Fokus
Data & Alat
Selasa, 24 Mei 2022 | 20:00 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Reportase
Perpajakan ID

Rasio Utang Naik, Sri Mulyani: Lebih Baik Ketimbang Negara Tetangga

A+
A-
0
A+
A-
0
Rasio Utang Naik, Sri Mulyani: Lebih Baik Ketimbang Negara Tetangga

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp.

JAKARTA, DDTCNews – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kenaikan rasio utang akibat pandemi Covid-19 dalam 2 tahun terakhir relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara lainnya, seperti Malaysia dan China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan tingkat utang tersebut terjadi seiring dengan pelebaran defisit APBN. Namun, kenaikan utang Indonesia masih lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

"Kalau kita lihat defisit meningkat, maka tingkat utang dari emerging country naik," katanya dalam rapat KSSK bersama Komisi XI, Kamis (27/1/2022).

Baca Juga: Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Sri Mulyani menuturkan semua negara di dunia memakai APBN sebagai instrumen countercyclical melawan pandemi sekaligus melindungi ekonomi masyarakat. Akibatnya, terjadi pelebaran defisit dan pada akhirnya berdampak pada kenaikan tingkat utang.

Sepanjang 2020 hingga 2021, defisit APBN dan rasio utang Indonesia mengalami kenaikan masing-masing 10,8% terhadap PDB. Menurut Sri Mulyani, kondisi tersebut masih lebih baik ketimbang beberapa negara berkembang lain.

Misal, defisit fiskal China naik 18,8% dan rasio utang juga naik 11,8%. Lalu, defisit fiskal Malaysia naik 11,1% dan rasio utang naik 13,6%. Adapun defisit APBN Thailand tumbuh 11,6% dan rasio utang tumbuh 17%.

Baca Juga: Restitusi Pajak Diprediksi Meningkat, DJP: Berkat Tingginya Impor

"Ini adalah suatu cara untuk melihat apakah policy design yang kita lakukan relatif bekerja secara cukup baik dan efektif untuk menangani Covid dan dampak kepada perekonomian," ujarnya.

Meski demikian, ada pula negara yang kenaikan defisit fiskal dan rasio utang yang lebih rendah dari Indonesia. Beberapa di antaranya yakni Rusia, Arab Saudi, dan Vietnam.

Hingga akhir Desember 2021, posisi utang Indonesia mencapai Rp6.908,87 triliun atau 41% terhadap PDB. Angka tersebut melonjak dari posisi utang akhir Desember 2019 sejumlah Rp4.779,28 triliun atau 29,8% terhadap PDB. (rig)

Baca Juga: Lakukan Reformasi Fiskal Saat Pandemi, Wamenkeu: Kita Bangsa Pemenang

Topik : menkeu sri mulyani, rasio utang, defisit APBN, malaysia, thailand, china, nasional

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 24 Mei 2022 | 12:00 WIB
PENERIMAAN NEGARA

Ekspor CPO Dilarang, Penerimaan Bea Keluar Rp900 Miliar Bakal Hilang

Selasa, 24 Mei 2022 | 11:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Lebih dari 14.000 Peserta PPS Punya Harta Rp10 Miliar-Rp100 Miliar

Senin, 23 Mei 2022 | 17:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

berita pilihan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tanda Pengenal Wajib Pajak Pakai NIK, NPWP Bakal Dihapus Bertahap

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:54 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPN Perbedaan Waktu Pengakuan Transaksi Pembelian

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Omzet Rp500 Juta Tak Kena Pajak, DJP: Bukan untuk UMKM WP Badan

Jum'at, 27 Mei 2022 | 17:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Surat Tanggapan dalam Proses Gugatan Pajak?

Jum'at, 27 Mei 2022 | 16:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Sudah Ikut PPS, Gubernur Ajak Warganya Juga Ungkapkan Hartanya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

DJP Leburkan Kegiatan Pemeriksaan & Pengawasan, Ternyata Ini Tujuannya

Jum'at, 27 Mei 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK

Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak di e-Faktur 3.2

Jum'at, 27 Mei 2022 | 14:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Restitusi Pajak Diprediksi Meningkat, DJP: Berkat Tingginya Impor