Review
Selasa, 02 Maret 2021 | 09:40 WIB
OPINI PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 10:30 WIB
TAJUK PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 09:00 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 24 Februari 2021 | 16:39 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Senin, 01 Maret 2021 | 10:15 WIB
KMK 13/2021
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Minggu, 21 Februari 2021 | 09:00 WIB
STATISTIK MUTUAL AGREEMENT PROCEDURE
Rabu, 17 Februari 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 FEBRUARI - 23 FEBRUARI 2021
Reportase
Perpajakan.id

Sebut Harga Rokok Bakal Makin Mahal, Ini Harapan Sri Mulyani

A+
A-
1
A+
A-
1
Sebut Harga Rokok Bakal Makin Mahal, Ini Harapan Sri Mulyani

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat memberikan paparan mengenai kebijakan cukai hasil tembakau pada 2021. (tangkapan layar Youtube)

JAKARTA, DDTCNews – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok rata-rata sebesar 12,5% pada 2021 bisa berdampak pada penurunan prevalensi merokok.

Sri Mulyani mengatakan angka prevalensi merokok yang tinggi menjadi salah satu pertimbangan penting pemerintah dalam menaikkan tarif CHT. Dia berharap prevalensi merokok yang saat ini 33,8% bisa turun menjadi 32,2% berkat kenaikan tarif cukai rokok.

“Diharapkan akan mengendalikan konsumsi rokok atau menurunkan prevalensi merokok, terutama pada anak-anak dan perempuan," katanya melalui konferensi video, Kamis (10/12/2020).

Baca Juga: Sri Mulyani: Kalau Mau Beli Mobil, Sebaiknya Sekarang Sampai Mei

Sri Mulyani mengatakan kebijakan kenaikan tarif CHT akan membuat harga rokok menjadi lebih mahal. Menurut hitungannya, affordability index rokok akan naik menjadi 13,7% hingga 14% dari saat ini 12,2%. Dengan demikian, menurutnya, rokok makin tidak terbeli oleh anak-anak.

Dengan pertimbangan itu, dia berharap angka prevalensi merokok pada anak usia 10-18 tahun turun menjadi 8,7% pada 2024 dari saat ini 9,1%, seperti yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Selain itu, Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan industri rokok juga akan turun 3,2% akibat kenaikan tarif cukai pada 2021. Adapun volume produksinya, diperkirakan sebanyak 288,8 miliar batang sepanjang 2021.

Baca Juga: Soal Imbalan Bunga, Wajib Pajak Perlu Ajukan Permohonan

Walaupun ingin mengendalikan produksi rokok, Sri Mulyani menegaskan pemerintah juga ingin melindungi para pekerja di sektor usaha tersebut. Hal itu utamanya pada rokok golongan sigaret kretek tangan (SKT) yang tarif cukainya tidak naik pada tahun depan. Industri tersebut saat ini sedang mempekerjakan 158.552 orang.

Demikian pula pertimbangan nasib para petani tembakau. Sri Mulyani juga menghitung tingkat serapan tembakau dari petani lokal oleh industri.

"Kenaikan tarif cukai sigaret kretek yang lebih rendah dan kenaikan tarif cukai sigaret putih, bahkan SKT dalam hal ini tidak mengalami kenaikan, diharapkan akan memberikan kepastian kepada penyerapan hasil tembakau para petani," ujarnya. (kaw)

Baca Juga: Barang Kena Cukai, Tarif, dan Harga Dasar

Topik : cukai, cukai hasil tembakau, cukai rokok, DJBC, Sri Mulyani
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 23 Februari 2021 | 17:15 WIB
PENERIMAAN CUKAI
Selasa, 23 Februari 2021 | 16:00 WIB
INSENTIF PAJAK
Selasa, 23 Februari 2021 | 15:45 WIB
KINERJA FISKAL
Selasa, 23 Februari 2021 | 15:20 WIB
KINERJA FISKAL
berita pilihan
Selasa, 02 Maret 2021 | 16:15 WIB
INSENTIF PAJAK
Selasa, 02 Maret 2021 | 16:00 WIB
PMK 21/2021
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:45 WIB
KABUPATEN NGAWI
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:41 WIB
PELAPORAN SPT
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:15 WIB
PMK 21/2021
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:13 WIB
WIDJOJO NITISASTRO:
Selasa, 02 Maret 2021 | 14:45 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH
Selasa, 02 Maret 2021 | 14:30 WIB
AKUNTABILITAS KEUANGAN
Selasa, 02 Maret 2021 | 14:16 WIB
KONSULTAN PAJAK
Selasa, 02 Maret 2021 | 14:15 WIB
KONSULTASI