JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) kembali memberikan asistensi atau pendampingan dalam rangka mendorong kemandirian dan daya saing pelaku UMKM lokal.
Kasubdit Humas dan Penyuluhan DJBC Budi Prasetiyo mengatakan pendampingan tersebut merupakan tugas bea dan cukai sebagai trade facilitator. Tujuannya, untuk mempersiapkan UMKM agar naik kelas, dan mendorong produk-produk UMKM supaya tembus pasar global.
"DJBC tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan, tetapi juga berperan sebagai trade facilitator yang memastikan pelaku UMKM memahami prosedur dan ketentuan ekspor sejak tahap awal," ujarnya, dikutip pada Selasa (3/3/2026).
Budi menyampaikan kegiatan pendampingan kali ini digelar oleh 2 unit vertikal DJBC, yakni DJBC Lhokseumawe, serta DJBC Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Dia meyakini rangkaian kegiatan itu dapat membangun ekosistem ekspor yang inklusif dan berkelanjutan, serta memperkuat UMKM sebagai penggerak ekonomi daerah.
Dia juga menjelaskan DJBC Lhokseumawe berpartisipasi dalam sebuah forum group disscussion bersama dengan Bank Indonesia dan beberapa UMKM mitra binaan. Pihak yang terlibat turut membahas rencana kolaborasi pengembangan UMKM sepanjang 2026, dan perluasan akses pasar hingga ekspor.
Dalam FGD, petugas DJBC memberikan tips mengenai ketentuan ekspor, terutama kesiapan dokumen, klasifikasi barang, dan pemenuhan standar produk. Pemaparan tersebut diperuntukkan bagi pelaku UMKM, Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren), dan usaha di sektor pangan trandisional, khususnya orang-orang yang aktif menggelar tradisi Meugang di Aceh.
Sementara itu, Kanwil DJBC Sulbagsel melakukan kunjungan kerja ke Sentra UMKM Bank Sulselbar di Makassar. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha dan fiskus untuk berdiskusi langsung mengenai peluang ekspor dan pemanfaatan fasilitas kepabeanan.
Budi menyampaikan ada 2 UMKM binaan yang berhasil menembus pasar internasional. Ini mencakup produk keripik pisang kepok merek Bachiss asal Pinrang yang diekspor ke Jepang, dan kopi robusta dari Luwu Utara yang dipasarkan ke Eropa.
"Kolaborasi antara pembina UMKM, lembaga keuangan, dan Bea Cukai akan mempercepat proses naik kelas. Kami siap membuka ruang konsultasi agar pelaku usaha lebih percaya diri memasuki pasar ekspor," kata Budi. (rig)
