ADMINISTRASI PAJAK

Ada Peraturan Baru, Begini Ketentuan Zakat sebagai Pengurang PPh Badan

Nora Galuh Candra Asmarani
Jumat, 20 Maret 2026 | 16.00 WIB
Ada Peraturan Baru, Begini Ketentuan Zakat sebagai Pengurang PPh Badan
<p>Pemudik melaksanakan shalat di Posko Mudik Baznas, Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (19/3/2026).&nbsp;ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/rwa.</p>

JAKARTA, DDTCNews – Tidak hanya wajib pajak orang pribadi, wajib pajak badan juga bisa mengurangkan zakat dari penghasilan brutonya dalam penghitungan penghasilan kena pajak. Biaya yang dikeluarkan untuk zakat tersebut dapat dikurangkan sepanjang memenuhi ketentuan.

Ketentuan terbaru mengenai zakat sebagai pengurang penghasilan bruto diatur dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, Peraturan Pemerintah (PP) 60/2010, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 114/2025 , PER-6/PJ/2011, dan PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d PER-22/PJ/2025.

“Zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh ... wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah,” bunyi Pasal 1 ayat (1) huruf a PP 60/2010, dikutip pada Jumat (20/3/2024).

Pasal tersebut menegaskan zakat dapat menjadi pengurang penghasilan bruto bagi wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam. Zakat itu dapat dikurangkan sepanjang dibayarkan kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.

Saat ini, badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah tersebut dapat dilihat pada Lampiran PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d PER-22/PJ/2025.

Berdasarkan lampiran itu, ada 3 badan amil zakat nasional (Baznas) dan 49 lembaga amil zakat (LAZ) skala nasional, 2 lembaga amil zakat, infaq, dan shodaqoh (Lazis), 39 LAZ skala provinsi, dan sekitar 93 LAZ skala kabupaten/kota.

Apabila pengeluaran untuk zakat tidak dibayarkan kepada BAZ atau LAZ yang dimaksud maka pengeluaran tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Adapun wajib pajak dapat membayarkan zakat berupa uang atau yang disetarakan dengan uang.

Untuk zakat yang diberikan tidak dalam bentuk uang maka nilai zakat dihitung berdasarkan nilai atau harga pasar pada saat zakat dibayarkan atau diserahkan. Sementara itu, apabila zakat yang diserahkan merupakan hasil produksi sendiri maka nilainya ditentukan berdasarkan harga pokok penjualan (HPP).

Selain dibayarkan kepada BAZ atau LAZ yang ditetapkan, ada 2 syarat lain yang harus dipenuhi sebagaimana diatur dalam PMK 114/2025. Pertama, pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan tidak menyebabkan rugi fiskal pada tahun pajak zakat dibayarkan.

Apabila pembayaran zakat membuat rugi fiskal maka jumlah zakat yang dapat dikurangkan hanya sebesar jumlah yang tidak menyebabkan rugi fiskal. Pembatasan jumlah zakat yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto ini merupakan ketentuan baru yang diatur dalam PMK 114/2025.

Kedua, didukung oleh bukti pembayaran yang sah. PMK 114/2025 pun telah memerinci kriteria bukti pembayaran zakat yang dianggap sah sebagai dokumen pendukung pengurangan pajak. Simak Kurangkan Zakat dari Penghasilan Bruto, Ada Kriteria Bukti Bayarnya

Dalam hal wajib pajak badan menjadikan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto maka pengurangan tersebut harus dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak Badan.

Sebagai informasi, sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam juga dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Begitu pula dengan zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dibayarkan orang pribadi.

Ketentuannya pun serupa dan sama-sama diatur dalam dalam UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, Peraturan Pemerintah (PP) 60/2010, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 114/2025 , PER-6/PJ/2011, dan PER-04/PJ/2022 s.t.d.t.d PER-22/PJ/2025.

“Sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi wajib pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama islam dan/atau oleh wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama islam, yang diakui di indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.” bunyi Pasal 1 ayat (1) huruf b PP 60/2010. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.