JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mewanti-wanti konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi kinerja manufaktur Indonesia, terutama karena perang berpotensi memicu sederet perubahan lanskap perdagangan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan perubahan yang dimaksud antara lain perang memicu volatilitas harga energi global, gangguan pada jalur perdagangan internasional, serta mengerek biaya logistik dan bahan baku industri.
"Setiap eskalasi konflik tentu berpotensi memengaruhi harga energi, kelancaran rantai pasok bahan baku industri, serta biaya logistik yang digunakan oleh sektor manufaktur," katanya, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
Jika konflik terus memanas, Agus berpandangan kinerja sektor industri dalam negeri akan terganggu salah satunya karena pasokan dan distribusi energi global terhambat.
Hambatan pasokan itu terjadi lantaran Selat Hormuz yang berlokasi di Timur Tengah ikut terdampak perang, padahal jalur itu vital bagi kegiatan perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga energi internasional.
Jika harga minyak melambung, lanjut Agus, tentu sebagian besar sektor industri terdampak karena menggunakan energi sebagai komponen biaya produksi utama. Terlebih, industri petrokimia, logam dasar, semen, pupuk, serta berbagai subsektor industri pengolahan lain sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
"Jika harga energi global meningkat dalam jangka waktu yang panjang, maka biaya produksi industri manufaktur juga berpotensi naik. Hal ini tentu dapat memengaruhi efisiensi produksi serta daya saing produk industri di pasar domestik maupun ekspor," kata Agus.
Selain komoditas energi, Agus menilai konflik geopolitik juga berpotensi mengganggu kinerja ekspor industri manufaktur karena perubahan permintaan pasar internasional. Selain itu, impor bahan baku industri juga diperkirakan bakal mengalami hambatan.
"Perkembangan situasi geopolitik global tentu perlu kita antisipasi bersama. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia selama ini sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi global dan permintaan pasar internasional," tuturnya.
Lebih lanjut, Agus menegaskan pemerintah akan menyusun langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan sektor industri nasional. Salah satu strategi yang dilakukan ialah memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.
Di samping itu, pemerintah berupaya meningkatkan efisiensi energi di sektor industri serta mempercepat transformasi menuju industri hijau. Langkah itu penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang harganya sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global.
Meski berpotensi digempur berbagai tantangan eksternal, Agus optimistis industri manufaktur Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat. Menurutnya, hal itu didukung oleh struktur industri yang semakin terdiversifikasi, serta kontribusi sektor manufaktur yang tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional. (dik)
