Review
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Kamis, 22 September 2022 | 13:53 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 30 September 2022 | 19:21 WIB
KESADARAN PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK
Rabu, 28 September 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Rabu, 14 September 2022 | 09:21 WIB
KURS PAJAK 14 SEPTEMBER - 20 SEPTEMBER 2022
Rabu, 07 September 2022 | 09:33 WIB
KURS PAJAK 07 SEPTEMBER - 13 SEPTEMBER
Komunitas
Sabtu, 01 Oktober 2022 | 07:00 WIB
ANIMASI PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 16:15 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Jum'at, 30 September 2022 | 11:54 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Kamis, 29 September 2022 | 16:42 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Reportase

Inflasi Tinggi, Otoritas Ini Anggarkan Rp152 T untuk Insentif Pajak

A+
A-
0
A+
A-
0
Inflasi Tinggi, Otoritas Ini Anggarkan Rp152 T untuk Insentif Pajak

Ilustrasi.

BERLIN, DDTCNews – Kementerian Keuangan Jerman mengajukan proposal pemberian insentif pajak kepada masyarakat senilai EUR10 miliar atau setara dengan Rp152,29 triliun untuk mengurangi beban hidup akibat inflasi.

Menteri keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan pemerintah berencana memberikan insentif pajak lebih banyak bagi sebagian besar masyarakat yang tengah menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi akibat inflasi.

“Pemerintah berencana melakukan pemotongan pajak senilai lebih dari EUR10 miliar untuk memberi manfaat bagi sebagian besar penduduk yang tertekan oleh biaya energi yang tinggi dan inflasi,” katanya seperti dilansir abcnews.go.com, Minggu (14/8/2022).

Baca Juga: Cegah Registrasi Kendaraan Dihapus, WP Diimbau Ikut Pemutihan Pajak

Lindner mengestimasikan akan terdapat sekitar 48 juta penduduk di Jerman yang menerima manfaat dari pemberian insentif tersebut. Menurutnya, insentif ini dirancang demi mencegah pengenaan pajak yang melebihi kenaikan gaji penduduk.

Dalam proposal yang diajukan, ia berharap adanya kenaikan ambang batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Rencananya, PTKP akan dinaikkan dari EUR10.347 menjadi EUR10.632 tahun depan dan EUR10.932 pada 2024.

Tarif pajak tertinggi juga ditingkatkan menjadi EUR61.972 tahun depan dan EUR63.515 pada 2023 dari saat ini EUR58.597,00. Kemudian, pembayaran tunjangan dua anak pertama akan dinaikkan dari EUR8 menjadi EUR227 per bulan.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Siapkan Skema Pengamanan Penerimaan Pajak

Rencana ini juga mendapat dukungan Kanselir Olaf Scholaz dari Partai Sosial Demokrat. Steffen Hebestreit, selaku juru bicara kanselir mengatakan pemotongan pajak merupakan rangkaian tindakan untuk mengatasi biaya energi yang tinggi dan inflasi.

Namun, rencana ini menuai kritik dari Partai Hijau. Perwakilan dari Partai Hijau mencatat insentif ini akan memberikan keuntungan besar bagi masyarakat berpenghasilan tinggi dan hanya menghemat sedikit pengeluaran dari masyarakat berpenghasilan rendah. (rig)

Baca Juga: Bahama Masuk Daftar Hitam Surga Pajak, Begini Penjelasan Uni Eropa

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : jerman, pajak, pajak internasional, inflasi, biaya energi, insentif pajak, beban pajak

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 30 September 2022 | 19:29 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perseroan Perorangan Bisa Pilih Pakai Tarif PPh Final UMKM PP 23/2018

Jum'at, 30 September 2022 | 19:21 WIB
KESADARAN PAJAK

Pentingnya Masyarakat Melek Pajak, Ulasan Profesional DDTC di ITR

Jum'at, 30 September 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah?

Jum'at, 30 September 2022 | 18:11 WIB
KERJA SAMA PAJAK INTERNASIONAL

Sekjen PBB Dukung Pembentukan 'UN Tax Convention'

berita pilihan

Minggu, 02 Oktober 2022 | 09:30 WIB
PROVINSI PAPUA

Cegah Registrasi Kendaraan Dihapus, WP Diimbau Ikut Pemutihan Pajak

Minggu, 02 Oktober 2022 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pemerintah Bakal Siapkan Skema Pengamanan Penerimaan Pajak

Minggu, 02 Oktober 2022 | 07:00 WIB
KPP PRATAMA PAMEKASAN

One on One dengan Wajib Pajak, Fiskus Datangi Pabrik Rokok

Minggu, 02 Oktober 2022 | 06:00 WIB
PENERIMAAN NEGARA

Risiko Gejolak Harga Komoditas Bayangi Prospek Pendapatan Negara 2023

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 16:35 WIB
KONSENSUS PAJAK GLOBAL

Penuh Tantangan, Presidensi G-20 Bisa Percepat Implementasi 2 Pilar

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 16:25 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Penghitungan PPN Atas Penyediaan Jasa Pembayaran

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 14:30 WIB
SKOTLANDIA

Skotlandia Ogah Ikuti Langkah Inggris Pangkas Tarif PPh OP

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 14:00 WIB
PMK 61/2022

Bangun Rumah dengan Kontraktor Berstatus PKP, Tidak Terutang PPN KMS?