Review
Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Kepala KPP Madya Dua Jakarta Selatan II Kurniawan:
Rabu, 13 Oktober 2021 | 15:30 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 13 Oktober 2021 | 14:30 WIB
KONSULTASI PAJAK
Senin, 11 Oktober 2021 | 14:19 WIB
OPINI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 17:29 WIB
PROFIL PERPAJAKAN LIECHTENSTEIN
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:45 WIB
SUPERTAX DEDUCTION (7)
Data & Alat
Rabu, 13 Oktober 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 13 OKTOBER - 19 OKTOBER 2021
Rabu, 06 Oktober 2021 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 6-12 OKTOBER 2021
Rabu, 22 September 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 22 - 28 SEPTEMBER 2021
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Komunitas
Jum'at, 15 Oktober 2021 | 14:42 WIB
HASIL SURVEI PAJAK KARBON
Kamis, 14 Oktober 2021 | 12:15 WIB
HASIL DEBAT 23 SEPTEMBER - 11 OKTOBER 2021
Senin, 11 Oktober 2021 | 11:05 WIB
AGENDA PAJAK
Minggu, 10 Oktober 2021 | 09:00 WIB
KETUA GPBSI DJONNY SYAFRUDDIN
Reportase
Perpajakan.id

'Pajak Garam Ini Paling Keji Bagi Orang Miskin'

A+
A-
1
A+
A-
1
'Pajak Garam Ini Paling Keji Bagi Orang Miskin'

Mahatma Gandhi saat memimpin long march memprotes pajak garam.

ORANG India biasa memanggilnya Bapu. Istilah ini datang dari pesisir Gujarat di semenanjung barat India, kampung halamannya, sebagai panggilan istimewa untuk ‘ayah’. Orang lain, terutama orang asing, menyebutnya Mahatma. Ini dari bahasa Sanskerta-India, artinya ‘jiwa yang agung’.

Ia datang dari kelas menengah. Keluarga besarnya adalah birokrat-pedagang. Ayahnya seorang menteri utama di Porbandar, negara bagian British-India yang kini menjadi bagian Gujarat. Ayahnya juga bekerja sebagai penasihat keluarga kerajaan, yang saat itu di bawah Dinasti Jethwa.

Pada akhir abad ke-19, ayahnya mengirimnya ke London untuk belajar hukum. Pada usia 21 tahun, ia sudah jadi pengacara. Namun, prestasi akademiknya biasa saja. Meskipun alumnus luar negeri, ketika ia kembali dan berpraktik di India, kliennya toh sepi-sepi saja. Tak ada yang istimewa.

Baca Juga: Perusahaan Digital Pertanyakan Nasib Equalization Levy Pasca-Konsensus

Maklum, ia bukan tipe pengacara yang canggih. Jangankan bersilat lidah, bicara di depan orang banyak saja grogi. Pernah suatu kali, ketika membela seorang klien di depan hakim, lututnya gemetar sebelum bicara. Lalu buru-buru ia menyerahkan kliennya ke rekannya, sembari keluar dari sidang!

Menemui banyak kegagalan berpraktik di India, ia kemudian mencoba peruntungan ke Pretoria, Afrika Selatan, daerah jajahan Inggris lainnya. Ia hendak mengembalikan karirnya sebagai pengacara. Ia bekerja di Dada Abdulla & Co, perusahaan milik seorang pengusaha muslim keturunan India.

Sayangnya, sewaktu berangkat naik kereta setibanya di sana, ia terusir karena warna kulitnya. Maklum, politik apartheid sedang keras-kerasnya di Afrika Selatan. Namun, ia malah bertahan 21 tahun di negara itu. Tak sekadar tinggal, ia juga mengaktivasi berbagai gerakan penentangan politik.

Baca Juga: Pasca-Konsensus Global, Aturan Special Economic Presence Perlu Dihapus

Tak pelak, Pemerintah Inggris pun perlahan mulai memperhatikannya. Beberapa kali ia masuk penjara karena menganjurkan pemogokan sipil. Di Afrika Selatan inilah, ia melahirkan konsep satyagraha, memegang teguh kebenaran, yang ditunjukkan dengan perlawanan sipil tanpa kekerasan.

Pada 1915, ia kembali ke India dan melanjutkan perjuangannya. Pada tahun itu, ia mengorganisir kaum petani dan buruh guna memprotes pajak tanah yang diskriminatif. Pada Kongres Nasional India 1921, ia memimpin kampanye menuju pemerintahan sendiri yang terlepas dari Inggris.

Tentu, di India ia juga berkali-kali ditahan karena menganjurkan pemogokan buruh, seperti ketika masih di Afrika Selatan. Bertahun-tahun. Namun, ia tak membangkang. Ia menurut ketika ditahan. Ia tidak melawan. Bergerak lagi, ditangkap lagi, masuk penjara lagi. Lalu, apa yang dia lakukan?

