Review
Rabu, 19 Januari 2022 | 15:20 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 14:15 WIB
OPINI PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 11:15 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 10:15 WIB
DIRJEN PERIMBANGAN KEUANGAN ASTERA PRIMANTO BHAKTI:
Fokus
Literasi
Rabu, 19 Januari 2022 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK
Rabu, 19 Januari 2022 | 10:45 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 17 Januari 2022 | 18:00 WIB
KAMUS BEA METERAI
Jum'at, 14 Januari 2022 | 21:24 WIB
PROFIL PAJAK KOTA PADANG
Data & Alat
Rabu, 19 Januari 2022 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 19 JANUARI - 25 JANUARI 2022
Rabu, 12 Januari 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 12 JANUARI - 18 JANUARI 2022
Rabu, 05 Januari 2022 | 08:15 WIB
KURS PAJAK 5 JANUARI - 11 JANUARI 2022
Senin, 03 Januari 2022 | 10:45 WIB
KMK 70/2021
Reportase
Perpajakan.id

Produksi Stagnan, Industri Migas Minta Tambahan Insentif Perpajakan

A+
A-
0
A+
A-
0
Produksi Stagnan, Industri Migas Minta Tambahan Insentif Perpajakan

Ilustrasi.

NEW DELHI, DDTCNews – Produsen minyak dan gas bumi (migas) di India meminta penambahan insentif perpajakan, termasuk pembebasan sejumlah bea, untuk mengompensasi stagnannya angka produksi. Permintaan ini diajukan industri dalam rencana anggaran tahun depan.

Desakan atas penambahan insentif fisampaikan oleh Asosiasi Operator Minyak dan Gas (AOGO) India yang mencakup sejumlah pemain besar di industri migas domestik.

"Kami ingin ada pemulihan sistem tunjangan investasi yang menyediakan insentif pajak atas belanja modal yang dilakukan pada pabrik dan mesin di masa lalu," ujar perwakilan AOGO dikutip financialexpress.com, Senin (29/11/2021).

Baca Juga: Berlaku Tahun Ini, Tarif Pajak Pendidikan Tinggi Dinaikkan Jadi 2,5%

Salah satu insentif yang diinginkan misalnya pembebasan untuk bea dan cukai atas bahan bakar diesel yang digunakan untuk eksplorasi hidrokarbon dan aktivitas produksi. Pembebasan yang mereka inginkan termasuk bea dan cukai biasa, khusus, dan tambahan bea yang secara keseluruhan nilainya adalah Rs 21,8/liter.

Industri juga tengah mengupayakan penghapusan royalti 20% yang dibayarkan kepada negara bagian. Selain itu, para pemain lama berharap tarif pajak 15% yang diberikan pada perusahaan pertambangan dan manufaktur baru bisa diperluas untuk mereka.

Sejumlah insentif ini diajukan karena produksi masih stagnan, sementara biaya produksi bertambah setiap tahunnya. Ladang sumur minyak yang semakin tua membuat biaya ekstraksi minyak (EOR) selalu meningkat.

Baca Juga: Percepat Pemulihan, Subsidi Gaji Disiapkan untuk Pekerja Pariwisata

Sebagai informasi, 1 barel minyak mentah di India membutuhkan biaya produksi sekitar US$25-US$30. Sementara minyak mentah impor membutuhkan biaya US$70-US$80 per barel.

Pemerintah India sebenarnya berharap produksi lokal bisa meningkat. Sayangnya, industri migas hanya mampu memenuhi 15% kebutuhan BBM nasional dan 50% sisanya masih harus dipenuhi melalui impor. Oleh karenanya, diharapkan ada fasilitas yang dapat mengurangi beban perusahaan. (tradiva sandriana/sap)

Baca Juga: Bikin Faktur Pajak Fiktif dan Palsukan Data SPT, 4 Orang Ditangkap
Topik : pajak internasional, pajak BBM, minyak dunia, energi fosil, India

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

berita pilihan

Rabu, 19 Januari 2022 | 16:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

DJP Luncurkan Buku Panduan Lengkap Cara Ikut PPS, Unduh di Sini

Rabu, 19 Januari 2022 | 16:14 WIB
KANWIL DJP JAKARTA BARAT

PPS Diproyeksi Mampu Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Lapor SPT

Rabu, 19 Januari 2022 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK

Cara Memperpanjang Waktu Penyampaian Tanggapan atas SPHP Pajak

Rabu, 19 Januari 2022 | 15:39 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Catat! Kalau Sudah Rajin Bayar Pajak, Tak Perlu Ikut PPS

Rabu, 19 Januari 2022 | 15:20 WIB
KONSULTASI PAJAK

Pembetulan SPT Masa PPh Unifikasi, Seperti Apa Risiko Sanksinya?

Rabu, 19 Januari 2022 | 15:13 WIB
PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL

Sri Mulyani Anggarkan Ibu Kota Baru di PEN 2022, DPR Beri Catatan

Rabu, 19 Januari 2022 | 15:00 WIB
KANWIL DJP JAKARTA BARAT

Kanwil DJP Ini Bakal Manfaatkan PPS untuk Capai Target Setoran Pajak