WASHINGTON D.C., DDTCNews - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengajak warganya untuk turut memberikan donasi kepada korban gempa di Venezuela.
Dalam merespons gempa di Venezuela, pemerintah AS mengumumkan bantuan yang ditujukan untuk korban bencana bisa diklaim sebagai pengurang pajak. Namun, wajib pajak perlu memperhatikan lembaga amal yang dipilih agar donasi bisa dihitung sebagai pengurang pajak.
"Donasi kepada badan amal yang memenuhi syarat mungkin dapat dikurangkan dari pajak. Mintalah tanda terima untuk arsip Anda dan konfirmasikan dengan petugas pajak," bunyi pengumuman di laman resmi Departemen Luar Negeri AS, dikutip pada Selasa (30/6/2026).
Dalam memberikan donasi, Departemen Luar Negeri juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati memilih lembaga amal. Masyarakat diminta untuk selalu verifikasi keabsahan organisasi sebelum berdonasi.
Sementara itu, Internal Revenue Service (IRS) dalam laman resminya menjelaskan bantuan untuk bencana di luar negeri bisa menjadi pengurang pajak asal disalurkan melalui organisasi nirlaba yang terdaftar dan memenuhi syarat di AS.
Sementara itu, sumbangan yang diberikan langsung kepada individu atau badan amal luar negeri umumnya tidak dapat dikurangkan, kecuali diizinkan oleh tax treaty.
Sebagai informasi, Venezuela mengalami 2 gempa bumi kuat pada 24 Juni 2026 di lepas pantai utara, sebelah barat Caracas. Guncangan pertama dilaporkan sekitar magnitudo 7,2, diikuti oleh gempa utama yang lebih besar dengan magnitudo sekitar 7,5.
Gempa-gempa ini telah menyebabkan kerusakan signifikan di beberapa kota. Hingga Senin (29/6/2026), korban gempa di Venezuela dilaporkan mencapai 1.719 jiwa.
Presiden AS Donald Trump termasuk kepala negara yang pertama menjanjikan bantuan kepada Venezuela.
"AS siap, bersedia, dan mampu membantu! Saya telah menginstruksikan semua lembaga pemerintah kita untuk bersiap bergerak cepat," tulis Trump di platform Truth Social dilansir aljazeera.com.
Secara historis, Venezuela pernah mengalami tekanan akibat sanksi berat dari AS. Sanksi tersebut memicu krisis ekonomi, kelangkaan bahan pangan, serta hiperinflasi di Venezuela.
Pada 2005 dan 2006, utang luar negeri Venezuela melesat dari US$25 juta menjadi US$120 juta.
Belakangan, hubungan kedua negara mencair setelah intervensi militer AS yang menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari 2026. Pemerintahan baru di bawah Presiden Delcy Rodriguez telah menjalin hubungan yang stabil dengan pemerintahan Trump, yang sejak itu berupaya membangun kembali investasi AS di sektor minyak Venezuela. (dik)