Baca Juga: Masih Pandemi Covid-19, Diskon Tarif PPN Obat-obatan Diperpanjang

Bukan menggebrak pintu atau mengangkat dan menarik kokang senjata, ia memilih jalan kaki. Pada 1930, ia berjalan kaki sejauh 400 kilometer, setara dengan jarak Semarang-Jakarta, untuk memprotes pajak garam. Aksi jalan kakinya ini diikuti oleh ratusan orang. Hanya jalan, tanpa kekerasan.

Saat itu, Pemerintah Inggris melarang orang India membuat atau menjual garam. Warga India dipaksa membeli garam mahal dari Inggris, yang selain memonopoli produksi dan distribusinya, juga mengenakan pajak garam. Dan semua orang di India, baik kaya atau miskin, terkena pajak tersebut.

Pada 1930 itu, total pendapatan dari pajak garam di India mencapai £25 juta dari total pendapatan £800 juta. Pemerintah Inggris juga menerapkan hukuman keras untuk warga yang membangkang. Siapapun yang berani membuat atau menjual garam akan ditangkap dan masuk penjara.

Baca Juga: Jelang Festival, Tarif Bea Masuk Minyak Sawit Dipangkas Jadi 2,5%

“Saya menganggap pajak garam ini sebagai sesuatu yang paling keji dari sudut pandang orang miskin. Karena gerakan kemerdekaan pada hakikatnya diperuntukkan bagi masyarakat paling miskin di tanah ini, maka permulaannya akan dibuat dengan melawan kejahatan pajak ini,” katanya dalam surat protesnya.

Setelah gerakan jalan kaki damai itu, Inggris menangkapnya. Ia dikirim ke penjara. Tapi lagi-lagi, ia tak melawan. Hingga pada 1942 ia kembali menyerukan kepada Inggris keluar dari India. Pada 15 Agustus 1947, Inggris yang kehabisan sumberdaya akibat perang pun akhirnya menyerahkan kekuasaannya.

“...a man who has confronted the brutality of Europe with the dignity of the simple human being, and thus at all risen superior. Generations to come will scarce believe that such a one as this ever in flesh and blood walked upon this earth,” kata Albert Einstein dalam surat yang dikirimkannya.

Baca Juga: Aplikasi Pajak Eror 2 Bulan, Menteri Keuangan Panggil Pengembang

Hari ini, wajahnya terpampang di seluruh pecahan uang India, mulai dari Rs1 sampai Rs2000. Puluhan negara telah menerbitkan perangko dan membangun patungnya. Hari ulang tahunnya ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional dan Hari Antikekerasan Internasional. Ia adalah Bapak Bangsa India, Mohandas Karamchand Gandhi.(Bsi)

Topik : kutipan pajak, mahatma gandhi, pajak garam, India

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 06 Mei 2021 | 16:29 WIB
R.A. KARTINI:

Apa yang Membuat Orang Jawa Begitu Miskin?

Senin, 03 Mei 2021 | 15:06 WIB
AMERIKA SERIKAT

Masalah Pajak Digital, Google Cs Dukung Rencana Aksi Retaliasi AS

Rabu, 14 April 2021 | 13:50 WIB
MIKHAIL S. GORBACHEV:

'Dana Pajak Ini untuk Meredam Dampak Ekonomi Pasar'

berita pilihan

Senin, 18 Oktober 2021 | 08:14 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Tidak Bisa Lagi Pakai PPh Final? WP Badan UMKM Dapat Manfaatkan Ini

Minggu, 17 Oktober 2021 | 15:00 WIB
IRLANDIA

Siapkan Rp8 Triliun, Program Relaksasi Pajak Berlanjut Tahun Depan

Minggu, 17 Oktober 2021 | 14:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

AS Mulai Desak Negara Lain Agar Cabut Pajak Digital

Minggu, 17 Oktober 2021 | 13:00 WIB
THAILAND

Pancing Ekspatriat, Tarif Pajak Penghasilan Bakal Dipatok 17%

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

BUMN Go Global, Jokowi Minta Adaptasi Teknologi Dipercepat

Minggu, 17 Oktober 2021 | 12:00 WIB
KOREA SELATAN

Tidak Bakal Ditunda Lagi, Pajak Cryptocurrency Berlaku Mulai 2022

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:30 WIB
LELANG KENDARAAN

DJP Lelang Mobil Sitaan Pajak, Dilego Mulai Rp45 Juta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Besaran Sanksi Ultimum Remedium atas Pidana Cukai di UU HPP

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN BERAU

Banyak Warga Menunggak Pajak, Pemda Siapkan Insentif