Review
Kamis, 02 Februari 2023 | 17:05 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (4)
Selasa, 31 Januari 2023 | 11:45 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 31 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (3)
Fokus
Data & Alat
Rabu, 01 Februari 2023 | 10:00 WIB
KMK 6/2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 09:31 WIB
KURS PAJAK 1 FEBRUARI - 7 FEBRUARI 2023
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Reportase

DJBC Rilis Pedoman Pembatasan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Rokok

A+
A-
1
A+
A-
1
DJBC Rilis Pedoman Pembatasan Permohonan Penyediaan Pita Cukai Rokok

Laman depan dokumen SE-10/BC/2022.

JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) menerbitkan surat edaran (SE) mengenai pedoman pembatasan permohonan penyediaan pita cukai hasil tembakau awal dan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) awal.

SE Nomor SE-10/BC/2022 menyatakan panduan ini dirilis untuk optimalisasi pelayanan dan pengawasan pita cukai setelah penerbitan PER-5/BC/2022. Di sisi lain, panduan tersebut juga diperlukan untuk standardisasi pemahaman peraturan mengenai tata cara pelunasan cukai pada rokok dan MMEA.

"Surat edaran ini mempunyai maksud dan tujuan sebagai pedoman untuk mempermudah dan memperjelas norma-norma tertentu dalam implementasi PER-5/BC/2022 ... khususnya pada mekanisme manajemen risiko dalam rangka pembatasan jumlah pita cukai .... yang diajukan pengusaha pabrik," bunyi SE-10/BC/2022, dikutip pada Senin (5/12/2022).

Baca Juga: Apa Saja Jenis Keberatan Bidang Bea Cukai yang Bisa Diajukan Online?

Dalam rangka pelaksanaan manajemen risiko atas potensi terjadinya penyalahgunaan pita cukai oleh pengusaha pabrik, Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (KPUBC)/Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) dapat melakukan penetapan pengusaha pabrik yang akan dimasukkan dalam daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan permohonan penyediaan pita cukai (P3C) rokok awal dan MMEA awal.

Langkah itu dilakukan apabila pengusaha pabrik memenuhi beberapa kriteria. Kriteria tersebut yakni adanya sanksi administrasi atas pelanggaran Pasal 29 Ayat 2a UU Cukai dan/atau adanya rekomendasi tidak melayani P3C dan pemesanan pita cukai (CK1).

Dalam rangka pelaksanaan manajemen risiko atas potensi terjadinya penyalahgunaan pita cukai oleh pengusaha pabrik, direktur teknis dan fasilitas cukai, direktur penindakan dan penyidikan, serta dan kepala kanwil juga dapat menambahkan pengusaha pabrik yang akan dimasukkan dalam daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan untuk P3C rokok awal dan MMEA awal.

Baca Juga: Jatim Bakal Punya 4 Kawasan Industri Hasil Tembakau yang Baru

Selain adanya sanksi administrasi dan/atau rekomendasi, pembatasan untuk P3C dapat dilakukan seperti jika ada data temuan terkait dengan penggunaan pita cukai milik pengusaha pabrik oleh pengusaha pabrik yang lain atau sebaliknya.

Kemudian, pembatasan juga berlaku untuk pengusaha pabrik atau pegawainya pernah terbukti berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum yang sah melakukan tindak pidana terkait penyalahgunaan pita cukai sesuai pasal 58 UU Cukai, sedang dalam proses penelitian karena diduga melakukan pelanggaran penyalahgunaan pita cukai, atau sedang dalam proses penyidikan pelanggaran penyalahgunaan pita cukai.

Penggunaan jangka waktu diperlukan untuk menjadi pedoman dalam pengumpulan data yang akan digunakan sebagai dasar analisis kriteria yang akan digunakan kepada pengusaha pabrik yang berpotensi melakukan penyalahgunaan pita cukai.

Baca Juga: Tarif Cukai 2023 Naik, DJBC Gencarkan Penindakan Rokok Ilegal

Penggunaan kriteria dalam penetapan daftar pengusaha pabrik yang masuk sebagai daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan untuk P3C rokok awal atau MMEA awal pertama kali menggunakan pengukuran rekam jejak dalam kurun waktu 12 bulan sebelum tanggal penetapan.

