Berita
Jum'at, 01 Juli 2022 | 21:15 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Jum'at, 01 Juli 2022 | 20:17 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Jum'at, 01 Juli 2022 | 19:01 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Jum'at, 01 Juli 2022 | 18:35 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Fokus
Data & Alat
Rabu, 29 Juni 2022 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 26 JUNI - 5 JULI 2022
Selasa, 28 Juni 2022 | 19:00 WIB
STATISTIK CUKAI DUNIA
Rabu, 22 Juni 2022 | 13:15 WIB
STATISTIK KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 22 Juni 2022 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 22 JUNI - 28 JUNI 2022
Komunitas
Kamis, 30 Juni 2022 | 11:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Rabu, 29 Juni 2022 | 16:01 WIB
DDTC ACADEMY - EXCLUSIVE SEMINAR
Rabu, 29 Juni 2022 | 11:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Selasa, 28 Juni 2022 | 20:01 WIB
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Reportase
Perpajakan ID

Pemberian Fasilitas Restitusi Dipercepat Bakal Dievaluasi, Ada Apa?

A+
A-
5
A+
A-
5
Pemberian Fasilitas Restitusi Dipercepat Bakal Dievaluasi, Ada Apa?

Ilustrasi gedung Kemenkeu.

JAKARTA, DDTCNews – Pada awal 2020, Kementerian Keuangan akan mengevaluasi pemberian fasilitas restitusi dipercepat. Topik tersebut menjadi bahasan sejumlah media nasional pada hari ini, Senin (3/2/2020).

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan evaluasi akan dilakukan terkait implementasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 117/PMK.03/2019.

Evaluasi akan difokuskan pada sisi administrasi, pemeriksaan, dan pengawasan (monitoring). Apalagi, fasilitas restitusi dipercepat diberikan berdasarkan pada klasifikasi kepatuhan wajib pajak. Baca Kamus Pajak ‘Apa Itu Restitusi Dipercepat?’.

Baca Juga: Mau Tahu Hasil Pelaksanaan PPS 2022? Simak Data dari Ditjen Pajak Ini

“Pengaturan yang kita perbaiki. Artinya, penerapan dan pelaksanaan restitusi. Kalau pemerintah tetap mempercepat restitusi ini kontrolnya harus tetap berjalan,” ujar Rofyanto, seperti yang diberitakan Kontan.

Sejumlah media nasional juga masih menyoroti integrasi data perpajakan yang sudah dilakukan oleh dua BUMN, yaitu Pertamina dan PLN. Kementerian BUMN menargetkan perusahaan pelat merah besar dan mendapat kucuran dana APBN untuk bisa mengintegrasikan data dengan Ditjen Pajak (DJP).

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Datangi Alamat WP, Petugas Pajak Gali Informasi Soal Omzet Usaha
  • Rem Restitusi di Akhir 2019

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengkonfirmasi adanya penahanan pencarian restitusi pada akhir tahun lalu. Hal ini diungkapkan saat menanggapi pernyataan anggota DPR terkait keluhan pelaku usaha yang mengalami kesulitan pencairan restitusi pada kuartal IV/2019.

“Begitu 6 bulan [semester II/2019] kenaikannya [restitusi] besar. Ini mulai ada alarm sehingga di Oktober kita mulai rem karena pertumbuhannya yang tinggi sekali, padahal penerimaan kita dari PPN rasanya tidak jalan. Artinya, ini tidak nyambung," paparnya. (DDTCNews)

  • Adanya Kontrol

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara BKF Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan mengatakan terhadap banyaknya pengajuan restitusi selama ini, DJP melakukan checking dengan metode manajemen risiko karena tidak memungkinkan pemeriksaan satu per satu.

Baca Juga: APBN Surplus Rp73,6 Triliun, Sri Mulyani Singgung Dampaknya ke Utang

“Memang karena terkendala masalah SDM dan sebagainya itu kemungkinan diterbitkan dengan proses yang lebih cepat. Kalau kita mau lebih fokus melakukan pemeriksaan dan sebagainya, mestinya itu bisa dikontrol,” katanya. (Kontan)

  • Post Audit Pakai CRM

Direktur Pemeriksaan dan Penagihan DJP Irawan mengatakan post audit akan dilakukan untuk memastikan fasilitas fiskal yang diberikan tepat sasaran dan benar-benar membantu pelaku usaha. Sistem compliance risk management (CRM) akan membantu otoritas pajak dalam melakukan audit.

