PUSDIKLAT PAJAK

Siapkan Respons Tepat Hadapi GMT, Pusdiklat Pajak & UGM Gelar Seminar

Muhamad Wildan
Kamis, 21 Mei 2026 | 11.30 WIB
Siapkan Respons Tepat Hadapi GMT, Pusdiklat Pajak & UGM Gelar Seminar
<p>Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Supriyadi dalam seminar Kolaborasi Menuju Pajak Adil dan Konsisten (Kompak) bertajuk <em>Implementasi Pajak Minimum Global (Global Minimum Tax): Tantangan dan Kesiapan Indonesia</em>, Kamis (21/5/2026).</p>

YOGYAKARTA, DDTCNews - Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat Pajak) menggelar seminar Kolaborasi Menuju Pajak Adil dan Konsisten (Kompak) bersama Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).

Seminar Kompak kali ini diselenggarakan dengan mengusung topik Implementasi Pajak Minimum Global (Global Minimum Tax): Tantangan dan Kesiapan Indonesia.

"Keberadaan global minimum tax akan menjadi awal dari kompetisi baru yang lebih kompleks, lebih halus, dan lebih menuntut kapasitas institusional. Kita harus mampu merespons dengan tepat agar kebijakan ini bisa menjadi instrumen penguatan penerimaan negara, katalis reformasi kebijakan, dan landasan daya saing yang berkelanjutan," ujar Wakil Rektor UGM Supriyadi dalam keynote speech-nya, Kamis (21/5/2026).

Supriyadi mengatakan pajak minimum global sebagaimana termuat dalam Pilar 2: Global Anti-Base Erosion (GloBE) dirancang oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) guna mengatasi praktik profit shifting dan mencegah kompetisi tarif pajak yang tidak sehat (race to the bottom).

Kini, pajak minimum global telah diadopsi oleh setidaknya lebih dari 40 negara dan diberlakukan atas grup perusahaan multinasional dengan omzet setidaknya EUR750 juta.

Meski kehadiran pajak minimum global dianggap mampu mengurangi profit shifting dan race to the bottom, Supriyadi mengatakan saat ini masih terdapat setidaknya 4 tantangan untuk mengimplementasikan rezim tersebut.

Pertama, aturan pajak minimum global masih relatif rumit dan memerlukan penyesuaian pelaporan yang masif baik dari otoritas pajak maupun wajib pajak. Kedua, adanya potensi berkurangnya daya tarik insentif pajak seperti tax holiday dan tax allowance seiring dengan berlakunya pajak minimum global.

Ketiga, berlakunya pajak minimum global berpotensi meningkatkan sengketa perpajakan internasional akibat ketidakpastian interpretasi aturan antarnegara. Keempat, kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam mengawasi dan mengeksekusi ketentuan pajak minimum global.

Dalam acara yang sama, Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Wahyu Kusuma Romadhoni mengatakan seminar Kompak diselenggarakan sebagai wadah kolaborasi antara seluruh stakeholder perpajakan.

Pasalnya, tantangan perpajakan di era modern tidak bisa dijawab oleh 1 institusi semata. Dibutuhkan dialog, pertukaran perspektif, dan semangat belajar bersama antara pemerintah, akademisi, praktisi, dunia usaha, dan ekosistem perpajakan nasional.

"Kompak adalah ikhtiar kita bersama untuk membangun shared understanding dalam rangka mewujudkan sistem perpajakan yang lebih adil, adaptif, dan berkepastian hukum," ujar Wahyu.

Adapun Dekan FEB UGM Didi Achjari mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang unggul, relevan, dan adaptif terhadap perkembangan lingkungan bisnis, profesi, dan kebutuhan masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan kurikulum, penguatan kolaborasi dengan dunia profesi, dan penyediaan proses pembelajaran yang bisa menjembatani kebutuhan akademik dan praktik.

Guna melaksanakan komitmen dimaksud, Program Magister Akuntansi UGM menghadirkan konsentrasi perpajakan guna menjawab dinamika regulasi yang terus berkembang baik pada tingkat nasional maupun global.

"Saat ini, kebutuhan terhadap profesional yang tidak hanya memahami teknis perpajakan, tetapi juga memiliki kemampuan analitis dan perspektif strategis makin meningkat. Melalui konsentrasi perpajakan, kami ingin menyediakan ruang pembelajaran bagi para profesional maupun akademisi untuk memperdalam kompetensi secara komprehensif di bidang perpajakan," ujar Didi. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.