua sisi sekaligus. Di sisi global, DDTC menjadi representasi atas ekosistem perpajakan Indonesia. DDTC secara aktif menyuarakan kebijakan-kebijakan domestik yang bisa menjadi pembelajaran masyarakat pajak internasional. 

Pada 2017 misalnya, Managing Partner DDTC Darussalam mewakili Indonesia untuk terlibat dalam penulisan buku A Global Analysis of Tax Treaty Disputes. Buku terbitan Cambridge University Press ini mengupas pola dan analisis atas 1.610 kasus sengketa pajak terkait Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dari 27 negara, salah satunya Indonesia. 

Darussalam secara apik membungkus analisisnya tentang perjalanan P3B Indonesia selama ini. Tulisannya kemudian dijadikan salah satu fokus kajian dalam buku yang diedit oleh Eduardo Baistrocchi, seorang profesor hukum di London School of Economics. 

Lantas di sisi domestik, profesional DDTC mencoba membumikan isu perpajakan global agar bisa dipahami publik secara luas. Lebih jauh dari itu, DDTC juga memformulasikan praktik yang terjadi di negara lain sebagai alternatif penyusunan kebijakan dalam negeri.

Manager of DDTC Fiscal Research & Advisory Denny Vissaro sempat menelurkan publikasi berjudul Developing a Cooperative Compliance Model for Large Developing Economies: Justification, Prerequisites, and Administrative Design

Dalam publikasi terbitan Routledge itu, Denny ikut mengulas proses kepatuhan kooperatif yang bisa didadopsi menjadi pendekatan bagi negara berkembang pada era digitalisasi. Pendekatan ini dianggap bisa menjadi alternatif atas permasalahan pajak yang kerap tak terselesaikan, antara fiskus dan wajib pajak. 

Profesional DDTC juga terus menjaga kualitas karyanya dengan mengedepankan pendekatan konseptual dan studi komparasi serta empiris dalam membedah sebuah permasalahan. Pelan tapi pasti, melalui rentetan publikasi internasional yang telah terbit, Indonesia kini menjadi bagian penting dalam perkembangan ekosistem perpajakan dunia. 

Ragam Publikasi DDTC
DDTC tidak ingin cuma dijuluki jago kandang, mahir di lingkup domestik tapi melempem di skala global. Perlahan, profesional DDTC mampu membuktikan jargon tersebut. 

Beranjak 15 tahun tumbuh, di usia yang melambangkan kematangan fisik, DDTC berhasil menerbitkan sedikitnya 16 judul buku. Para profesional di dalamnya tercatat telah berkontribusi atas 4 publikasi domestik dan 32 publikasi internasional.

Trivia di atas bukan sekadar angka. Lebih dalam lagi, hal itu menjadi pembuktian bagi DDTC secara khusus dan Indonesia secara umum bahwa anak bangsa bisa terlibat aktif dalam geliat inovasi perpajakan dunia. 

Tak sedikit profesional DDTC yang diakui sebagai salah satu pakar di bidangnya dan menjadi langganan dalam berbagai publikasi ternama internasional. Sebut saja The Transfer Pricing Law Review, Tax Disputes and Litigation Review, International Transfer Pricing Journal, hingga Tax Notes International and Tax Review.

Sejumlah karya tulisan yang dibuahkan profesional DDTC juga ikut dicetak dalam buku-buku oleh penerbit terpercaya seperti IBFD, TaxAnalyst, Law Business Research, Belgrade Law Review, Routledge, Linde, Expert Guides, hingga Cambridge University Press.

Selain perkara sengketa pajak, topik yang dihadirkan oleh para profesional DDTC melalui artikel, jurnal, dan bukunya sangat beragam. Dari upaya mendorong reformasi perpajakan guna mencapai target penerimaan pajak, peran perpajakan dalam perekonomian Indonesia, hingga berbagai isu spesifik semisal tentang derivatif, dokumentasi transfer pricing, CFC rule, dan sebagainya. 

Tak cuma itu, buah ide profesional DDTC yang tertuang di beragam artikel, jurnal, dan buku juga mencakup program-program OECD, perjanjian pajak, digitalisasi pajak, hingga Tax Control Framework (TCF) yang ikut ditinjau secara komprehensif.

Bagi insan DDTC, banyaknya publikasi yang terbit bukan sebatas ajang pembuktian diri. Bukan semata-mata cara untuk menggaet klien atau menambah deret portofolio company value-creation. Lebih dari itu, sesuai tutur yang pernah disampaikan duet pendiri DDTC, beragam karya yang diproduksi perusahaan merupakan bagian penting dari pengabdian kepada masyarakat pajak. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.