Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Atasi Krisis, Pimpinan Uni Eropa Berembuk

0
0

LONDON, DDTCNews – Perdana Menteri Inggris David Cameron akan menghadiri pertemuan yang diadakan oleh negara-negara mitra Uni Eropa (UE). Pertemuan ini diadakan terkait dengan keputusan Inggris untuk meninggalkan blok yang berisikan 28 anggota ini.

Brexit mengakibatkan mata uang Inggris jatuh dan imbasnya juga terasa pada saham Eropa yang melemah. Menanggapi hal ini, dalam pidato pertamanya sejak hasil referendum diumumkan pada Kamis (23/6), Perdana Menteri Inggris, David Cameron mengatakan bahwa Inggris akan berusaha untuk memperbaiki hubungan ekonomi dengan negara tetangga di Eropa.

“Inggris akan berusaha sekuat mungkin untuk menjalin hubungan ekonomi dengan negara-negara tetangga,” kata Cameron.

Baca Juga: Tax Havens, Mesin Global Pelanggaran HAM Internasional

Dari banyak perubahan yang timbul akibat Brexit, salah satu yang paling menonjol adalah perihal seberapa besar dampaknya pada pertumbuhan ekonomi Inggris dan Eropa. Tapi ternyata, meski Brexit akan mendera Inggris sendiri, UE, dan negara-negara mitra Inggris terutama Amerika Serikat, Brexit tidak berarti banyak dan bukan malapetaka bagi dunia, khususnya Asia.

Ekonom peraih Nobel Ekonomi 2008 Paul Krugman mengatakan Brexit sebenarnya tidak terlalu banyak merugikan Inggris, karena tidak serta merta memutus rantai ekonomi denga UE yang sudah terjalin. Meskipun ada potensi penurunan pertumbuhan sebesar 2% berdasarkan perhitungan kemungkinan terburuk.

Namun demikian, mata uang Inggris, Pound telah jatuh lebih dari 3% ke level terendah selama 31 tahun terakhir. Begitu pula dengan indeks saham bank Eropa yang jatuh 7,5% pada malam tadi.

Baca Juga: Wah, 32 Juta Orang Bakal Bayar PPh Lebih Sedikit Tahun Ini

Para pemimpim UE akan bertemu pada pertemuan puncak di Brussels hari ini, dan akan membahas mengenai krisis pada keesokan harinya tanpa Cameron.

Sementara itu, seperti yang dilansir The Straits Times, para pemimpin negara Jerman, Perancis dan Italia juga bertemu kemarin. Dalam pertemuan itu, Perdana Menteri Italia Matteo Renzi mengatakan Eropa harus bergerak cepat untuk menghadapi Brexit, jangan sampai ada waktu yang terbuang. (Amu)

Baca Juga: Tunawisma Didenda, Otoritas Pajak Dinilai Kurang Kasih Sayang

“Inggris akan berusaha sekuat mungkin untuk menjalin hubungan ekonomi dengan negara-negara tetangga,” kata Cameron.

Baca Juga: Tax Havens, Mesin Global Pelanggaran HAM Internasional

Dari banyak perubahan yang timbul akibat Brexit, salah satu yang paling menonjol adalah perihal seberapa besar dampaknya pada pertumbuhan ekonomi Inggris dan Eropa. Tapi ternyata, meski Brexit akan mendera Inggris sendiri, UE, dan negara-negara mitra Inggris terutama Amerika Serikat, Brexit tidak berarti banyak dan bukan malapetaka bagi dunia, khususnya Asia.

Ekonom peraih Nobel Ekonomi 2008 Paul Krugman mengatakan Brexit sebenarnya tidak terlalu banyak merugikan Inggris, karena tidak serta merta memutus rantai ekonomi denga UE yang sudah terjalin. Meskipun ada potensi penurunan pertumbuhan sebesar 2% berdasarkan perhitungan kemungkinan terburuk.

Namun demikian, mata uang Inggris, Pound telah jatuh lebih dari 3% ke level terendah selama 31 tahun terakhir. Begitu pula dengan indeks saham bank Eropa yang jatuh 7,5% pada malam tadi.

Baca Juga: Wah, 32 Juta Orang Bakal Bayar PPh Lebih Sedikit Tahun Ini

Para pemimpim UE akan bertemu pada pertemuan puncak di Brussels hari ini, dan akan membahas mengenai krisis pada keesokan harinya tanpa Cameron.

Sementara itu, seperti yang dilansir The Straits Times, para pemimpin negara Jerman, Perancis dan Italia juga bertemu kemarin. Dalam pertemuan itu, Perdana Menteri Italia Matteo Renzi mengatakan Eropa harus bergerak cepat untuk menghadapi Brexit, jangan sampai ada waktu yang terbuang. (Amu)

Baca Juga: Tunawisma Didenda, Otoritas Pajak Dinilai Kurang Kasih Sayang
Topik : berita pajak internasional, pajak internasional, brexit, inggris, uni eropa
artikel terkait
Jum'at, 15 Februari 2019 | 16:51 WIB
AUSTRALIA
Jum'at, 15 Februari 2019 | 15:40 WIB
SELANDIA BARU
Jum'at, 15 Februari 2019 | 15:30 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Jum'at, 15 Februari 2019 | 14:45 WIB
BELANDA
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA
Kamis, 05 Juli 2018 | 10:45 WIB
NIKARAGUA
Kamis, 15 November 2018 | 14:19 WIB
BULGARIA
Rabu, 01 Maret 2017 | 12:15 WIB
MALAYSIA
Kamis, 02 Agustus 2018 | 14:06 WIB
JEPANG