WASHINGTON D.C., DDTCNews - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana untuk menghentikan pemungutan pajak BBM untuk sementara waktu.
Kebijakan ini ditempuh guna meringankan beban masyarakat di tengah lonjakan BBM akibat perang di Timur Tengah. Kini, harga BBM di AS sudah US$4,52 per galon, naik 50% dibandingkan dengan rata-rata harga BBM sebelum perang senilai US$3 per galon.
"Kami akan menghapus pajak BBM untuk jangka waktu tertentu. Ketika harga BBM sudah turun, kami akan memberlakukannya kembali secara bertahap," katanya, dikutip pada Rabu (13/5/2026).
Perlu diketahui, pajak BBM atas bensin tidaklah besar hanyalah senilai 18,4 sen per galon, sedangkan pajak atas solar hanya senilai 24,4 sen per galon. Meski begitu, Trump memandang kebijakan tersebut tetap meringankan beban masyarakat.
"Itu tetaplah uang," ujar Trump seperti dilansir apnews.com.
Rencana Trump untuk menghapus pengenaan pajak BBM untuk sementara waktu dimaksud mendapatkan dukungan dari para anggota parlemen baik yang berlatarbelakang Partai Republik maupun Partai Demokrat.
Senada, Anggota DPR AS dari Partai Demokrat Anna Paulina Luna mengatakan penghapusan pajak BBM diperlukan dalam rangka meringankan beban masyarakat.
"Rumah tangga AS membutuhkan keringanan harga BBM. Saya akan bekerja langsung dengan Trump untuk memastikan kita bisa mewujudkan kemenangan bagi rakyat AS," ujarnya.
Sementara itu, Anggota Senat AS dari Partai Republik John Thune menuturkan pihaknya mendukung relaksasi pajak BBM. Meski begitu, dia juga mendorong pemerintah AS untuk segera mengupayakan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebab, penghentian pemungutan pajak BBM akan berdampak terhadap belanja pemeliharaan jalan. "Ketika Anda menangguhkan pajak BBM, Anda akan menimbulkan lubang yang besar pada highway trust fund," ujar Thune. (rig)
