Fokus
Literasi
Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 08 Agustus 2022 | 18:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 05 Agustus 2022 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 05 Agustus 2022 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:07 WIB
KURS PAJAK 10 AGUSTUS - 16 AGUSTUS 2022
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 3 AGUSTUS - 9 AGUSTUS 2022
Senin, 01 Agustus 2022 | 16:00 WIB
KMK 39/2022
Rabu, 27 Juli 2022 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 27 JULI - 2 AGUSTUS 2022
Reportase

Pemerintah Permudah Eksportir Dapatkan Tarif Preferensi di Asean

A+
A-
1
A+
A-
1
Pemerintah Permudah Eksportir Dapatkan Tarif Preferensi di Asean

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi (kanan) bersiap mengikuti ASEAN Economic Ministers' Special Meeting 2022 di Badung, Bali, Rabu (18/5/2022). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.

JAKARTA, DDTCNews – Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 32/2022 tentang Ketentuan Asal Barang Indonesia dan Ketentuan Penerbitan Dokumen Keterangan Asal untuk Barang Asal Indonesia Berdasarkan Asean Trade in Goods Agreement (ATIGA).

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan ketentuan mengenai ATIGA atau persetujuan perdagangan barang Asean tersebut bertujuan untuk mempermudah proses dalam mendapatkan tarif preferensi di wilayah Asean.

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 32/2022 selanjutnya mencabut Permendag No. 71/2020. Mendag berharap revisi tersebut akan meningkatkan ekspor sehingga berkontribusi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Keterbukaan Informasi Perpajakan Punya Peran dalam Menekan Korupsi

"Perubahan OCP skema ATIGA ini diharapkan meningkatkan kemudahan eksportir mendapatkan tarif preferensi pada skema ATIGA serta menambahkan informasi pada Dokumen Keterangan asal yang berlaku pada skema ATIGA," katanya dalam keterangan resmi, Selasa (7/6/2022).

Lutfi menuturkan revisi Permendag 32/2022 dilakukan berdasarkan kesepakatan dalam pertemuan Asean Free Trade Area (AFTA) Council ke-35 pada tahun lau untuk mengubah prosedur penerbitan dokumen keterangan asal (Operational Certificate Procedure/OCP) skema ATIGA.

Dalam forum tersebut, anggota Asean, kecuali Vietnam, menyepakati implementasi perubahan OCP skema ATIGA mulai 1 Mei 2022.

Baca Juga: Banyak yang Makin Kaya Selama Pandemi, Negara Ini Pajaki Barang Mewah

Mendag menjelaskan perubahan OCP skema ATIGA perlu dilakukan untuk meningkatkan ekosistem perdagangan yang lebih dinamis dan kompetitif di kawasan Asean. Perubahan itu makin mendesak seiring dengan perkembangan ekspor kawasan Asean dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Veri Anggrijono menjelaskan cakupan perubahan ATIGA antara lain perubahan OCP yang berdampak pada tata cara pengisian Surat Keterangan Asal (SKA) form D.

Selain itu, perubahan OCD juga berdampak terhadap ketentuan pada overleaf notes, di antaranya pengaturan baru tentang ketentuan Back to Back Certificate of Origin dan SKA yang terbit secara retrospektif (issued retroactively).

Baca Juga: NIK Sebagai NPWP, Pemerintah Siapkan Mitigasi Kebocoran Data WP

Selama masa transisi, negara anggota Asean dapat menggunakan SKA form D lama atau form D baru dengan tetap mengacu kepada OCP ATIGA yang baru.

Blanko SKA Form D lama dengan cetakan overleaf notes masih dapat digunakan hingga 31 Oktober 2022 dengan tetap mengacu kepada perubahan OCP ATIGA.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 81/2022 yang mengatur tata cara pengenaan tarif bea masuk atas barang impor berdasarkan skema ATIGA.

Baca Juga: NIK Sebagai NPWP Permudah DJP Awasi Wajib Pajak

Peraturan itu menyempurnakan ketentuan terdahulu yang termuat dalam PMK 131/2020 untuk mengakomodasi amandemen OCP ATIGA dan amandemen SKA form D. (rig)

Topik : menteri perdagangan lutfi, permendag 32/2022, tarif preferensi, Asean, eksportir, nasional

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 08 Agustus 2022 | 11:45 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Hingga Juli 2022, APBN Cetak Surplus Rp106,1 Triliun

Senin, 08 Agustus 2022 | 10:45 WIB
AMERIKA SERIKAT

Biden Harap DPR Segera Sepakati Pajak Korporasi Minimum 15 Persen

Senin, 08 Agustus 2022 | 10:00 WIB
THAILAND

Pariwisata Masih Megap-Megap, Otoritas Ini Tunda Lagi Pajak Turis

Minggu, 07 Agustus 2022 | 16:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Hapus NPWP Butuh Waktu Berapa Lama? Simak Penjelasan DJP Ini

berita pilihan

Kamis, 11 Agustus 2022 | 08:26 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

NIK Sebagai NPWP, Bagaimana DJP Jaga Keamanan Data Wajib Pajak?

Rabu, 10 Agustus 2022 | 19:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Keterbukaan Informasi Perpajakan Punya Peran dalam Menekan Korupsi

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:45 WIB
KEBIJAKAN KEPABEANAN

Menyimak Lagi Siasat DJBC Lindungi Perusahaan dari Pukulan Pandemi

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Nomor Identitas Tempat Kegiatan Usaha?

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:05 WIB
PER-03/PJ/2022

Upload Faktur Pajak Muncul Eror ETAX-API-10041, Perhatikan Tanggalnya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:10 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

DJP Kembangkan CRM-BI, Data Keuangan dan Aset Wajib Pajak Berperan

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:30 WIB
PMK 112/2022

NIK Jadi NPWP Bisa Dorong Standardisasi Identitas, Ini Alasannya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:09 WIB
PER-03/PJ/2022

Isi Keterangan Jenis Barang dalam Faktur Pajak? Begini Ketentuannya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:00 WIB
KPP PRATAMA BATANG

WP Tak Lunasi Tagihan Rp285 Juta, Kantor Pajak Adakan Penyitaan Aset