PEGAWAI tidak tetap adalah pegawai, termasuk tenaga kerja lepas, yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan, atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja.
Penghasilan yang diterima pegawai tidak tetap dapat berupa: upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah borongan, dan upah yang diterima/diperoleh secara bulanan. Semenjak berlakunya tarif efektif rata-rata (TER), formula penghitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai tetap dapat dirangkum menjadi sebagai berikut:

Secara prinsip, besarnya PPh Pasal 21 terutang dihitung dengan menggunakan TER bulanan dikalikan dengan jumlah bruto penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap dalam masa pajak bersangkutan.
Misal, Tuan Abdullah merupakan pegawai tidak tetap bekerja sebagai buruh kemas barang di PT Katastima. Tuan Abdullah berstatus tidak menikah dan tidak memiliki tanggungan. Sebagai pegawai tidak tetap, Tuan Abdullah menerima penghasilan yang dibayarkan secara bulanan berdasarkan jumlah barang yang ia kemas.
Selama 2025, Tuan Abdullah menerima atau memperoleh penghasilan sebagai berikut:

Berdasarkan status penghasilan tidak kena pajak (TK/0), besarnya PPh Pasal 21 terutang atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Tuan Abdullah dihitung berdasarkan TER bulanan kategori A.
Penghitungan PPh Pasal 21 pada setiap masa pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Tuan Abdullah selama tahun 2025 adalah sebagai berikut:

(dik)
