APBN 2026

SBY Soroti Efek Perang di Timur Tengah ke APBN

Redaksi DDTCNews
Kamis, 05 Maret 2026 | 15.30 WIB
SBY Soroti Efek Perang di Timur Tengah ke APBN
<p>Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.</p>

JAKARTA, DDTCNews - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turut mewanti-wanti pemerintah agar mewaspadai dampak perang di Timur Tengah terhadap APBN.

SBY menyebut perang di Timur Tengah mulai berdampak terhadap harga minyak mentah dunia. Apabila perang terus berlanjut, beban APBN berpotensi bertambah hingga ratusan triliun rupiah.

"APBN kita sekarang ini bukan berarti kuat [atau] ruang fiskalnya lebar. Tidak. Ada keterbatasan kita. Utang kita tahun-tahun terakhir juga meningkat dengan tajam," katanya dalam video yang diunggah di kanal Youtube-nya, dikutip pada Kamis (5/3/2026).

SBY menjelaskan berdasarkan hukum ekonomi, apabila permintaan minyak tetap tetapi penawaran berkurang seperti saat ini, maka harganya akan langsung mengalami kenaikan. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan guncangan bagi negara yang tidak memiliki sumber minyak di dalam negeri.

Produksi minyak Indonesia pada belasan tahun lalu memang mampu mencapai 1 juta barel per hari, tetapi kini sudah menyusut hingga di kisaran 600.000 barel per hari. Hal itulah yang menjadikan Indonesia sebagai importir minyak dan ikut rentan mengalami tekanan akibat perang di Timur Tengah.

Sebagai informasi, perang di Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak Brent sempat menembus US$81 per barel. Angka ini di atas dari asumsi Indonesian crude price (ICP) pada APBN 2026 senilai US$70 per barel.

Menurut SBY, Presiden Prabowo Subianto perlu waspada apabila perang berlanjut dan harga minyak menembus US$100 atau bahkan US$150 per barel. Dia khawatir meroketnya harga minyak bisa menyebabkan defisit APBN melebar hingga ratusan triliun rupiah.

Pergerakan harga minyak dapat memengaruhi APBN, baik dari sisi pendapatan maupun belanja negara. Dari sisi pendapatan, perubahan harga minyak memang akan berpengaruh terhadap penerimaan PPh migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Namun untuk belanja negara, kenaikan harga minyak bisa meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi.

"Tentu saya yakin Pak Prabowo, presiden kita, akan memikirkan dan sekarang harus mulai dipersiapkan dengan baik. Kalau tekanan ekonomi kita, fiskal kita,... jangan diabaikan juga bagaimana rakyat terbawah," ujar SBY.

Di tengah lonjakan harga minyak, negara biasanya hadir untuk memberikan tambahan subsidi energi untuk mempertahankan harga BBM. Namun, SBY mengingatkan kebijakan ini bisa membikin APBN jebol.

Sementara jika pemerintah memilih menaikkan harga BBM untuk mengikuti pergerakan harga minyak dunia, daya beli masyarakat bisa tertekan.

SBY saat menjabat sebagai presiden pernah mengambil kebijakan tidak populer dengan menaikkan harga BBM sebesar 140%. Secara bersamaan, dia memberikan bantuan langsung tunai (BLT) untuk melindungi daya beli kelompok masyarakat terbawah.

SBY menyebut peristiwa yang terjadi pada 2005 tersebut sebagai pengalaman pahit dan menyakitkan. Dia pun berharap pemerintah mengambil kebijakan yang paling tepat untuk melindungi fiskal dan ekonomi.

"Ekonomi kita harus terjaga. Tidak ada kamus gara-gara badai dunia ini terhuyung-huyung dan kita jatuh. Sedia payung sebelum hujan. Lakukan antisipasi yang bagus, tindakan preventif yang bagus, economic policy yang tepat, dan fiscal policy atau pengendalian fiskal yang tepat," ucapnya. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.