JAKARTA, DDTCNews - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit APBN 2026 akan tetap terkendali di bawah 3%, meski terjadi kenaikan harga minyak dunia akibat perang di Timur Tengah.
Menurut Purbaya, APBN masih memiliki ruang fiskal yang memadai untuk menghadapi gejolak perekonomian global. Berdasarkan kalkulasinya, APBN sanggup meredam kenaikan harga minyak dunia dengan rata-rata mencapai US$100 per barel hingga akhir tahun.
"Hitungan kita [harga minyak mentah] sekarang sampai US$100 rata-rata hingga akhir tahun pun anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya masih terkendali," ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Seperti diketahui, harga minyak dunia cenderung naik seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di negara teluk. Hari ini, harga minyak mentah di pasar global mencapai US$103 per barel dan minyak jenis brent mencapai US$107 per barel.
Angka tersebut jauh melebihi asumsi makro ekonomi dalam APBN 2026 yang menetapkan harga minyak sebesar US$70 per barel. Meski demikian, Purbaya kembali menegaskan bahwa anggaran negara tetap stabil untuk menjalankan fungsi sebagai bantalan dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas dunia.
"Masyarakat tidak perlu khawatir defisit bakal tidak terkendali atau anggaran morat-marit. Kita kendalikan dengan baik semuanya dan kita sudah hitung sampai dengan akhir tahun," ucap Purbaya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi maupun non subsidi.
Selain itu, keputusan untuk tidak mengerek harga BBM di tengah fluktuasi harga dunia merupakan instruksi presiden. Menurut Bahlil, presiden mendorong kebijakan yang berpihak pada masyarakat, terutama yang kurang mampu secara ekonomi.
"Yang jelas tidak ada penyesuaian harga, terutama masalah subsidi. Apalagi tadi Pak Menko Perekonomian dan Pak Menkeu sudah menyiapkan anggaran," kata Bahlil. (rig)