"CRM akan menjadi suatu alat. Jadi, ketika WP [wajib pajak] memperoleh pengembalian pendahuluan maka kita cek ke CRM bagaimana kepatuhannya. Kalau bagus maka mekanisme pemberiannya [restitusi dipercepat] sudah benar,” katanya. (DDTCNews)

Baca Juga: Sudah Berakhir, Menu Layanan PPS di DJP Online Tidak Tersedia Lagi
  • Integrasi Data Perpajakan Jadi KPI

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara berharap seluruh pejabat Kementerian Keuangan yang menduduki jabatan komisaris di perusahaan pelat merah untuk membantu pengintegrasian data perpajakan perusahaan tersebut dengan DJP.

“Semua komisaris BUMN dari Kemenkeu KPI-nya adalah bisa mengintegrasikan data. Kalau tidak kita ganti saja sama yang bisa integrasi data,” tegasnya. (Bisnis Indonesia)

  • Holding Perusahaan BUMN Jadi Prioritas

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin mengatakan perusahaan BUMN yang menerima bantuan atau subsidi dari dana APBN harus bekerja sama dengan DJP demi transparansi dan keterbukaan. Integrasi data perpajakan menjadi langkah awal.

Baca Juga: PPS Berakhir, Apa Selanjutnya? Begini Kata Dirjen Pajak

"Yang pertama saya minta BUMN yang bentuknya holding dan yang besar-besar dan juga yang mendapat uang dari pemerintah. Lucu kalau minta uang dari pemerintah, tapi tak terbuka ke pemerintah,” tegasnya. (Bisnis Indonesia)

  • Kompensasi Risiko Penurunan Tarif PPh Badan

Bank Indonesia meminta pemerintah untuk memperkuat sistem pengumpulan penerimaan pajak. Pasalnya, penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) badan – yang rencananya masuk dalam omnibus law perpajakan – akan berdampak pada penurunan tax ratio dalam jangka pendek.

Padahal, pada saat yang bersamaan, Indonesia masih membutuhkan dana cukup banyak untuk pembangunan infrastruktur, perbaikan pendidikan, dan penguatan bantalan pengamanan sosial. Dengan demikian, pemerintah harus mempersiapkan kebijakan yang bisa mengompensasi risiko yang bisa terjadi dari penurunan tarif PPh badan. (The Jakarta Post) (kaw)

Baca Juga: Awas! DJP Sebut Batas Akhir Penyampaian SPPH Pakai Zona Waktu WIB

Topik : berita pajak, berita pajak hari ini, restitusi, restitusi pajak, restitusi dipercepat, CRM, DJP, pem

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 29 Juni 2022 | 08:31 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Tidak Semua Pemilik NIK Bakal Wajib Bayar Pajak, Ini Kata Pemerintah

Selasa, 28 Juni 2022 | 20:01 WIB
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Jelang Akhir Juni 2022, USU Gelar Pojok PPS

Selasa, 28 Juni 2022 | 17:55 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

NIK Jadi NPWP Mulai 2023, Siapa yang Wajib Bayar Pajak?

Selasa, 28 Juni 2022 | 17:54 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Anggarkan Rp35,5 Triliun, Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Segera Cair

berita pilihan

Jum'at, 01 Juli 2022 | 21:15 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Mau Tahu Hasil Pelaksanaan PPS 2022? Simak Data dari Ditjen Pajak Ini

Jum'at, 01 Juli 2022 | 20:17 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Mayoritas Harta Luar Negeri PPS Tak Direpatriasi, Ini Kata Sri Mulyani

Jum'at, 01 Juli 2022 | 19:01 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Pasca-PPS, Sri Mulyani Mulai Fokus ke Pengawasan dan Penegakan Hukum

Jum'at, 01 Juli 2022 | 18:35 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Wajib Pajak Peserta Tax Amnesty Ungkap Harta Rp399 Triliun Lewat PPS

Jum'at, 01 Juli 2022 | 18:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu Valuation Ruling dalam Kepabeanan?

Jum'at, 01 Juli 2022 | 17:00 WIB
KPP PRATAMA BENGKULU SATU

Gali Potensi Pajak, Petugas KPP Kunjungi Gudang Beras

Jum'at, 01 Juli 2022 | 16:45 WIB
DATA PPS HARI INI

PPS Ditutup! Ini Rekapitulasi Lengkap Peserta dan Harta yang Diungkap

Jum'at, 01 Juli 2022 | 16:30 WIB
KP2KP BENTENG

Datangi Alamat WP, Petugas Pajak Gali Informasi Soal Omzet Usaha

Jum'at, 01 Juli 2022 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK

Cara Buat Faktur Pajak dengan Kode Transaksi 09 Lewat e-Faktur 3.2