JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Mei 2026 mengalami defisit senilai US$1,61 miliar. Defisit ini mengakhiri surplus neraca dagang yang berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Defisit neraca dagang disebabkan oleh melonjaknya defisit neraca dagang migas di tengah penurunan surplus neraca dagang nonmigas.
"Defisit pada komoditas migas sebesar minus US$3,76 miliar dengan penyumbang defisit dari hasil minyak dan minyak mentah," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Rabu (1/7/2026).
Impor migas pada Mei 2026 tercatat melonjak sebesar 70,78%% menjadi senilai US$4,51 miliar, sedangkan ekspor migas turun sebesar 31,76% dengan nilai ekspor hanya US$0,76 miliar.
Adapun neraca dagang nonmigas mencatatkan surplus senilai US$2,15 miliar. Komoditas penyumbang surplus antara lain bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), serta besi dan baja (HS 72).
Meski masih surplus, perlu dicatat bahwa surplus neraca dagang nonmigas pada Mei 2026 juga telah menurun sebesar 63% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Komoditas nonmigas yang menekan surplus neraca dagang antara lain mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), serta plastik dan barang dari plastik (HS 39).
Adapun negara-negara penyumbang defisit nonmigas terbesar antara lain China, Australia, serta Prancis. (dik)
