Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Tarif PPn Dinaikkan, Subsidi Ditambah

0
0

ISLAMABAD, DDTCNews – Pakistan akhirnya menaikkan pajak penjualan sejumlah barang seperti ponsel, minuman dan semen, seiring dengan persetujuan yang diberikan pejabat sementara Presiden Mian Raza Rabbani untuk tahun pajak baru per 1 Juli 2016.

Federal Board of Revenue (FBR) mengatakan kenaikan tarif pajak itu telah disesuaikan dengan UU Keuangan 2016. "Presiden juga telah memberikan persetujuannya atas kenaikan tarif pajak ini," ungkapnya dalam satu keterangan tertulis, belum lama ini.

Pengenaan pajak penjualan itu berlaku antara lain pada gula pasir sebesar 8% serta cukai minuman bersoda yang meningkat dari 10,5% menjadi 11,5%, dan cukai semen dari semula 5% per kantong semen 50 kg menjadi Rs1 per kg.

Baca Juga: Rumah Minimal Rp30 Miliar Baru Kena PPnBM 20%, Ini Kata Dirjen Pajak

Kemudian juga ponsel smartphone high-end dari Rs1.000 menjadi Rs1.500 per set dan ponsel mid-end dari yang semula tidak terkena pajak menjadi terkena Rs1.000 per set.

"Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan mendongkrak harga komoditas sekaligus menggerakkan ekonomi. Karena itu, kami juga menurunkan PPn untuk sejumlah produk," ungkap FBR.

Produk yang tarif PPn-nya diturunkan itu antara lain pestisida yang sebelumnya 7% menjadi dihapuskan, traktor pertanian baik produk lokal maupun ekspor yang semula dikenakan 10% menjadi 5%, dan pupuk urea dari 17% menjadi 5%.

Baca Juga: Wah, Pemerintah Naikkan Batas Harga Rumah yang Kena PPnBM 20%

Menurut FBR, penghapusan pajak sejumlah produk itu merupakan tambahan subsidi pajak yang diberikan oleh pemerintah. Dengan subsidi pajak itu pula, Pemerintah Pakistan tidak lagi memberikan subsidi berupa uang tunai.

Selain perubahan tarif PPn itu, pemerintah juga akan membuka data nasabah perbankan sampai 10 tahun ke belakang, dan meningkatkan tarif pajak bisnis asuransi. (Bsi)

Baca Juga: Konsensus Belum Dicapai, Sri Mulyani: Penerimaan Pajak Tetap Harus Ada

Pengenaan pajak penjualan itu berlaku antara lain pada gula pasir sebesar 8% serta cukai minuman bersoda yang meningkat dari 10,5% menjadi 11,5%, dan cukai semen dari semula 5% per kantong semen 50 kg menjadi Rs1 per kg.

Baca Juga: Rumah Minimal Rp30 Miliar Baru Kena PPnBM 20%, Ini Kata Dirjen Pajak

Kemudian juga ponsel smartphone high-end dari Rs1.000 menjadi Rs1.500 per set dan ponsel mid-end dari yang semula tidak terkena pajak menjadi terkena Rs1.000 per set.

"Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan mendongkrak harga komoditas sekaligus menggerakkan ekonomi. Karena itu, kami juga menurunkan PPn untuk sejumlah produk," ungkap FBR.

Produk yang tarif PPn-nya diturunkan itu antara lain pestisida yang sebelumnya 7% menjadi dihapuskan, traktor pertanian baik produk lokal maupun ekspor yang semula dikenakan 10% menjadi 5%, dan pupuk urea dari 17% menjadi 5%.

Baca Juga: Wah, Pemerintah Naikkan Batas Harga Rumah yang Kena PPnBM 20%

Menurut FBR, penghapusan pajak sejumlah produk itu merupakan tambahan subsidi pajak yang diberikan oleh pemerintah. Dengan subsidi pajak itu pula, Pemerintah Pakistan tidak lagi memberikan subsidi berupa uang tunai.

Selain perubahan tarif PPn itu, pemerintah juga akan membuka data nasabah perbankan sampai 10 tahun ke belakang, dan meningkatkan tarif pajak bisnis asuransi. (Bsi)

Baca Juga: Konsensus Belum Dicapai, Sri Mulyani: Penerimaan Pajak Tetap Harus Ada
Topik : pakistan, pajak internasional, PPn
artikel terkait
Jum'at, 26 April 2019 | 15:54 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 15 September 2016 | 06:02 WIB
ZIMBABWE
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
berita pilihan
Jum'at, 26 April 2019 | 15:54 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 15 September 2016 | 06:02 WIB
ZIMBABWE
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Senin, 12 September 2016 | 17:01 WIB
ZIMBABWE
Jum'at, 10 Mei 2019 | 16:37 WIB
ZAMBIA
Rabu, 15 Agustus 2018 | 12:10 WIB
ZAMBIA
Senin, 10 September 2018 | 09:45 WIB
YUNANI
Jum'at, 15 Juni 2018 | 17:42 WIB
ARAB SAUDI
Jum'at, 27 Juli 2018 | 16:21 WIB
JEPANG
Jum'at, 24 Mei 2019 | 17:11 WIB
NEPAL