Kriteria dalam evaluasi berkala 6 bulan oleh KPUBC/KPPBC dan evaluasi berdasarkan permohonan pengusaha pabrik menggunakan pengukuran rekam jejak dalam kurun waktu 12 bulan sebelum tanggal evaluasi.

Pengusaha pabrik yang masuk dalam daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan untuk P3C rokok awal atau MMEA awal ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan. Beberapa data yang dihimpun dari pemeriksaan lapangan di antaranya jumlah dan kondisi mesin produksi; jumlah dan kondisi alat pembuat barang kena cukai nonmesin; jumlah dan kondisi alat produksi lainnya; hasil uji petik produksi mesin dalam waktu tertentu; serta data penggajian karyawan bagian produksi minimal 3 bulan terakhir.

Baca Juga: Ekonomi Pulih, Permohonan Fasilitas Kepabeanan Diprediksi Makin Ramai

Dalam hal dari hasil penelitian ditemukan pengusaha pabrik tidak masuk dalam kriteria dan jangka waktu sudah terlewati, pengusaha pabrik tersebut akan dikeluarkan dari daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan untuk P3C rokok awal atau MMEA awal.

"Secara berkala dalam 6 bulan sekali, kepala KPUBC/KPPBC melakukan evaluasi terhadap daftar pengusaha pabrik yang akan dilakukan pembatasan untuk P3C HT awal atau P3C MMEA awal terhitung sejak tanggal penerbitan," bunyi SE tersebut. (sap)

Baca Juga: Apa yang Dilakukan Bea Cukai Terhadap Barang-Barang Ilegal?

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : cukai, bea cukai, cukai hasil tembakau, CHT, minuman mengandung alkohol, MMEA

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 26 Januari 2023 | 14:40 WIB
KONSULTASI PERPAJAKAN

Syarat dan Ketentuan Memperoleh NPPBKC, Apa Saja?

Kamis, 26 Januari 2023 | 14:15 WIB
KEBIJAKAN CUKAI

Tak Patuh Beritahukan BKC yang Selesai Dibuat, DJBC Ingatkan Sanksinya

Kamis, 26 Januari 2023 | 13:30 WIB
KEBIJAKAN KEPABEANAN

Beli Baju dari Luar Negeri Kena Pajak Tinggi, DJBC Ungkap Hitungannya

Kamis, 26 Januari 2023 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN CUKAI

PMK 161/2022 Berlaku Mulai 13 Februari, DJBC Ingatkan Pengusaha BKC

berita pilihan

Sabtu, 04 Februari 2023 | 15:00 WIB
KOTA BANDUNG

Inflasi Masih Tinggi, Bandung Pertimbangkan Relaksasi PBB

Sabtu, 04 Februari 2023 | 14:45 WIB
PP 4/2023

Simak Penjelasan Aturan Pengenaan Pajak atas Konsumsi Tenaga Listrik

Sabtu, 04 Februari 2023 | 14:00 WIB
KOTA MEDAN

Wah! Bos CV Ini Ditangkap karena Nekat Jualan Faktur Pajak Fiktif

Sabtu, 04 Februari 2023 | 13:30 WIB
PP 4/2023

Wah! Khusus Wajib Pajak Ini, Kewajiban Pajaknya Dibayar Pemerintah

Sabtu, 04 Februari 2023 | 13:00 WIB
PER-30/PJ/2009

Musim SPT Tahunan, Jangan Lupa Laporkan Harta Warisan Meski Bebas PPh

Sabtu, 04 Februari 2023 | 12:00 WIB
PP 55/2022

Begini Kriteria WP UMKM Bebas PPh Saat Terima Hibah atau Sumbangan

Sabtu, 04 Februari 2023 | 11:30 WIB
PER-02/PJ/2019

Pakai Jasa Konsultan Pajak, Lapor SPT Tahunan Hanya Bisa Elektronik

Sabtu, 04 Februari 2023 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Kriteria Jasa Angkutan Udara Dalam Negeri yang Dibebaskan dari PPN

Sabtu, 04 Februari 2023 | 10:30 WIB
SELEBRITAS

Petinju Daud 'Cino' Yordan Titip Pesan ke Wajib Pajak, Apa Isinya?

Sabtu, 04 Februari 2023 | 10:00 WIB
KP2KP KASONGAN

Giliran Kepala Sekolah Jadi Sasaran Sosialisasi Validasi NIK-NPWP