KOLOMBO, DDTCNews - Pemerintah Sri Lanka memberlakukan bea masuk tambahan sebesar 50% atas impor kendaraan bermotor seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang tidak kunjung mereda.
Menteri Keuangan Muda Sri Lanka Anil Jayantha Fernando mengatakan bea masuk tambahan bertujuan mengendalikan impor mobil untuk sementara waktu. Kebijakan itu juga sejalan dengan upaya melindungi cadangan devisa dan mengurangi tekanan terhadap mata uang rupee.
"Mengingat kondisi geopolitik saat ini menekan nilai tukar mata uang asing, kami ingin masyarakat menunda impor kendaraan selama 3 bulan ke depan," ujarnya, dikutip pada Selasa (19/5/2026).
Sebelum ada kenaikan tarif, kendaraan impor dari luar negeri dikenai bea masuk sebesar 30%. Namun, karena ditambah dengan pungutan lainnya, sebenarnya total bea masuk dan pajak impor mobil yang berlaku sudah melebihi 100%.
Di sisi lain, pemerintah Sri Lanka juga menaikkan harga energi lebih dari sepertiga, serta menerapkan penjatahan solar dan bensin sejak dimulainya perang di Timur Tengah. Kebijakan itu ditempuh guna mengurangi biaya impor bahan bakar minyak (BBM) saat harga energi dunia sedang tinggi.
Dilansir straitstimes.com, pengurangan impor sementara ini diyakini dapat menjaga cadangan devisa dan stabilitas kurs. Pasalnya, nilai tukar rupee Sri Lanka hingga saat ini sudah terdepresiasi sebesar 4,5% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Sri Lanka Nandalal Weerasinghe memperkirakan rupee akan terus merosot, kecuali harga minyak global turun atau pemerintah mengurangi impor energi.
Adapun Sri Lanka tengah bangkit dari krisis ekonomi terburuknya pada 2022 lalu. Krisis terjadi karena negara kehabisan devisa untuk membiayai impor, terutama komoditas penting seperti makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Sejak saat itu, Sri Lanka menerima program bantuan dana dari International Monetary Fund (IMF) senilai US$2,9 miliar atau setara Rp51,40 triliun. (dik)
