JAKARTA, DDTCNews - Penerimaan kepabeanan dan cukai terkumpul Rp100,6 triliun hingga 30 April 2026. Kinerja penerimaan ini tumbuh 0,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penerimaan kepabeanan dan cukai yang mulai tumbuh positif ini menunjukkan terdapat perbaikan pada kegiatan ekspor dan impor, serta peningkatan produksi rokok.
"Januari sampai Maret tuh pertumbuhannya minus, sekarang sudah positif 0,6%. Ini ke depan akan lebih positif lagi," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip pada Rabu (20/5/2026).
Menurut Purbaya, pertumbuhan penerimaan kepabeanan dan cukai juga didorong oleh perbaikan instansi serta sumber daya manusia (SDM) atau pegawai di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai (DJBC).
Secara keseluruhan, setoran kepabeanan dan cukai yang terealisasi senilai Rp100,6 triliun ini telah mencapai 29,9% dari target sebesar Rp336 triliun.
Lebih lanjut, ada 3 jenis komponen penerimaan kepabeanan dan cukai. Pertama, setoran cukai terkumpul senilai Rp74,8 triliun atau tumbuh sebesar 2,2% lantaran didorong oleh peningkatan produksi rokok pada kuartal I/2026.
Kedua, setoran bea keluar terkumpul Rp9,3 triliun atau mengalami kontraksi sebesar 17,5%. Meski masih minus, setoran bea keluar mulai meningkat sejalan dengan penguatan harga crude palm oil (CPO) pada Maret dan April 2026.
Kementerian Keuangan mencatat rata-rata harga CPO pada April 2026 mencapai US$1.124,5 per metrik ton atau tumbuh 5,6% dibandingkan tahun lalu. Angka itu juga lebih tinggi daripada harga rata-rata CPO pada Januari-Februari 2026 yang hanya US$917 per metrik ton.
Ketiga, penerimaan bea masuk terealisasi Rp16,4 triliun. Setoran bea masuk mampu tumbuh 6,4% karena didorong kinerja impor komoditas liquefied petroleum gas (LPG) dan kebutuhan proyek. (dik)
