Review
Selasa, 02 Maret 2021 | 09:40 WIB
OPINI PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 10:30 WIB
TAJUK PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 09:00 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 24 Februari 2021 | 16:39 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Senin, 01 Maret 2021 | 10:15 WIB
KMK 13/2021
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Minggu, 21 Februari 2021 | 09:00 WIB
STATISTIK MUTUAL AGREEMENT PROCEDURE
Rabu, 17 Februari 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 FEBRUARI - 23 FEBRUARI 2021
Reportase
Perpajakan.id

Ternyata Zakat Belum Banyak Dimanfaatkan sebagai Pengurang Pajak

A+
A-
2
A+
A-
2
Ternyata Zakat Belum Banyak Dimanfaatkan sebagai Pengurang Pajak

Paket sumbangan kebutuhan pokok bencana banjir dari Baznas DKI Jakarta. Ditjen Pajak menyebutkan insentif pembayaran zakat dan sumbangan keagamaan sebagai pengurang penghasilan kena pajak belum banyak dimanfaatkan wajib pajak orang pribadi. (Foto: Antara)

JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Pajak (DJP) menyebutkan insentif pembayaran zakat dan sumbangan keagamaan sebagai pengurang penghasilan kena pajak belum banyak dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi.

Kepala Subdirektorat Peraturan Pajak Penghasilan Badan, Direktorat Peraturan Perpajakan II Wahyu Santosa mengatakan wajib pajak orang pribadi belum banyak memanfaatkan insentif zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak.

Hal itu tersebut berdasarkan data Baznas. Realisasi penerimaan Baznas pada 2018 mencapai Rp8,1 triliun dan dalam bentuk zakat Rp4,9 triliun. Pada tahun itu, terdapat 5 juta orang yang menjadi pembayar zakat melalui Baznas.

Baca Juga: Pensiunan Boleh Tidak Lapor SPT Tahunan, Asalkan …

"Wajib pajak orang pribadi karyawan yang memanfaatkan zakat pada 2018 hanya 47.371. Jadi belum banyak yang melaporkan zakat dalam SPT sebagai pengurang penghasilan bruto. Dari 5 juta tadi hanya 47 ribuan yang memanfaatkan," katanya dalam Sosialisasi Baznas, Selasa (23/2/2021).

Wahyu menyatakan meskipun fasilitas belum banyak dimanfaatkan oleh wajib pajak, tetapi ada tren peningkatan wajib pajak yang memanfaatkan insentif zakat sebagai pengurang beban pajak dalam SPT Tahunan.

Pada 2018, nilai insentif zakat yang dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi karyawan mencapai Rp262 miliar. Jumlahnya kemudian naik menjadi Rp656 miliar pada laporan SPT tahun pajak 2019.

Baca Juga: Tanggung Pajak Mobil dan Rumah, Pemerintah Ingin Orang Kaya Belanja

Sementara itu, nilai zakat yang dicantumkan wajib pajak orang pribadi nonkaryawan relatif stabil dengan angka Rp24 miliar pada 2018 dan naik tipis menjadi Rp29 miliar pada 2019.

Nilai total insentif pajak yang dimanfaatkan oleh wajib pajak orang pribadi pada 2019 tercatat meningkat Rp399 miliar dari tahun sebelumnya atau tumbuh 139%.

Tren meningkatnya nilai insentif zakat itu diikuti dengan jumlah wajib pajak yang memanfaatkan fasilitas. Pada 2018, terdapat 47.371 wajib pajak orang pribadi karyawan yang memanfaatkan insentif zakat sebagai pengurang penghasilan bruto.

Baca Juga: Ada Aplikasi e-Form Versi Terbaru di DJP Online, Sudah Coba?

Jumlahnya naik menjadi 56.408 wajib pajak karyawan. Sedangkan wajib pajak nonkaryawan pada 2018 yang memanfaatkan fasilitas sebanyak 2.166 wajib pajak dan pada 2019 naik menjadi 2.469 wajib pajak.

"Kami berharap mampu memberikan pencerahan bagaimana zakat yang dibayar itu bisa menjadi pengurang, karena merupakan salah satu fasilitas dalam pajak penghasilan," imbuhnya. (Bsi)

Baca Juga: Perubahan Peraturan Konsultan Pajak Harus Fokus pada Tujuan Strategis
Topik : zakat, pengurang pajak, Baznas, DJP
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

Franco Hardyan Dewayani Putra

Rabu, 24 Februari 2021 | 06:05 WIB
menurut saya hal tersebut terjadi karena masyarakat banyak yang berzakat namun tidak pada lembaga yang secara resmi dapat dijadikan pengurang penghitungan PPh

widyadisty tiara

Rabu, 24 Februari 2021 | 00:34 WIB
sepertinya masyarakat masih banyak yg kurang tau ttg hal ini

Daffa Abyan

Selasa, 23 Februari 2021 | 17:09 WIB
Hal ini mungkin terjadi karena masih rendahnya pengetahuan dan kemampuan WP dalam menghitung PPh mereka masing-masing sehingga perlu adanya sosialisasi lebih terkait hal ini
1
artikel terkait
Jum'at, 26 Februari 2021 | 13:31 WIB
PERPAJAKAN INDONESIA
Jum'at, 26 Februari 2021 | 08:20 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Kamis, 25 Februari 2021 | 21:46 WIB
WEBINAR PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 15:16 WIB
AGENDA PAJAK
berita pilihan
Selasa, 02 Maret 2021 | 19:15 WIB
YORDANIA
Selasa, 02 Maret 2021 | 18:22 WIB
PELAPORAN SPT
Selasa, 02 Maret 2021 | 17:42 WIB
KEBIJAKAN MONETER
Selasa, 02 Maret 2021 | 17:30 WIB
SINGAPURA
Selasa, 02 Maret 2021 | 17:26 WIB
PMK 18/2021
Selasa, 02 Maret 2021 | 16:15 WIB
INSENTIF PAJAK
Selasa, 02 Maret 2021 | 16:00 WIB
PMK 21/2021
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:45 WIB
KABUPATEN NGAWI
Selasa, 02 Maret 2021 | 15:41 WIB
PELAPORAN SPT