JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah berencana untuk menghentikan impor solar pada tahun ini seiring dengan beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Kilang Balikpapan.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, penghentian impor solar didukung oleh operasional proyek refinery development master plan (RDMP) yang diklaim bisa memperkuat pasokan BBM nasional.
"Insyaallah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," ujarnya, dikutip pada Selasa (13/1/2026).
Saat ini, total kebutuhan solar nasional sekitar 39,8 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan solar sudah bisa dipenuhi oleh produksi fatty acid methyl ester (FAME) yang produksinya mencapai 15,9 juta kiloliter per tahun dan produksi solar murni yang mencapai 26,5 juta kiloliter per tahun.
Dengan produksi dimaksud, lanjut Bahlil, pemerintah bisa menghentikan impor solar, baik itu CN 48 maupun CN 51, mulai pertengahan 2026.
Ke depan, pemerintah juga akan menekan impor bensin dengan menerapkan kebijakan E10. Dengan kebijakan ini, impor bensin bisa ditekan hingga 3,9 juta kiloliter per tahun.
"Melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang, selanjutnya kami dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," tutur Bahlil.
Lebih lanjut, pemerintah juga akan meningkatkan kapasitas kilang, mendorong diversifikasi energi melalui optimalisasi biodiesel, serta menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi dalam negeri, guna menciptakan kemandirian energi secara berkelanjutan. (rig)
