Review
Minggu, 09 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KEPALA KKP PRATAMA JAKARTA MAMPANG PRAPATAN IWAN SETYASMOKO:
Kamis, 06 Agustus 2020 | 16:26 WIB
TAJUK
Selasa, 04 Agustus 2020 | 09:19 WIB
OPINI PAJAK
Kamis, 30 Juli 2020 | 11:01 WIB
OPINI EKONOMI
Fokus
Literasi
Senin, 10 Agustus 2020 | 17:29 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 10 Agustus 2020 | 16:58 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 10 Agustus 2020 | 16:15 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 10 Agustus 2020 | 14:27 WIB
SISTEM PAJAK
Data & alat
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 05 Agustus 2020 | 08:57 WIB
KURS PAJAK 5 AGUSTUS-11 AGUSTUS 2020
Selasa, 04 Agustus 2020 | 16:12 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PERPAJAKAN
Minggu, 02 Agustus 2020 | 16:00 WIB
STATISTIK PAJAK KEKAYAAN
Komunitas
Sabtu, 08 Agustus 2020 | 14:01 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Sabtu, 08 Agustus 2020 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 11:15 WIB
IPB ACCOUNTING COMPETITION 2020
Kamis, 06 Agustus 2020 | 18:46 WIB
UNIVERSITAS MULIA
Reportase

Aksi Balasan Pajak Digital, AS Bakal Pungut Bea Masuk Tambahan 25%

A+
A-
3
A+
A-
3
Aksi Balasan Pajak Digital, AS Bakal Pungut Bea Masuk Tambahan 25%

Ilustrasi. 

WASHINGTON, DDTCNews – Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memungut bea masuk tambahan sebesar 25% atas barang impor asal Prancis. Bea masuk terhadap barang senilai US$$1,3 miliar ini diterapkan jika Prancis tidak mundur dari rencana pengenaan pajak layanan digital (digital services tax/DST).

Kantor Perwakilan Dagang AS (United States Trade Representative/USTR) mengumumkan tarif diusulkan untuk dikenakan terhadap kosmetik dan tas tertentu. Tarif ini tidak akan berlaku sampai 6 Januari 2021 untuk memberi waktu bagi kedua belah pihak menegosiasikan penyelesaiannya.

“USTR memutuskan untuk mengenakan tarif tambahan 25% atas produk-produk Prancis yang ditentukan dalam Lampiran A. USTR telah memutuskan untuk menangguhkan penerapan tarif tambahan hingga 180 hari,” demikian kutipan pengumuman USTR, Jumat (10/7/2020)

Baca Juga: Gali Potensi Pajak Ekonomi Digital, Telkom Berkomitmen Bantu DJP

Adapun dalam pengumuman sebelumnya, USTR mempertimbangkan berbagai jenis barang untuk dikenakan tarif diantaranya seperti anggur dan keju. Namun, barang-barang tersebut tidak dimasukkan dalam daftar final yang diumumkan pada Jumat (10/7/2020).

USTR memutuskan pengenaan tarif ini setelah penyelidikannya menyimpulkan DST Prancis dirancang untuk mendiskriminasi perusahaan digital AS. Pasalnya, legislator Prancis menyebut proposal itu sebagai "GAFA Tax" yang merupakan singkatan dari Google, Apple, Facebook, dan Amazon.

Adapun Prancis meloloskan proposal DST tahun lalu. Namun, Prancis setuju untuk menangguhkan pemungutannya setidaknya sampai akhir tahun ini sembari menanti hasil perjanjian internasional yang berupaya untuk menstandarisasi cara pemajakan perdagangan berbasis internet.

Baca Juga: Mantan Kepala FTA Sebut Konsensus Global Pajak Digital Sulit Tercapai

Perancang undang-undang dan perusahaan teknologi AS mendukung upaya pemerintah untuk membuat Prancis dan negara lain membatalkan proposal pajak digitalnya. Anggota komite Senat AS mengatakan Pemerintah AS tidak memiliki pilihan lain meskipun menyadari pengenaan tarif bukan hal yang ideal.

"Tarif pembalasan tidak ideal, tetapi penolakan Pemerintah Prancis untuk mundur dari pengenaan pajak yang tidak adil ini merupakan hukuman sepihak terhadap perusahaan AS. Ini membuat pemerintah kita tidak punya pilihan," ujar Senator Chuck Grassley dan Ron Wyden, seperti dilansir hellenicshippingnews.com.

Tindakan ini merupakan bagian dari polemik yang meluas antara AS dan negara-negara yang mengusulkan pajak layanan digital. Pasalnya, perusahaan teknologi global yang paling sukses adalah raksasa teknologi asal Amerika. Banyak proposal yang sangat berdampak pada perusahaan tersebut.

Baca Juga: DJBC Dorong Rumah Sakit Beli Barang dari Perusahaan KITE, Ini Sebabnya

Bulan lalu, USTR juga mengumumkan akan melakukan investigasi (section 301) terhadap pajak digital yang telah diadopsi atau sedang dipertimbangkan oleh Austria, Brasil, Republik Ceko, Uni Eropa, Indonesia, India, Italia, Turki, Spanyol, dan Inggris. (kaw)

Topik : Amerika Serikat, Prancis, pajak digital, DST, ekonomi digital, bea masuk, impor
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 24 Juli 2020 | 14:50 WIB
PPN PRODUK DIGITAL
Jum'at, 24 Juli 2020 | 14:24 WIB
PPN PRODUK DIGITAL
Jum'at, 24 Juli 2020 | 13:33 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Kamis, 23 Juli 2020 | 16:54 WIB
KEBIJAKAN PAJAK DIGITAL
berita pilihan
Selasa, 11 Agustus 2020 | 07:30 WIB
INTEGRASI DATA PERPAJAKAN
Selasa, 11 Agustus 2020 | 07:00 WIB
BANTUAN LANGSUNG TUNAI
Selasa, 11 Agustus 2020 | 06:30 WIB
KOTA KENDARI
Selasa, 11 Agustus 2020 | 06:00 WIB
INGGRIS
Senin, 10 Agustus 2020 | 19:03 WIB
BANTUAN SOSIAL
Senin, 10 Agustus 2020 | 17:29 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 10 Agustus 2020 | 17:23 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 10 Agustus 2020 | 17:12 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Senin, 10 Agustus 2020 | 16:58 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 10 Agustus 2020 | 16:54 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH